بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sucikan Nama Tuhanmu

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ 

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi”. (QS. Al-A’la : 01)

سَبِّحِ sucikan / agungkan, ini perintah dari Allah Subhanahu wata’ala, dzahir dari ayat ini adalah perintah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam namun juga berlaku kepada ummatnya secara umum, sabbih bisa bermakna sucikan atau bersihkan, yaitu membersihkan Allah Subhanahu wata’ala secara dzahir dan secara makna, adapun secara dzahir yaitu tidak melakukan atau mengerjakan sesuatu yang bisa menunjukkan penghinaan, pelecehan atau tidak menghormati segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah Subhanahu wata’ala, sebagai contoh mushaf, sehubungan ayat yang kita jelaskan diatas maka setiap muslim wajib mengagungkan dan mensucikan kitab Allah Subhanahu wata’ala, oleh karena itu jangan penyimpan mushaf pada sembarang tempat dan biasakan simpan ditempat yang tinggi, jangan menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan suci atau dalam keadaan thaharah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (QS. Al-Waqi’ah: 79)

Mushaf jangan dicampakkan atau diletakkan di lantai begitu saja, jangan melemparnya ketika selesai dibaca atau selesai di muroja’ah, jangan biarkan mushaf berhamburan, jika ada lembaran mushaf yang robek perbaiki dan jangan dibuang lembaran yang didalamnya ada tulisan ayat – ayat Al-Qur’an, jangan membawa mushaf ke dalam WC.   Jadi bukan hanya dari sisi keindahan dan kerapihan yang menjadi perhatian tetapi Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada kita untuk mengangungkan namanya, seorang ulama yang bernama Bisyir Al Hafi beliau dipuji oleh Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, sebelum beliau mengkhususkan diri untuk menuntut ilmu, beliau dulunya seorang yang tidak mengenal syariat Allah Subhanahu wata’ala, beliau salah seorang yang nakal, suatu hari beliau masuk ke pasar dan melihat ada lembaran kertas yang berisi atau bertuliskan nama Allah, beliau kemudian mengambilnya, membersihkannya, mensucikannya dan meletakkannya ditempat yang layak atau ditempat yang suci, pada malam harinya beliau bermimpi, didalam mimpinya ada yang berkata kepada beliau:”Semoga Allah mensucikanmu sebagaimana engkau mensucikan namanya”, sejak saat itu ia berhijrah dan bertaubat, ia sibuk menuntut ilmu, pada akhirnya Allah memberikan kepadanya taufik sehingga beliau menjadi salah seorang ‘alim yang dipuji oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah.

Diantara mensucikan nama Allah Subhanahu wata’ala yang lain adalah mengagungkan nama – nama dan sifat – sifatnya , Allah Subhanahu wata’ala memiliki nama – nama dan sifat – sifat yang jumlahnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wata’ala. Dalam sebuah hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita doa barangsiapa yang membaca doa ini maka Allah akan menghilangkan kegelisahan dan kegalauannya kemudian menggantinya dengan kebahagiaan didalam hatinya,  dalam doa ini nama Allah Subhanahu wata’ala jumlahnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wata’ala, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:“Tiada sebuah kegundahan dan kesedihan yang menimpa seseorang, lalu ia mengucapkan:

Wahai Allah, sesungguhnya saya adalah Hamba-Mu, dan anak lelaki dari hamba-Mu lelaki dan anak lelaki dari hamba-Mu perempuan, ubun-ubunku beradadi tangan-Mu, hukum-Mu berlaku pada diriku, ketetapan-Mu adil pada diriku, saya memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang ia milik-Mu, yang Engkau telah menamai diri-Mu dengannya atau telah Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu atau yang telah Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu atau yang Engkau rahasiakan di dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, maka dengan itu saya mohon Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, hilangnya kesedihanku dan lenyapnya kesusahanku”, kecuali Allah menghilangkan darinya rasa resah dan sedihnya dan menggantikannya dengan kegembiraan”, lalu beliau ditanya: “Wahai Rasulullah, Alangkah baiknya kita mempelajarinya?”, beliau menjawab: “Tentu, bagi siapa yang mendengarnya untuk mempelajarinya”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 199).

Kata:“Dengan semua nama yang engkau miliki”, adalah bentuk tawassul kepada Allah dan ini adalah salah satu tawassul yang disyariatkan yaitu mengambil perantara dalam berdoa dengan menyebut nama – nama dan sifat Allah, mengambil perantara dalam berdoa ada yang disyaraitkan dan ada yang diharamkan. Jadi ketika kita mengucapkan “Dengan semua nama yang engkau miliki”, maka kita bertawassul dengan nama Allah yang kita ketahui, yang Allah ketahui maupun yang tidak diberitahukan kepada kita, hal ini juga menunjukkan nama – nama dan sifat Allah tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah Subhanahu wata’ala.

Termasuk mengangungkan nama dan sifat Allah Subhanahu wata’ala adalah meyakini bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala memiliki nama – nama dan sifat – sifat yang di isbatkan (tetapkan) oleh Allah untuk dirinya dan juga untuk Rasulnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini salah satu bentuk beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala yang disebut dengan Asma Was Sifat, mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dengan nama dan sifatnya yaitu mengisbat nama – nama dan sifat untuk Allah sebagaimana yang Allah tetapkan nama – nama dan sifat itu untuk  dirinya tanpa kita menyerupakan, mentasbih dengan makhluk, dan tanpa meniadakan atau menafikan. Qaidah dalam aqidah Asma Was Sifat yaitu menetapkan nama untuk Allah namun tidak menyerupakan dengan makhluk dan menafikan bahwasanya tidak ada yang serupa dengan Allah. Allah maha melihat dan maha mendengar, jadi kita menetapkan penglihatan dan pendengaran untuk Allah tapi tidak boleh menyamakan atau menyerupakan penglihatan dan pendengaran Allah dengan makhluknya, penciptaan makhluk Allah berbeda antara yang satu dengan yang lain walaupun namanya sama tetapi hakikatnya tidak mesti sama atau berbeda. Manusia memiliki penglihatan dan pendengaran begitupula dengan sapi, kucing, kuda. Sama – sama mendengar dan melihat tetapi tidak sama pendengaran manusia dengan pendengaran sapi, kuda, kucing bahkan kepada sesama manusia itu sendiri apalagi bagi Allah Subhanahu wata’ala. Ini adalah perkara yang penting untuk diketahui dalam bab ini yaitu beriman dengan nama – nama dan sifat – sifat Allah tanpa mensyabbih, menta’til, mentamsil, mentakyif dan kita bisa menggunakan nama- nama dan sifat – sifat Allah dalam berdoa bahkan Allah memerintahkan hal itu dalam Al-Qur’an:

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu dan jauhilah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raaf: 180)

Cara bertawassul dengan nama Allah ketika berdoa adalah disesuaikan atau dicocokkan permintaan kita dengan nama-nama Allah Subhanahu wata’ala, misalnya kita meminta rezeki kepada Allah maka kita cari nama Allah yang sesuai atau cocok dengan namanya tersebut dengan apa yang kita minta, misalnya Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Razzaq, Ya Fattah, Ursuqni, (Ya Allah, Yang maha penyayang, maha pengasih, yang maha pembuka, yang maha memberi rezeki, berikan kepadaku rezeki)

Jika kita minta ilmu maka kita berdoa:”Ya ‘Alim, Ya Fattah, Ya Rahman, Ya Rahim ‘Allimni, Fahhimni”,

Termasuk makna sabbih adalah mengagungkan, Jika kita melihat sesuatu yang agung tidak mengapa kita mengucapkan “Subhanallah” begitupula ketika melihat sesuatu yang aneh, ketika salah seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah disuatu hari beliau berada disuatu jalan, tiba – tiba dari kejahuan ia melihat Rasulullah, Abu Hurairah langsung sembunyi tidak mau bertemu dengan Nabi”,  ketika bertemu dengan Rasulullah pada suatu hari, Rasulullah bersabda:”Ya Abu Hurairah mengapa engkau sembunyi”, Abu Hurairah berkata:”Ya Rasulullah waktu itu saya tidak bertemu dengan anda karena saya dalam keadaan junub”, Abu Hurairah sangat berikthiram kepada Nabi sehingga beliau tidak mau berjumpa dengan Nabi dalam keadaan junub, Rasulullah berkata:”Subhanallah, Ya Abu Hurairah seorang muslim itu bukan najis”, jadi Nabi meluruskan dari apa yang dipahami oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, jadi orang junub dia tidak dalam keadaan suci tetapi tidak mengapa dia bersentuhan atau bersalaman dengan orang lain sama halnya dengan orang yang haid.

Allah Subhanahu wata’ala menceritakan peristiwa yang agung didalam Al-Qur’an yaitu ketika beliau diperjalankan dari masjidil haram ke masjidil aqsa kemudian diangkat ke langit yang ke tujuh Allah menyebutkan kisahnya didalam surah Al Isra awal dari surah tersebut adalah Subhanalladzi, Allah sendiri memuji dirinya dalam surah tersebut.

Yang maha tinggi

Allah Maha tinggi yang bersemayam diatas arsy sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita didalam Al-Qur’an, olehnya ketika sujud kita membaca Subhanalladzi Al A’la (Mahasuci Allah Subhanahu wata’ala tuhanku yang maha tinggi) yang diatas langit, Allah berfirman:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ * أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?. atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?”. (QS. Al-Mulk : 16-17).

Oleh karena itu rahmati makhluk yang ada dibumi maka yang dilangit akan merahmatimu, ketika berdoa maka fitrah manusia mengangkat tangan keatas meminta dari dzat yang maha tinggi.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 16 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.