بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kemudian beliau hanya mengirimkan salam, seraya bersabda :“Sungguh menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi dan segala sesuatunya telah ditentukan di sisi Allah, maka hendaklah kamu sabar dan mohonlah pahala kepada Allah”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim salam dan menitipkan pesan kepada utusan yang datang kepada beliau dan ucapan Rasulullah:

“Sungguh menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi dan segala sesuatunya telah ditentukan di sisi Allah, maka hendaklah kamu sabar dan mohonlah pahala kepada Allah”.

Ucapan ini merupakan ucapan ta’siah dan bela sungkawa oleh karenanya jika ada saudara kita yang berduka maka disunnahkan untuk mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh Rasulullah diatas karena beliau sendiri yang mencontohkannya.  Dalam ucapan diatas mengapa Rasulullah mendahulukan mengambil dari pada memberi karena yang difahami  adalah memberi terlebih dahulu kemudian mengambil, jawabannya adalah karena ini berkenaan dengan cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dalam keadaan sekarat dan hampir meninggal walaupun pada waktu itu belum meninggal, barulah ia meninggal setelah kedatangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ucapan nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diatas berfungsi untuk meringankan beban orang yang berduka karena ia meringankan dirinya dan saudaranya bahwa semua yang dimiliki baik diri kita sendiri adalah milik Allah Subhanahu wata’ala.

Oleh karena itu didalam islam diharamkan bunuh diri karena semua jiwa milik Allah Subhanahu wata’ala, kapanpun dan dimanapun Allah mengambilnya jika ia berkehendak. Bagaimanapun besarnya cinta kita kepada sesuatu atau kepada seseorang sebagaimana kata Jibril ‘Alaihissalam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Jibril mendatangiku lalu berkata: “Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Kemudian dia berkata:” Wahai Muhammad! Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia”. (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no 4278, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa, al-Hakim dalam al-Mustadrak 7921 Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/483).

Semua jiwa yang hidup akan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga ayat yang terakhir diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)“. (QS. Al-Baqarah: 281).

kita dianjurkan dan disunnahkan untuk mengucapkan istirja ketika kita ditimpa musibah sebagian dari keluarga kita yang meninggal dunia dengan mengucapkan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Kita milik Allah semata dan sesungguhnya hanya kepada-Nya semata kita kembali”. (QS. Al-Baqarah: 156). “Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa”. (HR. Muslim).

Dan sebaik-baik ganti disisi Allah Subhanahu wata’ala adalah pahala dan pengampunan dosa serta dimasukkan ke dalam surga sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala dalam hadist Qudsi:

Tidak ada pahala yang saya siapkan untuk hamba – hambaku jika aku mencabut nyawa orang yang paling ia cintai kemudian bersabar melainkan surgalah tempat kembalinya”. Bahkan dibangunkan mahligai dan istana di surga yang disebut dengan:”Rumah pujian“, karena ia memuji Allah Subhanahu wata’ala dalam setiap kondisi dan keadaan apalagi ketika ia ditimpa musibah dan ujian dari Allah Subhanahu wata’ala, atau ketika sampai pada tingkatan yang tinggi yaitu Ridha dengan apa yang menimpanya dan bahkan pada tingkatan bersyukur kepada Allah dari musibah yang menimpanya, karena ia tahu bahwasanya dibalik musibah ada pahala besar yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Diantara amalan yang diamalkan oleh sebagian ulama kita untuk menghibur orang yang berduka yaitu:”Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan pahala yang besar dari musibah yang menimpamu dan meringankan kesedihan yang ada didalam hatimu dan semoga Allah mengampunkan dosa – dosa yang meninggal dari kaluargamu”, hal ini dibolehkan untuk diucapkan kepada saudara kita agar saudara kita terhibur dengan musibah yang menimpanya akan tetapi yang lebih utama adalah yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena sesuai dengan sunnah beliau.

Pernah suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat salah seorang sahabat yang setiap kali hadir dimajelis beliau dengan membawa anaknya sambil memangkunya, Rasulullah berkata kepadanya:”Engkau cinta kepada anakmu ini”, ia menjawab:”Semoga Allah cinta kepada anda Ya Rasulullah, sebagaimana saya cinta kepadanya”, seakan akan ia mengatakan cinta Allah kepadamu Ya Rasulullah, seperti cintaku kepada anakku. Namun selang beberapa majelis ia tidak hadir di majelis, ketika ia datang ke majelis Rasulullah ia tidak membawa anaknya dan ternyata anaknya telah meninggal, Rasulullah berkata kepadanya:”Dimana anakmu”, ia menjawab:”Meninggal Ya Rasulullah”, Rasulullah menghiburnya dengan berkata:”Tidakkah engkau ingin dihari kiamat nanti setiap kali engkau hendak ingin memasuki surga maka disana ada anakmu yang menyambutmu”, ia menjawab:”Tentu Ya Rasulullah”, jadi inilah balasan yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala bagi mereka yang ditimpa musibah dan ujian.

Maka dari itu persiapkan diri kita menyambut kematian yang pasti akan mendatangi kita. Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:”Sesungguhnya kematian itu lewat diantara kita untuk merenggut nyawa seseorang yang ada disekeliling kita, dan besok melewati orang lain untuk merenggut nyawa kita”.

Kematian adalah sebuah hakekat yang tidak bisa ditolak dan dihindari dan setelah itu kita berada dalam barsakh (Alam kubur) yang sangat lama apakah ia menjadi taman dari taman surga atau menjadi lembah dari lembah neraka ataukah kita ditidurkan sehingga tidak merasakan penantian yang sangat panjang akan datangnya hari kiamat atau sebagaimana firman Allah didalam Al-Qur’an terhadap keluarga fir’aun:

وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46

Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang , dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.(QS. Al Mu’min: 45-46).

Fir’aun telah disiksa dialam kubur. Oleh karenanya perbaiki diri kita jaga diri kita dari fitnah, bersabarlah diatas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala karena kesabaran hanya sebatas umur yang Allah Subahnahu wata’ala berikan kepada kita. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan malaikat maut mencabut nyawa kita, malaikat maut tidak takut kepada siapapun tidak pula memandang kulit, warna, kedudukan, pangkat, jabatan, kaya atau miskin. Segala sesuatu telah Allah tentukan ajalnya siapapun dia. Nasehat indah tentang kematian:

Berbekallah dengan ketakwaan karena engkau tidak tahu jika malam tiba apakah engkau masih bisa hidup sampai di pagi hari, betapa banyak pemuda yang tertawa dipagi dan sore hari sedangkan kain kafannya sudah disiapkan dan ia tidak menyadarinya, betapa banyak pengantin baru yang dirias untuk pasangannya sedangkan ruhnya telah dicabut pada malam yang telah ditentukan, betapa banyak anak kecil yang diharapkan masa depannya sedangkan jazadnya dimasukkan dalam gelapnya kubur, betapa banyak orang sehat mati tiba – tiba tanpa sebab, dan betapa banyak orang sakit berulang kali masuk rumah sakit namun sampai hari ini masih hidup bersama dengan kita”.

Wallahu A’lam Bish Showaab

Bersambung (Sabar dan Mengharap Pahala Sesi 3)



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 29 Muharram 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.