بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ

“Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat”. (QS. Al-Mukminun: 104).

Disebut dalam ayat ini muka mereka dibakar api neraka tapi yang dimaksudkan seluruhnya, jadi ketika disebutkan bahwa yag dibakar adalah wajahnya maka seluruh anggota tubuhnya juga masuk dan wajah adalah lambang kemuliaan, olehnya mengapa kita sujud karena ini puncak ubudiyah kita kepada Allah Subhanahu wata’ala dimana wajah sejajar dengan kaki kita yang menunjukkan ketundukan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, jadi wajah ini adalah lambang kemuliaan bagi kita, dihari kiamat mereka dihinakan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Wajah mereka akan dibakar oleh api yang menyala – nyala sehingga menjadi hitam legam kemudian bibir – bibir mereka meleleh dan tinggal terlihat gigi – gigi mereka, jadi ketika dibakar oleh api yang menyala – nyala maka penampakannya berubah seperti tengkorak karena daging – daging dan kulit mereka hancur dimakan oleh api, apakah selesai setelah itu, tidak karena Allah mengatakan:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. An- Nisa: 56).

Pada saat itulah dikatakan kepada mereka agar tidak ada lagi yang berhujjah dihadapan Allah dan beralasan dihadapan Allah, Allah Berfirman:

أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ

“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?”. (QS. Al-Mukminun: 105).

Allah berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al-Isra: 15).

Setiap kali ada sekelompok manusia yang dilemparkan ke dalam neraka, penjaga neraka bertanya kepada mereka:”Bukankah datang kepada kalian peringatan”.

Jadi ini agar tidak ada lagi yang mampu untuk memberi alasan pada hari kemudian, jangan sampai dihari kemudian ada yang mengatakan:”Saya tidak tahu ini ya Allah”, Allah tidak menghukum seseorang diluar dari iradah dan kemampuannya sampai dalam kekufuran, Ammar ibn Yasir disiksa bersama dengan keluarganya, ibunya dibunuh dan beliau dipaksa untuk mengucapkan kalimat kekufuran akhirnya beliau mengucapkan kalimat kekufuran beliau kemudian sedih datang kepada Nabi dan turunlah ayat:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”. (QS. An-Nahl: 106).

Jadi Allah tidak menghukum pada perbuatan manusia yang tidak ada iman didalamnya, orang yang tidur diangkat hukum darinya makanya orang yang ketiduran dan tidak sempat menghadiri sholat berjama’ah dimaafkan yang penting jangan sengaja tidur sebelum masuk waktu sholat dengan mengatakan:”Ini dimaafkan lebih baik tidur saja“, bahkan justru kita bisa berdosa, begitupula orang yang gila, jadi semua perbuatan yang diluar kehendak dan iradah kita dimaafkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, Allah memberikan kepada kita akal untuk mencerna.

Mereka kemudian berkata:

قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

“Mereka menjawab: “Benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”. (QS. Al-Mulk: 9).

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ , فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala, Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk: 10 – 11). Pada akhirnya mereka mengakui dosa – dosa mereka.

Allah berfirman:

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir”. (QS. Az Zumar: 71).

Jadi semua ini iqamahtul hujjah agar tidak ada lagi alasan karena Allah maha tahu bahwasanya manusia itu banyak kalasinya / curangnya olehnya pada hari itu dipaksa untuk mengaku dan pada ayat ini mereka juga mau berdalih dan ini dalih yang paling banyak digunakan oleh orang sekarang yaitu berdalih dengan takdir, ketika diajak:“Ayo sholat”, ia berkata:”Jika ditakdirkan sholat maka saya akan sholat jangan engkau merasa diri lebih baik”, jika kita mengomentari keburukan ia berkata:”Jangan anda merasa yang paling suci”, padahal kita menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk kita tidak menganggap diri kita paling suci tetapi kita mengritisi keburukan.

Dan ini juga mereka bawa pada hari kiamat, mereka berkata pada ayat selanjutnya:

قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ

“Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat”. (QS. Al-Mu’minun: 106).

Kami sudah begini dan ditakdirkan menjadi orang yang celaka, tapi itu tidak ada artinya karena Allah memberikan akal, mengutus Rasul, menurunkan kitab kepada mereka. Oleh karenanya tidak boleh berhujjah dengan takdir sebelum terjadi, jangan memvonis diri kita dengan berkata:”Saya memang begini”, ini tidak boleh bahkan kita harus mencari yang terbaik, adapun nanti ketika telah terjadi maka boleh berhujjah dengan takdir.

Tidak boleh misalnya belum melakukan keburukan lalu ia berkata:”Saya ditakdirkan untuk melakukan keburukan itu”, padahal belum ia lakukan, kecuali ketika ia sudah lakukan baru boleh dia mengatakan ini sudah takdir Allah maka setelah itu dia dituntut untuk bertaubat dari apa yang ia lakukan, Nabi Musa dan Nabi Adam diceritakan oleh Nabi pernah bertemu, Nabi Musa berkata kepada Adam:”Wahai Adam, mengapa engkau memakan buah, sebab engkau makan buah kita semua ditempatkan di dunia semestinya kita di surga ?”, seakan dia menyalahkan Adam, Adam berkata:”Apakah engkau menyalahkan aku pada sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah”, Nabi Nusa kemudian diam, Nabi berkata:”Hujjahnya Nabi Musa dikalahkan oleh hujjahnya Nabi Adam”, jadi boleh berhujjah dengan takdir setelah terjadi adapun belum terjadi tidak boleh berhujjah dengan takdir .

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 15 Rabiul Awal 1441 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.