بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ ﴿الأعلى

 “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)”. (QS. Al-A’la : 14)

Makna dari Al-Falah adalah mendapatkan apa yang di idam – idamkan atau yang di cita – citakan dan diselamatkan dari apa yang ditakutkan, dan yang paling kita cita – citakan adalah masuk ke dalam surga Allah dan yang paling kita takuti adalah dimasukkan ke dalam neraka, seringkali kita mengucapkan doa:

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung”. (QS. Ali ‘Imran : 185).

Kemenagan yang paling dinanti – nantikan adalah ketika pertama kali menginjakkan kaki di dalam surga. Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya:”Kapan kita bisa beristirahat wahai imam”,
Imam Ahmad berkata:”Sampai kita menginjakkan kaki pertama ke dalam surga”, hidup didunia ini penuh dengan cobaan, penuh dengan ujian ditambah lagi dengan beban syariat yang harus dikerjakan dan larangan yang harus di jauhi, kapan kita berhenti dari semuanya yaitu sampai kita menginjakkan kaki di surga. Setelah meninggal masih banyak fase yang akan kita hadapi, kita akan melewati pertanyaan di dalam kubur, fitnah di alam barsakh, dibangkitkan dan dikumpulkan dipadang mahsyar, menanti pengadilan Allah Subhanahu wata’ala, pada hari kemudian amalan kebaikan dan keburukan akan timbang, akan kita lewati shirath (jalan yang membentang diatas neraka).

Allah berfirman:

وَإِن مِّنكُمۡ إِلَّا وَارِدُهَا‌ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتۡمً۬ا مَّقۡضِيًّ۬ا  ثُمَّ نُنَجِّى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّنَذَرُ ٱلظَّـٰلِمِينَ فِيہَا جِثِيًّ۬ا 

“Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”. (QS. Maryam: 71-72). 

Orang kafir mereka tidak melewati shirat karena telah dimasukkan ke dalam neraka, shirat adalah fase terakhir yang akan dilalui orang-orang yang beriman dan orang- orang munafik, mereka akan diuji diatas shirath, orang yang beriman ada yang berjalan seperti kilat, berjalan seperti orang yang berkendara, berjalan seperti orang yang berjalan biasa, ada yang berjalan tertatih – tatih dan dibawahnya ada neraka dengan pengait seperti pengait besi namun terbuat dari api yang disebut dengan kalalip yang siap menarik orang-orang yang berjalan diatas shirat, Rasulullah menjelaskan shirat yang tajamnya lebih lembut dari sehelai rambut dan lebih tajam dari mata pedang.

Adapun yang berlaku pada hari itu bukan kepiawaian dalam melewati jembatan tetapi amalan sholeh kita di dunia ini, amalan itulah yang akan menyelamatkan kita setelah rahmat Allah Subhanahu wata’ala, jadi setiap diantara kita akan melewati shirat, Allah berfirman:”
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut” ,

Cara untuk berjalan secepat kilat diatas shirat adalah dengan mempersiapkan lampu dari sekarang, Rasulullah menjelaskan seseorang akan berjalan diatas shirat cepat dan lambatnya tergantung dari lampu yang meneranginya, Rasulullah menyebutkan ada yang lampunya hanya sebesar jempol yang kadang mati dan kadang hidup seperti senter ketika lowbet, jika cahaya hidup ia berjalan, jika mati ia berhenti, olehnya siapkan cahaya mulai dari sekarang dengan memperbanyak langkah – langkah kaki menuju masjid atau menjaga sholat dengan baik terutama sholat yang wajib berjama’ah bagi kaum lelaki di masjid, langkah – langkah kaki kita akan menjadi cahaya kelak ketika melewati shirat, ketika menuju masjid kita disunnahkan membaca:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُورًا وَفِى لِسَانِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى سَمْعِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى بَصَرِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِى نُورًا وَمِنْ أَمَامِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِى نُورًا وَمِنْ تَحْتِى نُورًا. اللَّهُمَّ أَعْطِنِى نُورًا

ALLOOHUMMAJ-‘AL FII QOLBHII NUUROON WA FII LISAANII NUUROON WA FII BASHORII NUUROON WA FII SAM ‘II NUUROON WA ‘AN YAMIINII NUUROON WA’AN YASAARII NUUROON WA FAUQII NUUROO WA TAHTII NUUROO WA AMAAMII NUUROON WA KHOLFII NUUROON WAJ-‘AL LII NUUROON

“Ya Allah, berikanlah cahaya di hatiku, pendengaranku, penglihatanku, di belakangku, di hadapanku, di atasku dan di bawahku. Ya Allah berikanlah aku cahaya”.

Kita minta cahaya yang kelak berlaku dihari kemudian sebagaimana yang Allah gambarkan di dalam Al-Qur’an:


يَوْمَ تَرَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ يَسْعَىٰ نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِم بُشْرَىٰكُمُ ٱلْيَوْمَ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”. (QS. Hadid : 12).

Adapun orang – orang munafik Allah berfirman:

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ (١٣) يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الأمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (١٤) فَالْيَوْمَ لا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلاكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٥

“Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu.” (Kepada mereka) dikatakan, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat, dan di luarnya hanya ada azab. Orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, “Bukankah kami dahulu bersama kamu?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri, dan kamu hanya menunggu (kekalahan kami), meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah”. Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kamu maupun dari orang kafir. Tempat kamu di neraka. Itulah tempat berlindungmu, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. Hadid: 13-15


Orang munafik tidak memiliki cahaya, ketika orang munafik melihat cahaya orang yang beriman dia mau ikut dengan mereka begitu halnya di dunia, orang – orang munafik selalu ingin bersama dengan orang – orang beriman dimana mereka menampak keimanan dan menyembunyikan kekufuran adapun pada hari itu akan dipisah bahakn dikatakan kepada mereka:”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu) ”, pada hari kiamat orang yang beriman dan orang yang munafik dipisahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita keimanan yang jujur, iman yang shadiqan didalam hati yang dibuktikan dengan amalan.

Sungguh beruntung orang yang bermuhasabah yang senantiasa membersihkan dirinya dan menjaga hatinya, dalam surah Asy-Syams sebelumnya Allah bersumpah dengan makhluknya, ketika Allah bersumpah dengan makhluknya itu pertanda ada sesuatu yang penting yang Allah hendak sampaikan setelah ayat itu, pada ayat 9 Allah berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya”. (QS. Asy-syams : 09). Menjaga dirinya, senantiasa berusaha taat kepada tuhannya kemudian membentengi dirinya dari api neraka dan menjauhi larangan – larangan Allah Subhanahu wata’ala, terasa berat akan tetapi ia bersabar untuk kenikmatan yang telah disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jum’at, 26 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.