mim.or.id – Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah di lisan, melainkan kesadaran mendalam bahwa seluruh kehidupan ini berada dalam genggaman Allah dan syukur yang akan menuntun jiwa kembali kepada Allah
Ketika seseorang bersyukur, ia sedang mengakui keterbatasan diri dan kebesaran Sang Pemberi nikmat. Kesadaran inilah yang perlahan menuntun jiwa untuk kembali kepada fitrahnya: bergantung, berharap, dan berserah hanya kepada Allah.
Dalam Q.S Surat Ibrahim Ayat 7, Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Nilai Tak Terhingga Nikmat Lahir
Allah memberikan kita nikmat yang tidak mampu kita hitung-hitung jumlahnya. Terkadang, ada orang yang mengeluh dan merasa Allah tidak adil kepadanya. Padahal, nikmat yang ada pada tubuh kita sendiri bernilai bermiliar-miliar bahkan triliunan.
Baca Juga: Porseni Season 9 MIM: Membangun Prestasi dan Ukhuwah Santri
Seorang pemuda pernah mengeluh kepada Al-Hasan Al-Bashri karena merasa Allah tidak adil. Al-Hasan Al-Bashri kemudian bertanya kepadanya, apakah ia mau menukar sepasang biji matanya dengan uang satu miliar atau dua miliar.
Tentu saja ia menolak, menunjukkan betapa berharganya organ tubuh tersebut. Nikmat kesehatan ini sering terabaikan, padahal terdapat banyak orang yang tidak mampu berbicara, atau orang yang harus berobat mahal ke luar negeri hanya karena tidak bisa buang air kecil.
Kisah dialog antara seorang ulama bernama Imam (Stomach nama ulama dalam sumber, bukan organ tubuh) dan Khalifah Harun ar-Rasyid menggambarkan betapa remehnya kekuasaan duniawi di hadapan nikmat kesehatan.
Ketika Harun ar-Rasyid ditanya berapa harga yang akan ia bayar untuk segelas air minum saat kehausan dan air itu langka, ia menjawab akan membelinya walaupun dengan separuh kekuasaannya.
Kemudian, ia ditanya lagi berapa harga yang akan ia bayar jika air itu sudah masuk dan tidak bisa keluar (tidak bisa buang air kecil), ia menjawab akan membelinya lagi walaupun dengan separuh kekuasaannya yang lain.
Ulama tersebut kemudian menyimpulkan bahwa seluruh kekuasaan yang dimiliki Harun ar-Rasyid tidak lebih dari masuk dan keluarnya segelas air.Demikian pula dengan oksigen.
Oksigen di rumah sakit dibeli menggunakan tabung dan ada harganya, sementara kita menghirup oksigen dari Allah secara gratis. Jantung kita masih berdetak, peredaran darah kita berjalan, semua adalah nikmat yang komplit dari Allah.
Nikmat Batin: Hidayah dan Tauhid
Di atas semua nikmat fisik (lahir), terdapat nikmat yang sifatnya batin (tidak terlihat), terutama adalah hidayah atau petunjuk dari Allah.
Contohnya adalah kesempatan untuk duduk di majelis ilmu dan melaksanakan salat Subuh secara berjamaah, sementara masih banyak saudara kita yang terbuai dalam tidurnya.
Baca Juga: Luruskan Niat: Rahasia Amal yang Bernilai!
Salat Subuh adalah salat yang disaksikan oleh para malaikat dan dengannya kita diberikan kemuliaan di hari kiamat untuk mampu berjumpa dengan Allah secara langsung. Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya ada dua syarat utama yang harus dia penuhi:
Pertama, memperbanyak mengerjakan amalan saleh. Kerinduan untuk berjumpa dengan Allah seharusnya jauh melebihi kerinduan kita untuk berjumpa dengan tokoh-tokoh saleh, seperti imam Masjidil Haram.
Kedua, tidak mempersekutukan Allah.Ini adalah syarat yang lebih penting dari semua amalan, yaitu menjaga akidah dan menjaga tauhid. Jika kita meminta pertolongan (isti’anah) atau berdoa, mintalah hanya kepada Allah.



