بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tawassul adalah mengambil sarana/wasilah agar doa atau ibadah yang dilakukan dapat lebih diterima dan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Al-wasilah menurut bahasa berarti segala hal yang dapat menyampaikan dan mendekatkan kepada sesuatu. Sedang menurut istilah syari’at, al-wasilah yang diperintahkan dalam al-Qur’an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Subhanahu wata’ala, yaitu berupa amal ketaatan dan ibadah yang disyariatkan oleh Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah : 35).

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam setelah membangun ka’bah ia kemudian berdoa/bertawassul dengan amalannya tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al Baqarah:127).

Ada 3 sorang pemuda yang menyelamatkan keyakinannya kepada Allah Subhanahu wata’ala dari penguasa yang dzalim yang banyak melakukan kesyirikan dan kekufuran, mereka kemudian berlari dalam sebuah hutan hingga mereka berlindung didalam gua. Sebagaimana kisah mereka disebutkan dalam Surah Al-Kahfi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (QS. Al-Kahfi : 10).

Kisah 3 Pemuda yang bertawassul dengan amalan sholeh disebutkan dalam hadist, Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Suatu ketika tiga orang laki-laki sedang berjalan, tiba-tiba hujan turun hingga mereka berlindung ke dalam suatu gua yang terdapat di gunung. Tanpa diduga sebelumnya, ada sebongkah batu besar jatuh menutup mulut gua dan mengurung mereka di dalamnya. Kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada temannya yang lain:”lngat-ingatlah amal sholeh yang pernah kalian lakukan ikhlas hanya karena mengharap ridha Allah Subhanahu wata’ala semata. Setelah itu, berdoa dan memohonlah pertolongan kepada Allah dengan perantaraan amal sholeh tersebut, mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala akan menghilangkan kesulitan kalian”.

Kemudian salah seorang dari mereka berkata: “Ya Allah ya Tuhanku, dulu saya mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia. Selain itu, saya juga mempunyai seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Saya menghidupi mereka dengan menggembalakan ternak. Apabila pulang dari menggembala, saya pun segera memerah susu dan saya dahulukan untuk kedua orang tua saya. Lalu saya berikan air susu tersebut kepada kedua orang tua saya sebelum saya berikan kepada anak-anak saya. Pada suatu ketika, tempat penggembalaan saya jauh, hingga saya baru pulang pada sore hari. Ternyata saya dapati kedua orang tua saya sedang tertidur pulas. Lalu, seperti biasa, saya segera memerah susu. Saya berdiri di dekat keduanya karena tidak mau membangunkan dari tidur mereka. Akan tetapi, saya juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anak saya sebelum diminum oleh kedua orang tua saya, meskipun mereka, anak-anak saya, telah berkerumun di telapak kaki saya untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut saya dan anak-anak saya jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa saya melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap ridha-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami hingga kami dapat melihat langit“!. Akhirnya Allah Subhanahu wata’ala membuka celah lubang gua tersebut, hingga mereka dapat melihat langit.

Orang yang kedua dari mereka berdiri sambil berkata:”Ya Allah, dulu saya mempunyai seorang sepupu perempuan (anak perempuan paman) yang saya cintai sebagaimana cintanya kaum laki-laki yang menggebu-gebu terhadap wanita. Pada suatu ketika saya pernah mengajaknya untuk berbuat zina, tetapi ia menolak hingga saya dapat memberinya uang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang seratus dinar, akhirnya saya pun mampu memberikan uang tersebut kepadanya. Ketika saya berada diantara kedua pahanya (telah siap untuk menggaulinya)“, tiba-tiba ia berkata:”Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu”. Lalu saya bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah, sesungguhnya Engkau pun tahu bahwa saya melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan ridha-Mu. Oleh karena itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami!“, Akhirnya Allah Subhanahu wata’ala membukakan sedikit celah lubang lagi untuk mereka bertiga.

Seorang lagi berdiri dan berkata:”Ya Allah ya Tuhanku, dulu saya pernah mengupah seseorang untuk mengerjakan sawah padi saya. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata:‘Berikanlah hak saya kepada saya! ‘ Maka saya memperlihatkan kepadanya haknya tersebut akan tetapi dia tidak suka dan meninggalkan haknya itu. Setelah itu, saya pun menanami sawah saya sendiri hingga hasilnya dapat saya kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya“. Selang berapa lama kemudian, orang tersebut datang kepada saya dan berkata:”Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zhalim terhadap hak orang lain!“, Lalu saya berkata kepada orang tersebut:”Pergilah ke beberapa ekor sapi beserta para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu!“, Orang tersebut menjawab:”Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olok saya!“, Kemudian saya katakan lagi kepadanya:”Sungguh saya tidak bermaksud mengolok-olokmu. Oleh karena itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu!“, Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah saya lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari ridha-Mu. Oleh karena itu, bukalah bagian pintu gua yang belum terbuka! ‘ Akhirnya Allah Subhanahu wata’ala pun membukakan pintu gua secara sempurna untuk mereka”. (HR. Bukhari). Hal ini menunjukkan bolehnya bertawassul dengan amalan sholeh ketika berdoa.

 Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 16 Jumadil Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.