Dari Abu Said Al Khudri Saad bin Malik bin Sinan bahwa ada beberapa orang anshar yang minta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Nabi pun memberi kepada mereka, kemudian mereka minta lagi lalu Rasulullah memberi lagi sampai habislah apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,lalu beliau bersabda kepada orang – orang anshar setelah beliau menginfakkan semua apa yang ada ditangannya beliau berkata:”Tidak ada harta yang aku miliki yang aku sembunyikan dari kalian, siapa yang menjaga kehormatannya maka Allah akan menjaga kehormatannya dan siapa yang merasa cukup maka Allah akan cukupkan ia dan siapa yang berusaha sabar maka Allah akan sabarkan ia dan tidaklah seseorang diberikan pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Faedah Hadist:

Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada mereka (Kaum Anshar) yang lebih baik dari apa yang mereka minta walaupun meminta sesuatu yang dibolehkan dan jika berlebihan akan menjadi sesuatu yang tercela. Apalagi ketika ia minta hanya untuk menumpuk dari apa yang diberikan kepadanya. Nabi kemudian mengingatkan mereka dengan berkata:”Siapa yang menjaga kehormatannya maka Allah akan menjaga kehormatannya”, yang dengannya Allah Subhanahu wata’ala akan menjadikan ia sebagai orang yang mulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu”. (HR Ibnu Majah, tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Jibril ‘Alaihissalam memberi nasehat tentang kezuhudan kepaa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Jibril mendatangiku lalu berkata:“Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya”. Kemudian dia berkata:”Wahai Muhammad! Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia”. (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no 4278, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa, al-Hakim dalam al-Mustadrak 7921 Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/483) 

Ketika seorang hamba mampu berlepas diri dari manusia dan tidak selalu meminta – minta kepada orang lain, walaupun ini dibolehkan dalam kondisi tertentu karena islam adalah agama taawun, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ……

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya“. (QS. Al-Maidah : 02)

Akan tetapi barangsiapa yang menjaga kehormatannya dan dia mampu bersabar maka itulah yang terbaik, oleh karenanya didalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada kita untuk mengeluarkan zakat dan sedekah untuk orang – orang miskin. Miskin terbagi menjadi 2:

Allah berfirman didalam Al-Qur’an:

لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (QS. Al-Ma’arij: 25). Ia tidak mau meminta karena dihalangi oleh Al iffah dan rasa malu dan barangsiapa yang memiliki sifat seperti ini kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.“Boleh jadi ia sangat butuh”,

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui“. (QS. Al-Baqarah: 273). Ketika diberikan sesuatu kepada mereka terkadang mereka menolak sehingga kita mengira bahwa ia adalah orang yang berkecukupan dan kaya, padahal kita bisa melihat sifat – sifat mereka pada pakaian, kondisi dan keadaannya maka orang yang seperti ini harus dibantu dan tidak perlu ditawarkan atau menunggu ia meminta dan jika perlu bantu ia tanpa ia mengetahuinya, misalkan ketika ia berhutang dengan seseorang maka bayarkan utangnya tanpa perlu ia tahu siapa yang membayarkannya, jadikan sebagai sedekah rahasia dijalan Allah Subhanahu wata’ala ”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb [Allah] tabaroka wa ta’ala”. (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532]).

Dalam Hadist yang lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya”. (QS. Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” (Hadis riwayat Bukhari Muslim).

Siapa yang Merasa Cukup Maka Allah Akan Cukupkan Ia

Walaupun seseorang memiliki dunia beserta isinya ia akan selalu merasa kurang dan miskin. Akan tetapi walaupun ia serba kekurangan dan hidupnya pas – pasan kemudian ia selalu bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepadanya maka ia termasuk orang kaya, inilah sifat yang sangat berat namun inilah alamat kebahagiaan sebagaimana Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata tentang 4 ciri ketakwaan:

الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ وَاْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ وَالرِّضَا بِالْقَلِيْلِ

“Takut kepada Allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang termuat dalam at tanzil (Al-Qur’an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit)”. (Ali bin Abi Thalib ra, dikutib dari buku Ahlur Rahmah, karangan Syekh Thaha Abdullan al Afifi)

Siapa yang Berusaha Sabar Maka Allah Akan Sabarkan Ia

Siapa yang melatih dirinya dengan kesabaran maka ia akan diberi sifat kesabaran oleh Allah Subhanahu wata’ala, hal ini menunjukkan bahwa kesabaran perlu untuk dilatih, sifat iffah, qana’ah dan semua kebaikan yang kita lakukan yang sifatnya berat, Kesabaran sangat dibutuhkan pada saat ujian pertama kali terjadi atau awal terjadinya musibah dan ujian karena inilah kesabaran yang akan mendatangkan pahala yang besar. Ulama kita menyebutkan Al Imam Al A’masy Rahimahullah atau salah seorang ulama yang lain yang selama 20 tahun bahkan ada yang sampai 40 tahun tidak pernah ia tertinggal untuk takbiratul ihram dalam sholat bersama dengan imam, ulama kita mengatakan ini kebiasan yang ia lakukan sejak ia kecil, bukan sesuatu yang datang begitu saja melainkan butuh pengorbanan dan kesabaran, ulama kita pernah berkata:”Saya merasakan keletihan dalam sholatku selama 20 tahun namun setelah itu saya merasakan kelezatannya”.

Tidak ada pemberian yang Allah berikan kepada hambanya yang lebih baik dan yang lebih luas dari sifat kesabaran, karena kesabaran melahirkan sifat – sifat mulia yang lain. Bersedekah membutuhkan kesabaran, berjihad membutuhkan kesabaran, berbuat baik kepada kedua orang tua membutuhkan kesabaran, hadir di majelis ilmu membutuhkan kesabaran, mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan membutuhkan kesabaran, menutup aurat bagi wanita membutuhkan kesabaran, menunaikan sholat membutuhkan kesabaran sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:”Tidak ada nikmat yang besar dan yang paling baik yang Allah berikan kepada hambanya  melebihi nikmat kesabaran”,

Bersambung (Sabar dan Keutamaannya (Sesi 12)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis 14 Muharram 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.