بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (QS. An Nisaa: 128).

Syaikh Umar Al Muqbil Hafidzahullah mengatakan bahwasanya asal dari qai’dah ini adalah merupakan potongan dari surah an nisa 128, jika ada seorang wanita yang mengkhawatirkan dari suaminya yang mana suaminya akan berpaling darinya disebabkan karena satu dan lain hal seperti terjadi masalah diantara mereka dan suaminya berkehendak dan berpaling darinya, apatahlagi ia berkeinginan untuk mengakhiri bahtera rumah tangganya untuk berpisah dengannya maka tidak ada keburukan bagi mereka ketika berusaha untuk melakukan perdamaian karena perdamaian itu lebih baik, dan sesungguhnya jiwa  manusia sifat dan tabiatnya adalah kekikiran dan jika kalian berbuat baik dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, Sesunguhnya Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang kalian lakukan.

Kehidupan rumah tangga tidak selamanya penuh dengan bunga – bunga atau berjalan terus dengan romantic, membina rumah tangga tak semudah yang dibayangkan dan tak sesulit yang ditakutkan, tak satupun manusia yang terlepas dari kekurangan akan tetapi baik suami atau istri hendaknya berusaha untuk memegang ikatan yang kokoh yang kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :”Kalian telah mengambilnya dengan nama Allah Subhanahu wata’ala”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا ١٩

“Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisa: 19).

Kata para ulama:”Senantiasa kita mengingat sisi positifnya dan jangan membesarkan sisi negatifnya”.

Kisah ini ditulis dalam Kitab Nurul Abshar ditulis As Syablanji Al Mishri dan Kitab Al Minhaj yang ditulis Hasyiyah Al Bijraini. Pada suatu ketika datang seorang lak-laki yang ingin meminta nasihat kepada Umar tentang perilaku istrinya yang cerewet dan suka marah-marah.

Namun sebelum sampai mengetuk pintu, pria tersebut justru mendengar istri Umar yang sedang memberikan omelan dan tidak berhenti bicara tersebut. Namun Ia sangat terkejut dengan tindakan Umar yang justru tidak membalas marah seperti yang dilakukan suami kebanyakan. Umar hanya menjawab satu dua patah kata dengan nada yang lembut dan tetap mendengarkan omelan istrinya.

Pria yang merasa salah sasaran curhat ini kemudian ingin meninggalkan rumah Umar. Namun sebelum jauh meninggalkan rumah, Umar yang sudah selesai mendengar istrinya marah-marah keluar dan memanggilnya.
‘Saudaraku, sepertinya engkau sedang perlu denganku?’

‘Iya, saya hendak mengadukan tentang istriku yang cerewet dan marah marah kepadaku, ternyata istrimu juga memarahi engkau, maka apa gunanya aku mengadu padamu, wahai Umar’.

Umar pun lalu memberikan nasihat kepada pria tersebut. Nasihat tersebut luar biasa bijak dan menjadi bahan renungan untuk suami masa kini.

‘Ada empat alasan yang membuat aku sabar dan lembut menghadapi istriku, pertama, dialah yang memasak makananku, kedua, dialah yang membuat, mengadoni dan memasakkan rotiku,  ketiga, dialah yang mencucikan pakaianku, alasan keempat, dialah yang menyusui anak anakku’.

Ingatlah sisi kebaikan pasangan kita begitupula dengan sang istri kepada suaminya jangan hanya mengingat hal-hal yang negative, jangan sampai ada yang menyesali apa yang telah terjadi kemudian berkata:”Saya sudah setengah hari mengumpulkan harta untuk mempersiapkan uang nikah namun hasilnya hanya seperti ini yang saya dapatkan”, jangan pernah ada yang mengatakan penyesalan yang seperti ini atau bentuk penyesalan yang lain.

Al-Qur’an menganjurkan agar Al Islah karena rumah tangga tidak mesti dibangun selamanya diatas cinta dan Mawaddah  tapi terkadang dibangun diatas Ar Rahmah

Saudah bintu Zam’ah bin Qois Radhiyallahu ‘anha istri kedua Rasulullah setelah khadijah meninggal, diakhir kehidupan Rasulullah dan Saudah bintu Zam’ah sudah semakin tua, Rasulullah khawatir jangan sampai berbuat dzalim kepadanya sehingga Rasulullah kemudian berniat untuk menceraikan Saudah bintu Zam’ah, kata Saudah bintu Zam’ah:”Ya Rasulullah biarlah saya mengalah dari giliran saya, saya berikan kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang penting jangan ceraikan saya”, mengapa Saudah bintu Zam’ah berkata demikian karena beliau ingin menjadi istri Rasulullah didunia dan diakhirat karena jika diceraikan maka tidak akan menjadi istrinya diakhirat, karena seorang wanita yang menikah dengan suaminya didunia kemudian dia bercerai dan menikah dengan lelaki lain maka ia akan dipertemukan dengan suaminya yang terakhir. Jadi ini contoh yang dilakukan oleh Saudah untuk kemaslahatan yang lebih besar.

Ketika Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia istrinya tidak menikah setelahnya walaupun hal ini bukan sesuatu yang harus demikian akan tetapi  menunjukkan kesetiaan, Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu berpesan kepada istrinya:”Jika engkau ingin menjadi istriku di surga nanti jangan engkau menikah setelah aku meninggal dunia”, dan akhirnya istrinya tidak menikah setelah Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia karena dia sangat cinta kepada suaminya dan ingin bersamanya disurga nanti.

Dan yang namanya masalah terkadang memang menjadikan fikiran seseorang itu menjadi pendek oleh karenanya mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kita Qai’dah secara umum bahwasanya ketika seseorang itu marah maka dia berdiri, duduk, berbaring atau pergi berwuduh dan yang terbaik adalah menjaga lisan dengan baik.

Oleh karenanya perlu untuk mengetahui bahwa dalam bahtera rumah tangga kadang terjadi masalah antara suami istri dan setiap masalah ada jalan keluar yang terbaik yang harus ditempuh sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tidak kemudian menjadikan masalah tersebut sebagai akhir dari jalinan rumah tangga tanpa syar’i karena bisa jadi setelah terjadi perceraian maka akan timbul fitnah dan mudharat yang lebih besar, maka dari itu hendaklah suami istri jika terjadi masalah melakukan Ishlah (perbaikan) dan perdamaian karena Allah Subhanahu wata’ala mengatakan perdamaian itu lebih baik.

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 28 Rajab 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.