بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran“. (QS. Az Zumar : 9). Dia takut dengan akhirat padahal mereka belum pernah melihatnya inilah rasa takut kepada yang ghaib dia mengharapkan rahmat tuhannya dan surga.

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan”. (QS. As-Sajdah : 61-17).

Rasa takut itulah yang membuat kita rajin memberi  dan bersedekah mempersiapkan bekal sebanyak – banyaknya demi menggapai janji Allah dari sedekah yang dikerjakan. Ayat diatas turun sebagai pujian kepada Utsman Radhiyallahu ‘anhu akan tetapi berlaku umum

Tak Satupun Yang Melihat Hakekat Janji Allah 

Tak satupun jiwa yang tahu apa yang disembunyikan untuk mereka, sesuatu yang menyejukkan pandangan mata mereka dihari kemudian, dan apa yang mereka ketahui dari Al-Qur’an dan sunnah tentang kenikmatan surga itu hanyalah permisalan yang mendekatkan pemahaman mereka namun hakekatnya Allah telah menyebutnya dalam hadis qudsi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ذُخْرًا بَلْهَ مَا أُطْلِعْتُمْ عَلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala berfirman:”Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang shalih sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas dibenak manusia.”Sebagai simpanan, biarkan apa yang diperlihatkan Allah pada kalian”. (HR. Bukhari: 4407).

Menunjukkan apa yang sampai kepada kita belum ada apa – apanya,yang belum pernah terlihat hakekat sesungguhnya dari apa yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Dalam hadist disebutkan manusia yang terakhir masuk  surga Allah berkata kepadanya minta apa yang engkau mau, ia berkata:”Saya mau ini Ya Allah“, Allah berkata:”Itu untukmu”, ia kemduian berkata lagi:”Saya mau ini ya Allah”, Allah menjawab:”Itu untukmu”, kemudian berkata lagi:”Saya mau ini ya Allah”, Allah menjawab:”Itu untukmu”, sampai kemudian angan – angan seorang hamba tersebut terputus keinginannnya sehingga tidak ada lagi yang ia khayalkan. Dalam kondisi dan keadaan demikian Allah kemudian mengingatkan:”Engkau tidak mau ini”, ia berkata:”Saya mau Ya Allah”, engkau tidak mau ini”, ia berkata:”Saya mau Ya Allah”.

Oleh karenanya angan – angan didunia tidak ada bandingannya dengan apa yang dipersiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kelak pada hari kiamat, kita semangat beribadah karena Allah dan meninggalkan kemaksiatan juga karena Allah bukan karena manusia, kita diberikan amanah dan kita bisa mempermainkan amanah tersebut dimana ada peluang bagi kita untuk khianat yang menjadi keuntungan bagi kita dan tidak ada yang tahu hal tersebut akan tetapi kita tidak melakukannya karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Jaga Batasan Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi nasehat kepada Ibnu Abbas kecil:

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))

Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhum menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:“Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat:”Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak memintamintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”. (HR. At Trmidzi no. 2516, Imam Ahmad bin Hambal di dalam kitab Al Musnad: 1/307).

Seorang hamba yang mampu menjaga batasan – batasan Allah pada hari kiamat akan mendapatkan naungan secara langsung  sebagaimana dalam potogan hadist

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Ta’ala dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah Ta’ala. dintara salah satunya adalah:”Seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik, dimana wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mampu mengucapkan:“Sungguh aku takut kepada Allah”. (HR. Imam Muslim).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)“. (QS. An-Nazi’at : 40-41).

Kualitas keimanan diuji ketika dalam keadaan sendiri tidak dilihat oleh seseorang baik dalam keadaan melaksanan ketaatan atau meninggalkan kemaksiatan.

Istri Suhaib ar Rumi pernah mengatakan:”Allah menciptakan malam adalah tempat untuk beristirahat bagi manusia kecuali suamiku Suhaib”, beliau ditanya mengapa demikian:”Ia menjawab:”Karena Suhaib dimalam hari jika ia mengingat surga keinginannya melambung tinggi sampai ia tidak bisa tidur dan jika ia mengingat neraka maka dia tidak bisa tidur“. Inilah tingkatan yang paling tinggi rasa takut kepada yang ghaib.

Allah Maha Tahu Isi Hati Hambanya

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati”. (QS. Al-Mulk: 13).

Rasulullah mengajarkan kepada kita doa agar rasa takut memenuhi hati – hati kita, biasakan membaca doa ini karena akan ada suatu keadaan dan kondisi iman kita lemah sehingga tidak ada lagi rasa risih, rasa malu didalam bermaksiat begitu juga dalam ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala, hanya sebatas menggugurkan kewajiban jika hal tersebut terjadi pada diri kita maka periksa hati kita. Rasulullah mengajarkan kita doa:

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepadamu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepadamu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke surgamu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami”(HR Tirmidzi dan Hakim).

Jika rasa takut telah memenuhi hati kita maka kita akan termotivasi untuk melakukan ibadah dan menghalangi kita dari kemaksiatan sehingga kita hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

 

Allah tahu mata-mata yang berkhianat dan yang tersembunyi didalam hati – hati kita, berusahalah untuk tidak membisikkan hati dengan sesuatu kecuali kebaikan agar menjadi bentuk rasa malu kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah bersabda:”Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya”. Kami sudah malu duhai Rasulullah”, jawab para sahabat. Nabi bersabda:

لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya”. (HR. Tirmidzi dll, dinilai hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkannya oleh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 935).

Semoga Allah Subhanahu wata’ala menganugrahkan kepada kita rasa takut baik terang – terangan atau sembunyi – sembunyi agar kita termasuk orang – orang yang beruntung didunia dan diakhirat.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 25 Dzulhijjah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.