بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَذَكِّرْ إِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرَىٰ 

“Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat”. (QS. Al-A’la : 9).

Ini tugas para dai untuk memberi peringatan kepada ummat, beri peringatan kepada suatu kaum, beri peringatan kepada manusia, selama mereka mau menerima kebenaran ingatkan mereka, selama mereka masih menerima wejangan, nasehat, tausiah sampaikan kepada mereka, adapun orang – orang yang menyombongkan diri ketika nasehat disampaikan mereka kemudian berpaling, Allah berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ . إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ . الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu). (Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)”.(QS. Al-Hijr: 94-96).

Pada peringatan Allah di dalamnya ada pelajaran bagi orang yang masih memiliki hati atau dia mendengarkan nasehat dengan baik. Orang yang mendengarkan nasehat terbagi menjadi 3:

  1. Ada manusia yang enggan mendengarkan nasehat, telinga dan kepalanya panas ketika mendengarkan nasehat sebagaimana syaithan beserta dengan teman – temannya, Allah mengisyaratkan hal tersebut di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ

“Maka mereka berpaling dari peringatan (Allah)?, seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa”. (QS. Al-Mudatstsir: 49-51).

Beginilah sebagian manusia ketika mereka diberi nasehat ia berpaling bahkan lari saat kita mendekat kepadanya, sama halnya dengan orang – orang yang tidak mau mendengarkan lafadz azan bahkan ia terganggu dan terusik dengan suara azan, Allah telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an orang – orang yang seperti itu.

2. Ada manusia yang bisa mendengar nasehat bahkan ia tahan mendengar nasehat namun ketika ia keluar dari majelis sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an:

“Diantara mereka wahai Muhammad (yang dimaksudkan disini adalah orang – orang munafik) ada yang mendengarkan nasehatmu wahai muhammad tetapi ketika mereka telah keluar dari majelismu mereka berkata diantara mereka:“Apa yang dikatakan oleh Muhammad“.

3. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:”Dan orang-orang yang menjauhi tagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (QS. Az-Zumar :17-18). Inilah orang – orang yang mengambil faedah dari nasehat yang disampaikan, Allah berfirman:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat : 55). 

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapatkan pelajaran”. (QS. Al-A’la : 10).

Di antara yang mengambil faedah dari nasehat adalah orang – orang yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga ia mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya, seperti ketika ada kemungkaran atau maksiat kemudian diberi nasehat maka ia segera meninggalkannya, bukan ia semakin menjadi – jadi, sebagaimana yang kita lihat yang beredar di medsos, setelah kejadian gempa dan tsunami
di palu yang menenggelamkan beberapa desa atau kompleks, terkadang jika rumah ditenggelamkan oleh bumi masih nampak atapnya, disana ada desa atau kampung yang rata dengan tanah, ini mengingatkan kita tentang hukuman yang Allah turunkan kepda Nabi luth dimana tanah diangkat kemudian dihempaskan ke dalam bumi.

Kebanyakan manusia hanya melihat dari sisi ilmiahnya dari gempa atau bencana yang terjadi padahal andaikan di zaman Nabi Luth ada BMKG atau para peneliti pasti mereka akan mengatakan sebagaimana apa yang dikatakan oleh para ahli sekarang dengan mereka berkata:”Ini terjadi karena lempengan bergeser dan seterusnya sambil ia mempraktekannya“, padahal semestinya ketika bencana, musibah telah datang justru mereka semakin tunduk dan mengambil pelajaran serta semakin takut dengan Allah, intropeksi diri atau muhasabah, namun sungguh sangat disayangkan hati – hati mereka sangat keras.

Telah diperlihatkan kebesaran Allah berupa bencana akan tetapi mereka menjarah, merampok, padahal justru hal yang seperti ini membuat kita semakin takut kepada Allah, diantara sebab mereka melakukan hal tersebut adalah karena hati –hati mereka telah keras disebabkan maksiat yang ia kerjakan.

 
وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى

“dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya”. (QS. Al-A’la : 11).

Nasehat akan dijauhkan dari orang – orang yang celaka karena mereka tidak mau mendengar kebaikan, ayat ini turun kepada salah seorang lelaki yang bernama Al Walid ibn Mughirah, beliau salah satu pembesar di kota Makkah pemimpin orang kafir, diam – diam ia mendengar Rasulullah membaca Al-Qur’an, ketika ia mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah maka Al Walid ibnu Mughirah berkata:”Sesungguhnya apa yang di bacakan oleh Muhammad memiliki kelezatan”, dia permisalkan seperti pohon bagian atasnya buahnya sangat banyak bagian bawahnya subur dan kuat menghujam di bawah tanah sampai ia berkata:”Tidak mungkin ini ucapan manusia, perkataan  yang tinggi tidak ada yang lebih tinggi dari dia”, ketika ditanya oleh kaumnya:” Wahai Walid apa yang engkau katakan tentang Al-Qur’an.?”, perkataannya diabadikan di dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya ia berpikir dan menimbang-nimbang, maka celakalah ia! Bagaimana ia menimbang-nimbang? Kemudian celakalah ia! Bagaimana ia menimbang-nimbang? Kemudian ia memandang, lalu muram dan cemberut, lalu berpaling dan menyombongkan diri, lau ia pun berkata:Sesungguhnya Al-Qur’an itu tidak lain ialah sihir yang dilontarkan”.

Sebelumnya ia telah meyakini Al-Qur’an, ia yakin akan keindahannya, ia tahu bahwa itu adalah peringatan, nasehat dan wejangan dari Allah tetapi mereka dijauhkan, olehnya Allah berfirman:

“dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya”. (QS. Al-A’la : 11).

Orang – orang yang celaka dijauhkan mengambil manfaat dan faedah dari al-Qur’an.

الَّذِى يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ

“(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (Neraka)”. (QS. Al-A’la : 12)

Mereka dimasukkan ke dalam api yang menyala – nyala dia tidak hidup dan tidak mati, di dalam neraka tidak ada hidup dan tidak ada mati maksudnya adalah siksaan yang terus menerus, andaikan ia di siksa kemudian mati maka itu ringan, tetapi Allah mengatakan:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus,Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. An-Nisa: 56).

Mereka berkata kepada malaikat penjaga neraka:

وَنَادَوْا۟ يَٰمَٰلِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ

Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”. (QS Az-Zukhruf: 77). Mereka kekal dalam neraka sebagaimana penghuni surga mereka kekal di dalamnya dan terus ditambahkan kenikmatan kepadanya. olehnya Allah mensifatkan itu.

ثُمَّ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَلَا يَحْيَىٰ

“Selanjutnya dia di sana tidak mati dan tidak (pula) hidup”. (QS. Al-A’la : 13).

Penghuni neraka tidak merasakan sedikitpun kenikmatan sebagaimana firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 17

یَّتَجَرَّعُہٗ وَ لَا یَکَادُ یُسِیۡغُہٗ وَ یَاۡتِیۡہِ الۡمَوۡتُ مِنۡ کُلِّ مَکَانٍ وَّ مَا ہُوَ بِمَیِّتٍ ؕ وَ مِنۡ وَّرَآئِہٖ عَذَابٌ غَلِیۡظٌ

“Diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat”. (QS. Ibrahim: 17). 

Azab terus ditambahkan kepadanya, Allah menggambarkan neraka terus ditambahkan panasnya dan siksaannya dan tidak ada kematian, Allah berfirman:

وَنَادَوْا۟ يَٰمَٰلِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ

“Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”. (QS. Al Zuhruf 77)

Rasulullah bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma”. (HRS. Bukhari dan Muslim. Lihat Shahiihul jaami’ no. 114)

Boleh jadi bekas sampah berupa gelas air minum yang kita pungut ikhlas karena Allah, kita berjalan di sebuah jalan kemudian melihat kulit pisang, ranting, duri kemudian kita angkat, singkirkan dan buang bisa membentengi diri kita dari neraka Allah, Rasulullah bersabda:

فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Bila kalian tidak memiliki sesuatu yang bisa disedekahkan meski separuh kurma) maka (jaga diri kalian dari neraka) dengan kata-kata yang baik”.

Ucapan yang baik kepada sesama manusa, menyapanya, senyum kepadanya, berusaha meringankan beban orang lain, menghiburnya, lakukan semua kebaikan ini dengan penuh keikhlasan, sekecil apapun amalan jangan kita zuhud untuk melakukannya, salah seorang salaf pernah menyuruh istrinya untuk membuat masakan yang enak:”Tolong buat masakan yang enak”, ia mengira bahwa suaminya yang akan makan masakan tersebut, tapi ternyata setelah masakan itu terhidang beliau memanggil seorang lelaki (orang gila) dia memberikan makan enak tersebut, istrinya kemudian berkata:”Kita telah bersusah payah membuat makanan itu, saya mengira makanan itu untuk mu mengapa justru engkau berikan kepada orang gila itu padahal dia tidak tahu jika kita berbuat baik kepadanya”, ia kemudian berkata:”Betul dia tidak tahu bahwasanya kita berbuat baik kepadanya namun Allah yang menciptakannya tahu apa yang kita lakukan kepadanya”.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari api neraka dan memasukkan kita ke dalam surga, semoga Allah mengumpulkan kita di surga, dimana surga tidak ada lagi keringat jikalau pun ada keringat maka keringat itu bau yang sangat harum, olehnya bersabar sesaat dalam ketaatan didunia, perbanyak mengumpul bekal untuk kehidupan akhirat.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 25 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.