Dalam Al-Qur’an kita dapati terdapat  banyak ayat yang memerintahkan kita untuk bertaqwa kepada Allah Subhanahu wata’ala bahkan dalam setiap khutbah yang selalu disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau memulai dengan ayat – ayat yang didalamnya terdapat pesan untuk bertaqwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana dalam firmannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran:102).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.(QS. An nisa’: 1).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu  dan barangsiapa menaati Allah dan rasulNya maka sungguh dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al ahzab: 70-71).

Ketaqwaan adalah wasiat Allah Subhanahu wata’ala kepada ummat – ummat terdahulu dan kepada kita sebagai ummat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala :

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji”. (QS. An Nisa :131).

Semua manusia yang hidup didunia ini memiliki banyak masalah, letih dan semisalnya bahkan sampai dihari kemudian. Pada saat kita menginjakkan kaki disurga barulah semua masalah itu dihapuskan oleh Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana nasehat Imam Ahmad Rahimahullah:

سئل الإمام أحمد بن حنبل : متى الراحة يا إمام ؟ فأجاب : عند أول قدم تضعها في الجنة 

Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah pernah ditanya: “Wahai imam, kapankah waktu istirahat itu?” Beliau jawab: “(istirahat yg sesungguhnya ialah) pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita tips dan solusi agar masalah yang kita hadapi  segera terselesaikan dan mendapatkan jalan keluar. Allah menyebutkan solusi dan jalan keluar tersebut dalam surah At Talaq, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya”.(QS. At Talaq Ayat : 2).

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu“. (QS. At Talaq Ayat : 3).

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya“. (QS. At Talaq Ayat : 4).

ذَلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepadamu, barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya”. (QS. At Talaq Ayat : 5).

Pada Surah yang lain Allah menyebutkan keutamaan taqwa, Allah Ta’ala berfirman:

يِا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إَن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, Dia akan memberikan kepadamu furqan (pembeda).” (QS. Al-Anfal: 29).

Furqan (Petunjuk dari Allah agar kita mampu membedakan antara yang baik dan buruk, agar kita mampu membedakan jalan menuju surga dan jalan menuju neraka) yang dengannya Allah akan menuntun kehidupan kita didunia ini sampai kita berjumpa dan Allah ridha kepada kita.

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, Berkata :

عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّهَا هِيَ الَّتِي لاَ يُقْبَلُ غَيْرُهَا وَلاَ يُرْحَمُ إِلاَّ أَهْلُهَا، وَلاَ يُثَابُ إِلاَّ عَلَيْهَا، وَإِنَّ الْوَاعِظِيْنَِ بِهَا كَثِيْرٌ، وَالْعَامِلِيْنَ بِهَا قَلِيْلٌ

Hendaknya engkau bertaqwa kepada Allah, sesungguhnya tidak akan diterima selain taqwa, dan tidak akan diberi rahmat Allah kecuali orang bertaqwa, dan tidak diberi pahala kecuali taqwa, sesungguhnya orang yang memberi nasehat tentang ketaqwaan amat banyak, sedangkan orang yang mengamalkannya sedikit.”

Ketaqwaan yaitu ketika seorang hamba menjadikan antara dirinya dengan azab Allah Subahnahu wata’ala tameng (perisai) dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana Thalaq bin Habib Rahimahullah,  berkata:

التَّقْوَى عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ رَحْمَةِ اللهِ، وَالتَّقْوَى تَرْكُ مَعْصِيَةِ اللهِ، عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ، خِيْفَةَ عِقَابِ اللهِ

Taqwa itu adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya petunjuk dari Allah dalam rangka mengharap rahmat Allah. Dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya petunjuk dari Allah karena takut terhadap hukuman dari Allah.(Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd 1343).

Ketaqwaan ketika kita berjalan dimuka bumi ini yang penuh dengan ujian, onak dan duri kita berhati –hati menjaga diri kita dari perkara – perkara yang haram bahkan perkara – perkara yang samar – samar (Subhat) sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Dari An Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ

Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.(HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599).

Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah sampai menyebutkan puncak ketaqwaan seorang hamba:

Mengisyaratkan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi keharaman, juga meninggalkan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya, -pen), itu semua tergantung pada baiknya hati”. (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 210).

Orang yang bertaqwa kepada Allah akan mendapatkan kemenangan dihari kemudian dengan balasan surga dan segala fasilitas yang ada dalam surga. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا (٣١) حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا (٣٢) وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا   (٣٣) وَكَأْسًا دِهَاقًا (٣٤) لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلا كِذَّابًا (٣٥) جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا (٣٦

Sungguh, orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis montok yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di sana mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia maupun perkataan dusta. Sebagai pembalasan dan pemberian yang cukup banyak dari Tuhanmu”. (QS. An Naba : 31-36).

Dalam ayat yang lain Allah memuliakan orang yang bertaqwa, dengan didekatkan surga kepadanya sebagaimana dalam Firman Allah Azza Wajalla:

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ

Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka).” (QS. Qaf: 31)

Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan surga kepada hambanya meskipun ia hanya mengetahui dan mendengarkan melalui Firman Allah, majelis ilmu, Al-Qur’an, para Nabi dan Rasul, dimana setiap kita mengetahui balasan dari setiap apa yang kita kerjakan baik yang mendatangkan kebaikan maupun dosa, belum kita dapatkan didunia tetapi telah dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan sebagian manusia beriman kepadanya dan kita termasuk didalamnya namun sebagian menyombongkan diri dan tidak mendengarkan perintah Allah nanti di hari kiamat dikatakan kepada orang – orang yang bertaqwa. Sebagaimana dalam potongan ayat dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

هَذَا مَا تُوعَدُونَ

“(Kepada mereka dikatakan), “Inilah nikmat yang dijanjikan kepadamu”. (QS. Qaf : 32).

Diantara ciri mereka yang didekatkan surga kepadanya Adalah:

  1. Orang yang kembali kepada Allah setelah melakukan dosa

Mereka kembali kepada Allah setelah digelincirkan oleh syaithan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133).

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran : 135).

Orang yang bertaqwa bukan seseorang yang tidak pernah melakukan dosa akan tetapi orang yang bertaqwa adalah mereka yang apabila terjatuh ke dalam dosa dan  maksiat ia segera ingat kepada Allah  dan kembali kepada Allah sebesar apapun dosa yang ia lakukan. Terkadang syaithan membisikkan dalam hati kita untuk berputus asa dari rahmat Allah Subahanahu wata’ala, syaithan akan mengatakan” engkau telah terlanjur melakukan dosa yang begitu banyak tidak mungkin dosa – dosamu akan diampunkan oleh Allah selagi engkau masih hidup, puaskan hidupmu sebelum engkau mati. ini adalah was – was syaitan yang di jawab oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Bahkan dalam hadist Qudsi Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Dari Anas Radhiyallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan “.(HR. Tirmidzi dan ia berkata : Haditsnya Hasan Shahih).

Jangan pernah tertipu dengan kesehatan dan masa muda kita karena kematian senangtiasa mengintai kita, bertobatlah dari sekarang perbaharui diri kita dan perbaharui sisa umur yang Allah masih berikan kepada kita dengan kebaikan dan amalan sholeh.

  1. Yang senangtiasa menjaga batasan – batasan Allah Subhanahu wata’ala

Yang berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah Subhanahu wata’ala

  1. Yang takut kepada Allah pada saat ia bersendirian (Tidak ada yang melihatnya)

Hal ini marupakan ketaqwaan yang tinggi kepada Allah Subhanahu wata’ala tatkala tidak ada yang melihatnya baik ia berada ditengah manusia apatah lagi tatkala ia bersendirian dirumahnya. Orang yang takut kepada Allah tatkala bersendirian mereka akan mendapatkan ampunan Allah dan pahala yang sangat besar  disisi Allah Azza Wajalla. Dalam sebuah hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا »

Dari Tsauban, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, coba sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Ibnu Majah membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingat Dosa”.

ketika engkau bersendirian dalam kegelapan malam kamudian jiwamu mengajak engkau untuk melakukan kemaksiatan katakan kepada jiwamu sesungguhnya yang menciptakan malam melihat apa yang kita lakukan“.

  1. Mereka yang datang pada Allah dihari kiamat dalam keadaan kembali kepadanya.

Sebagaimana doa Nabi Ibrahim Alaihissalam yang diabadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih(QS. Asy Syu’ara’: 87-89).

Hati yang selamat yang senangtiasa rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala, hati yang rindu dengan kampung akhirat, hati yang senantiasa tunduk dan patuh pada perintah Allah Subhanahu wata’ala dan menjauhi segala larangan – larangan Allah azza wajalla. 

Ketika 4 sifat ini kita amalkan akan dikatakan kepada kita diakhir ayat:

ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (٣٤) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (٣٥

“Masuklah ke (dalam surga) dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi.” Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya. (QS. Qaf : 34 – 35).

Wallahu A’lam Bish Showab



Oleh: Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik).

@Jumat, 09 Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCIGoaFDkENVOY187i92iRqA

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

Tumblr : https://www.tumblr.com/blog/markaz-imam-malik

ID LINE : mim.or.id

PIN BBM : D23784F8

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.