بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kemudian orang itu disuruhnya kembali, menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya meminta yang disertai dengan sumpah agar beliau berkenan hadir.

Dibolehkan bersumpah untuk meminta sesuatu dari saudara kita dan diantara akhlak yang mulia adalah mengabulkan sumpah saudara kita, misalkan saudara kita mengundang untuk  menghadiri jamuan makan lalu kita menjawab:”Mohon maaf saya tidak bisa”, kemudian ia bersumpah dengan berkata:”Demi Allah saya bersumpah mohon datang”, dalam kondisi yang seperti ini ia telah meminta dengan penuh kesungguhan maka diantara akhlak yang mulia adalah mengabulkan sumpah saudara kita apalagi jika ia telah berkata:”Demi Allah”. Para ulama membagi sumpah menjadi 2:

  1. Sumpah agar Allah tidak menetapkan sesuatu
  2. Sumpah untuk memerintahkan Allah dengan sesuatu

Adapun yang pertama dibolehkan dan yang kedua dilarang karena merupakan adab yang buruk kepada Allah Subhanahu wata’ala, seakan-akan ia memerintahkan Allah dan menjadikan dirinya lebih tinggi dari Allah Subhanahu wata’ala. Adapun jika muncul dari niat yang jujur sebagaimana kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Sesungguhnya ada diantara hamba – hamba Allah jika ia bersumpah atas nama Allah dikabulkan sumpahnya”. Kisah ini banyak terjadi dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dimana sumpahnya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Dibolehkan hal tersebut namun jangan membiasakan diri untuk sering atau banyak bersumpah karena ketika seseorang banyak melanggar sumpahnya maka ada kafarah yang harus ia bayarkan, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala sebutkan dalam Al-Qur’an:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)“. (QS. Al-Maidah :89). Namun hindari sumpah yang berlebihan karena itu adalah sesuatu yang bisa seseorang menjadikannya sebagai permainan dan hal ini tidak dibolehkan dalam agama kita.

Maka pergilah beliau beserta Sa’ad bin Ubadah, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan beberapa sahabat yang lain.

Sa’ad bin Ubadah adalah pemuka suku khasraj, beliau juga merupakan pasukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkenal dengan kekuatan dan keberaniannya, beliau ketika mengendarai kendaraan kakinya menyentuh tanah karena beliau memiliki perawakan yang tinggi dan kuat. Adapun Mu’adz bin Jabal beliau adalah sahabat yang dibangkitkan pada hari kiamat seperti selemparan batu dihadapan para ulama, beliau ditazkiah dan dipuji oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata:”Orang yang paling faham tentang yang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal“, bahkan beliau merupakan sahabat yang direkomendasikan untuk diambil bacaan Al-Qur’annya secara langsung.

Zaid bin Tsabit beliau adalah Qurra (penghafal Al-Qur’an) yang masyur dikalangan para ulama, Zaid bin Tsabit beliau adalah sahabat yang paling ahli dibidang ilmu faraid, ketika Rasulullah meninggal Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu paling banyak mendatangi rumah Zaid bin Tsabit, bahkan Ibnu Abbas tidak menunggu beliau dimajelisnya akan tetapi beliau menunggu Zaid bin Tsabit dirumahnya, beliau istrahat dengan dibentangkan selendangnya kemudian tidur sambil menunggu didepan pintu rumah Zaid bin Tsabit sampai Zaid bin Tsabit keluar. Ketika Zaid bin Tsabit keluar maka Ibnu Abbas melontarkan beberapa pertanyaan sepanjang perjalanan menuju ke masjid. Hal ini menunjukan bagaimana  kesungguhan Ibnu Abbas dalam menuntut ilmu. Perkataan yang masyur agar kita termotivasi untuk menuntut ilmu:

Jika engkau selalu beralasan dan merasa terganggu dengan panasnya matahari, keringnya musim kemarau, dinginnya musim dingin dan engkau terbuai dengan keindahan musim semi lalu kapan engkau menuntut ilmu”.  Kapan kita akan melungkan waktu untuk menuntut ilmu jika terlalu banyak alasan untuk diri kita. Jangan banyak memberi udzur dan alasan untuk hal – hal yang baik terhadap diri kita karena boleh jadi merupakan was-was dari syaithan yang menghalangi kita untuk mengerjakan kebaikan.

Zaid bin Tsabit melihat apa yang dilakukan oleh Ibnu Abbas beliau berkata kepadanya:”Andaikan engkau mengutus seseorang memanggilku kepadamu maka aku akan datang kepadamu”, Ibnu Abbas berkata:”Beginilah kita diperintahkan untuk memuliakan para ulama”, dan ketika Zaid bin Tsabit meninggal dunia, Abu Hurairah  berkata:”Barangsiapa ingin melihat ilmu dicabut maka lihatlah Zaid bin Tsabit namun semoga Allah menggantikannya dengan Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma”, Beginilah kebiasaan para penuntut ilmu mereka senantiasa selalu bermulazamah dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam begitu pula antara sahabat dengan sahabat yang lain.

Maka diberikan anak yang sakit itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan didudukkan di pangkuan beliau, sedangkan nafasnya tersengal-sengal, maka meneteslah air mata beliau

Ruh ketika dicabut diikuti oleh mata, makanya orang yang meninggal mata mereka melihat ke atas dan apabila telah meninggal disunnahkan untuk menutup matanya sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi kepada Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu ketika beliau meningal, melihat pemandangan tersebut bercucurlah air mata Rasulullah karena kasihan dan ini menunjukkan bolehnya kita bersedih dan menangis melihat orang yang berduka dan hal ini tidak termasuk bagian dari meratap.

Ada riwayat yang mengatakan:”Mayat itu disiksa karena tangisan keluarganya jika hal itu menjadi kebiasaannya”. Maksudnya ada seseorang yang belum meninggal dia telah berbuat riya terlebih dahulu yaitu meminta orang lain untuk memuji dirinya atau menangisi jazadnya pada saat dia meninggal dan bahkan ada sebuah negera atau suku yang melakukan hal tersebut, sebagaimana di jepang orang – orang kaya sengaja menyewa perempuan – perempuan untuk menangisi mayatnya ketika ia meninggal, perkataan yang masyur: “Tidak sama tangisan yang disewa dengan tangisan yang benar – benar kehilangan”.

Jika ia berpesan kepada keluarganya maka dengan tangisan keluarganya inilah ia mendapatkan azab di dalam kubur namun jika tangisan itu murni karena kehilangan dan berduka maka dibolehkan karena yang dilarang adalah menampar – nampar pipi, berteriak dengan teriakan jahiliyah sebagaimana yang disebutkan dalam hadist:

“Tidaklah termasuk golongan kami orang yang menampar pipi atau merobek-robek pakaian atau berteriak dengan teriakan Jahiliyah”. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Jana’iz 1294, Muslim dalam Al-Iman 103). Adapun sekedar menangis maka dibolehkan karena Rasulullah juga menangis.

Sa’ad bertanya :”Wahai Rasulullah, mengapa engkau meneteskan air mata ?”. Beliau menjawab :”Tetesan air mata adalah rahmat yang dikaruniakan Allah Ta’ala ke dalam hati hamba-hamba-Nya”.

Allah Subhanahu wata’ala menciptakan 100 rahmat, 99 disimpan untuk hari akhirat untuk diberikan kepada orang – orang yang beriman dan satu yang diturunkan didunia ini dan satu inilah yang dibagikan kepada seluruh makhluk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِيْ خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً. فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِيْ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْئَسْ مِنَ الْجَنَّةِ وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِيْ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah telah menciptakan seratus rahmat pada hari Dia menciptakannya. Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan rahmat, sedangkan yang satu rahmat Dia kirim (Dia berikan) untuk seluruh mahluk-Nya. Maka kalau sekiranya orang yang kafir itu mengetahui setiap rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya dia tidak akan pernah putus asa untuk memperoleh surga. Demikian juga kalau sekiranya orang mu’min itu mengetahui setiap azab yang ada di sisi Allah, niscaya dia tidak akan pernah merasa aman dari masuk ke dalam neraka”. (HR Bukhari (6469 dan ini adalah lafazhnya) dan Muslim (2752)).

Dalam hadist lain disebutkan bagaimana bentuk rahmat binatang kepada anaknya:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ وَأَنْزَلَ فِي اْلأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ تَتَرَاحَمُ الْخَلاَئِقُ حَتَّى تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيْبَهُ

Bahwasanya Abu Hurairah telah berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Allah telah menciptakan seratus bagian rahmat. Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan bagian, sedangkan yang satu bagian Dia turunkan ke bumi. Maka dari yang satu bagian itulah para mahluk saling berkasih sayang, sehingga seekor binatang mengangkat kakinya khawatir mengenai (menginjak) anaknya”.

Buaya yang ganas yang mampu mencabit – cabit mangsanya itu bisa menjadi tempat yang aman bagi anak – anaknya. Begitu pula dengan kucing yang memangsa tikus namun jika mulutnya ia gunakan untuk membawa anaknya, anaknya tidak terluka maka ini adalah bagian dari satu rahmat yang Allah turunkan dimuka bumi, lalu bagaimana dengan 99 rahmat yang disimpan untuk diberikan kepada orang – orang yang beriman dihari kiamat.

Maka dari itu jangan berputus asa dari rahmat Allah karena rahmat Allah sangat luas, perbanyak ibadah, jika berdosa bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala semoga Allah mematikan kita dengan keluasan rahmatnya.

Dalam riwayat lain disebutkan:“Ke dalam hati hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba- Nya yang mempunyai rasa sayang”.

 

Ada sebagian orang yang telah dicabut rahmat didalam hatinya seperti yang terjadi pada saudara – saudara kita dirohingya, suriah, palestina dan yang membantai mereka ketahuilah bahwa rahmat telah dicabut dari hati – hati mereka, dan kita melihat bagimana mereka memasuki rumah rumah kaum  muslimin lalu membantainya dan perbuatan ini lebih hina dari pada dizaman jahiliyah. Sebagaimana kita ketahui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam rumah beliau bernah dikepung oleh pebesar – pembesar Quraisy dan pasukannya. Dalam keadaan yang seperti ini Rasulullah kemudian membaca firman Allah yang tedapat dalam surah Yasin sambil menaburkan pasir diatas kepala mereka sehingga mereka semua tertidur dan tidak melihat dan merasakan Rasulullah pergi meninggalkan mereka, yang jadi pertanyaan mengapa mereka Quraisy pada waktu mengepung rumah Rasulullah mereka tidak langsung masuk untuk membantai Rasulullah, karena dizaman tersebut perbuatan yang seperti ini adalah perbuatan yang sangat memalukan jika langsung masuk kerumah Rasulullah, jadi apa yang kita lihat sekarang lebih jahiliyyah dari pada orang jahiliyah, lebih buas dari pada binatang buas.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik“. (QS. Al-A’raf: 56).

Qaidah:

Balasan sesuai dengan amalan, perkataan:”Jangan pernah bosan menanam kebaikan anda akan menuainya“, perbanyak kebaikan didunia dan kita akan menuainya diakhirat, barangsiapa yang ingin dimaafkan oleh Allah maka milikilah sifat pemaaf dengan memaafkan saudara – saudara kita lupakan kesalahan mereka agar dosa – dosa diampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala, jika ingin urusan kita dimudahkan maka mudahkan urusan saudara kita, kita ingin aib – aib kita ditutupi oleh Allah tutupi aib saudara – saudara kita jangan cemarkan kehormatan mereka.

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ

“Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya”. (HR. Al-Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jum’at, 30 Muharram 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

 

 

ali bin abul ‘ash, usamah bin zaid, zaid bin haritsah, keutamaan usamah bin zaid, keutamaan zaid bin haritsah, zainab bintu muhammad, sepeninggalnya cucu muhammad, kisah, pembahasan kitab riyadhussolihin, kitab riyadhussholihin bab sabar, kitab riyadhusshalihin bab sabar hadist 29, syarah hadist 29 kitab riyadhusshalihin, pengajian mim, markaz imam malik, ustadz harman tajang, keutamaan sabar, mengharap pahala, memohon pahala yang besar, kisah, sirah, cucu rasulullah, nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, abul ‘ash, kajian kitab, pengajian kitab,

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.