Dari Abu Said Al Khudri Saad bin Malik bin Sinan bahwa ada beberapa orang anshar yang minta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Nabi pun memberi kepada mereka, kemudian mereka minta lagi lalu Rasulullah memberi lagi sampai habislah apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,lalu beliau bersabda kepada orang – orang anshar setelah beliau menginfakkan semua apa yang ada ditangannya beliau berkata:”Tidak ada harta yang aku miliki yang aku sembunyikan dari kalian, siapa yang menjaga kehormatannya maka Allah akan menjaga kehormatannya dan siapa yang merasa cukup maka Allah akan cukupkan ia dan siapa yang berusaha sabar maka Allah akan sabarkan ia dan tidaklah seseorang diberikan pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Faedah Hadist:

Ada beberapa orang anshar yang minta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Jika disebut anshar maka ia berada diantara Aus dan Khasraj, mereka adalah sahabat- sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menolong dan menerima Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama dengan para muhajirin, Kaum muhajirin adalah sahabat yang hijrah dari kota makkah ke kota madinah untuk menyelamatkan agama mereka adapun kaum anshar adalah sahabat yang tinggal dikota madinah yang menerima hijrah kaum muhajirin.

Kaum anshar adalah orang – orang yang tinggal disebuah negeri  yang penuh dengan keimanan (kota madinah), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الإِيْماَنَ لَيَأْزِرُ إِلَى الْمَدِيْنَةِ كَمَا تأْزِرُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

Sesungguhnya iman akan kembali ke kota Madinah sebagaimana ular kembali kelubang atau sarangnya“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kota madinah sebelumnya bernama Yasrib diubah oleh Nabi bernama thaibah atau thabah (yang baik dan mulia) sifat mereka yaitu cinta kepada orang – orang yang hijrah kepada mereka dan apa yang mereka berikan untuk saudara – saudaranya mereka tidak mengharapkan apa-apa  maupun ucapan terima kasih apatahlagi balas jasa, bahkan lebih dari itu mereka lebih mengutamakan saudara – saudara mereka walaupun mereka sangat membutuhkannya, ini sifat yang sangat mulia dari mereka dan inilah puncak pengorbanan didalam berukhuwah yang disebut dengan Al Ishar (mendahulukan saudaranya dari pada dirinya sendiri walaupun ia sangat membutuhkannya) ini dalam hal urusan dunia, adapun urusan akhirat tidak ada Ishar melainkan harus berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika dalam urusan dunia kita saling mempersilahkan maka dalam urusan akhirat kita saling mendahului atau berlomba.

Kata Al Hasan:”Jika engkau melihat orang yang hendak menyaingimu dalam urusan dunia maka campakkanlah dunia itu diatas tengkuk – tengkuk mereka”, dunia ini hina bagi kita untuk saling memperebutkannya,Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir”. (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’).

Adapun dalam urusan akhirat Allah Subhanahu wata’ala berfirman;

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Berlomba-lombalah dalam kebaikan”. (QS. Al Baqarah: 148).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi contoh sebagaimana yang disebutkan dalam hadist:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkan shaf tersebut kecuali dengan undian, sungguh mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya”. (HR. Bukhari 580). Karena sholat merupakan urusan akhirat. Jadi Allah memerintahkan kepada kita untuk berlomba – lomba dalam urusan akhirat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”. (QS. Al Muthaffifin: 26)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat sahabat yang selalu terlambat dan berada di shaff terakhir beliau kemudian berkata:”Sebagian orang ada yang senantiasa terlambat berada di shaff terakhir sampai Allah Subhanahu wata’ala mengakhirkan mereka untuk mendapatkan kebaikan dan rahmat dari Allah“.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di suatu majelis dan melihat salah seorang  sahabat langsung duduk didepan majelis beliau, kemudian datang sahabat yang kedua duduk dibelakang majelis beliau dengan malu – malu dan sahabat yang ketiga mereka lewat begitu saja tidak singgah mengambil keutamaan dari majelis tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata:”Adapun yang pertama ia menghadap kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Allah pun membalas dengan menghadap kepada hamba tersebut, adapun yang kedua dia malu- malu dan Allah pun malu darinya adapun yang ketiga ia berpaling dan Allah pun berpaling darinya”. 

Oleh karenanya mari kita saling berlomba dalam urusan akhirat karena inilah yang menjadi inti dan tempat akhir kita setelah kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala , Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa“. (QS. Qashas : 83). Jadi beginilah sifat sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan anshar mereka adalah orang – orang yang disifatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala:

Nabi Pun Memberi Kepada Mereka

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam baru kembali dari peperangan dengan membawa ghanimah dan tawanan lalu Fathimah datang dan meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diberi seorang pembantu karena tangan beliau telah kasar untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya dan ketika Fatimah meminta hal tersebut beliau tidak berada dirumah dan disampaikanlah oleh Istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada beliau, Nabi kemudian mendatangi Fathimah dan Ali Radhiyallahu ‘anhum yang mana keduanya pada saat itu lagi istrihat dan berbaring, Nabi kemudian mengajarkan kepada Fathimah sesuatu yang lebih baik dari apa yang beliau minta, beliau mengajarkan agar sebelum tidur membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulilah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali. Rasulullah mengatakan:”Jika engkau melakukannya itu lebih baik dari pada pembantu yang engkau minta”. Beginilah cara Rasulullah mendidik keluarganya pada urusan akhirat dan ini dijadikan dalil sebagian ulama kita bahwasanya bagi ibu – ibu dirumah atau ingin mendapatkan kekuatan dalam beraktifitas maka amalkan dzikir ini sebelum tidur maka akan diberi kekuatan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan akan diberikan kecekatan dan kebugaran keesokan harinya dalam beraktifitas, karena sifat dzikir memberi kekuatan sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah setelah selesai beliau sholat subuh beliau berdzikir sampai terbit matahari, ketika beliau ditanya beliau mengatakan:”Ini adalah sarapanku, jika aku tidak melakukan ini kekuatanku melemah”,

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah diminta sesuatu melainkan beliau memberikan kepada mereka namun mereka telah diberi namun masih mereka meminta dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beginilah tabiat manusia mereka tidak pernah puas dengan sesuatu yang telah mereka dapatkan, sampai habislah apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan pernah suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah hampir takbir untuk mengerjakan sholat tiba-tiba beliau mengurungkan takbirnya sambil tergesa – gesa masuk ke dalam kamarnya,  para sahabat mereka menunggu begitu lama, setelah itu beliau kembali kemudian takbir memimpin sholat, setelah sholat beliau kemudian menyampaikan kepada para sahabat dengan berkata:”Ketika saya hendak takbir saya mengingat ada sedekah yang tertinggal dirumah yang mendesak untuk segera diberikan kepada pemiliknya”, beliau masuk ke dalam rumahnya dan memberikan kepada yang berhak karena keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diharamkan sedekah adapun hadiah dibolehkan bagi beliau dan keluarganya dan ini pulalah yang pernah membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam begadang sepanjang malam (tidak bisa tidur) karena ketika beliau pulang ke rumah ada kurma yang beliau dapatkan kemudian beliau makan dan belum mengetahui status status dari kurma yang terlanjur beliau makan apakah sifatnya sedekah atau hadiah karena untuk beliau dan keluarganya tidak menerima sedekah dan menerima hadiah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda Kepada Orang – Orang Anshar Setelah Beliau Menginfakkan Semua Apa yang Ada Ditangannya Beliau Berkata:”Tidak Ada Harta yang Aku Miliki yang Aku Sembunyikan Dari Kalian

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyisakan untuk dirinya dan inipun menjadi kebiasaan keluarga beliau bahkan sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dimana ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah mendapatkan hadiah dari Muawiyah Radhiyallahu ‘anhu berupa harta yang banyak dan ‘Aisyah dalam keadaan berpuasa pada waktu itu,  beliau kemudian memerintahkan pembantunya untuk membagikan kepada orang – orang fakir dan miskin yang ada di kota madinah, setelah semua harta tersebut habis dibagikan dan ketika telah masuk waktu berbuka tidak ada yang bisa dihidangkan, pembantunya kemudian mengatakan:”Wahai istri Rasulullah andaikan kita menyisakan sedikit saja untuk berbuka”, ‘Aisyah berkata:”Andaikan engkau mengatakan tadi saya akan melakukannya”. Beliau lupa karena telah menjadi kebiasaan beliau dan begitulah beliau ditarbiyah dan dididik oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam). Jadi beliau berkata:”Tidak Ada Harta yang Aku Miliki yang Aku Sembunyikan Dari Kalian“, menunjukkan semua yang ada pada beliau telah beliau berikan kepada mereka.

Sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau tidak tamak dan rakus dalam urusan dunia bahkan beliau pernah diberi tawaran oleh Allah Subhanahu wata’ala yaitu memilih menjadi penguasa, raja dan sekaligus rasul (Nabi Daud, Nabi Sulaiman telah mendapatkannya) atau menjadi hamba biasa dan sekaligus rasul namun di istimewakan dengan Ar Risalah, ketika pilihan ini diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Jibril memberikan isyarat dengan menurunkan sayapnya seakan akan beliau mengatakan pililah sifat tawadhu dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memilih menjadi hamba biasa dan sekaligus rasul.

Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwasanya, ketika Nabi diberikan pilihan beliau mengingat banyak diantara ummatnya yang fakir dan miskin. Olehnya ketika kita miskin dan kekurangan maka ingatlah sesungguhnya penghulu para Nabi yaitu Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam kekasih Allah Subhanahu wata’ala adalah orang yang kadang sehari kenyang dan sehari lapar, dan beliau sendiri pernah mengatakan:”Allah menawarkan kepadaku untuk menjadikan sebuah lembah dimakkah untukku diberikan emas seluas itu namun saya mengatakan:”Tidak Ya Rabb, biarlah saya kenyang sehari dan lapar sehari  jika saya kenyang saya bersyukur kepadamu dan jika saya lapar saya tadarru, meminta, berbelas kasih darimu”, dan hal ini menunjukkan bolehnya kita memberikan keluhan kepada Allah dan hal ini tidak mengapa sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bersambung (Sabar Lebih Baik Dari Pada Pemberian (Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu 13 Muharram 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.