Di awal pengajian. Ustadz Harman Tajang menyampaikan bahwa untuk melihat seseorang hendak melihat kecintaan Allah kepadanya maka lihatlah apa yang ia kerjakan, siapa temannya, dan dimana ia sering berada. Jadi ada 3 indikasi. Sebagaimana do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

IMG_9514

“Ya Allah aku memohon kecintaan dari-Mu, dan kecintaan orang-orang yang cinta kepada-Mu, dan untuk cinta kepada amalan yang mendekatkan diri kami kepada-Mu”

Sebagaimana perkataan imam Syafi’i Rahimahullah.

“Aku mencintai orang-orang sholeh, meski aku bukan termasuk golongan orang sholeh. Aku hanya berharap mendapat syafaat (keberkahan) dari mereka”.

Diantara kebahagiaan penghuni Surga di hari kiamat ketika dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang ia cintai dulu di dunia, ia tidak ridha dengan kenikmatan Surga yang ia dapatkan melainkan ketika diikutkan bersamanya teman-teman dari orang-orang shaleh yang dulu bersamanya di dunia meniti ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kemudia ia melanjutkan pembahasan kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam yang telah sampai pada bagian cobaan dari Allah berupa Fitnah Wanita. Yang sebelumnya telah membahas Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam ketika dijual yang dibeli oleh pembesar Mesir pada waktu itu. Mereka menjualnya dengan harga yang sangat murah. Setelah itu, ia berkata kepada istrinya

“Muliakan anak ini, berikan ia makanan yang baik, minuman, pakaian, tempat tinggal, pakaian yang bagus”

Perkataan tersebut merupakan salah satu bentuk firasat dari pembesar Mesir. Sebagaimana perkataan Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu

“Ada 3 orang yang firasatnya tepat, yang pertama adalah firasatnya Abu Bakar Ash-shiddiq ketika menunjuk Umar bin Khattab untuk menjadi khalifah setelahnya.

Yang kedua adalah firasatnya Istri Nabi Musa ‘Alaihissalam (putri dari Nabi Syu’aib ‘Alaihissalam) ketika ia melihat amanah dari Musa dan kekuatannya maka wanita ini memiliki firasat bahwa orang ini bermanfaat dia orang shaleh dan boleh jadi nanti menjadi suami baginya. Akhirnya ia berkata kepada bapaknya

“Wahai bapakku, jadikan ia pembantu di rumah kita yang bekerja untuk kita dan sesungguhnya orang paling baik bekerja kepada kita adalah orang yang tubuhnya kuat dan terpercaya” dan kemudian hari ia menikahi putri nabi yang mulia tersebut.

Yang ketiga adalah firasat Pembesar Mesir terhadap Nabi Yusuf ‘Alaihissalam.

Pembesar Mesir kembali mengakatakan kepada Istrinya semoga dikemudian hari ia bermanfaat bagi kita, semoga dikumudian hari ia bisa menjadi pembantu di istana kita atau kita angkat dia sebagai anak. Walaupun ia sebagai pembesar Mesir namun memiliki celah dan aib. Dia adalah seorang lelaki yang tidak memiliki hasrat kepada wanita, sehingga ia tidak mempunyai anak. Makanya ia berkata kepada istrinya

“Atau kita angkat ia menjadi seorang anak”

Tumbuhlah Nabi Yusuf di istana pembesar Mesir tersebut. Dan kegantengannya semakin bertambah dari hari ke hari, ia menjadi seorang lelaki remaja yang jamil. Bahkan disebutkan dia mewarisi kegantengan separu dari manusia, walaupun imam Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah separu kegantengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Anas Ibnu Malik mengatakan

“tidaklah seorang nabi yang diutus oleh Allah melainkan ia diberikan kegantengan kepada wajahnya dan kemerduan kepada suaranya dan tidak ada yang melebihi Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Oleh karenanya ulama mengatakan “separuh kegantengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ada yang mengatakan separu kegantengan Nabi Adam ‘alaihissalam yang langsung diciptakan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala dengan tangan-Nya. Makanya disebutkan bahwa penghuni Surga nanti tingginya, perawakannya seperti nabi Adam, kegantengannya seperti nabi Yusuf, dan hatinya seperti nabi Ayyub ‘Alaihissalam.

Ustadz Harman melanjutkan bahwa Istri pembesar Mesir tertarik kepada pembantunya yaitu Nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Hingga ia mencari waktu dan momen yang tepat untuk melampiaskan hasratnya, ia telah jatuh cinta kepada Nabi Yusuf ‘Alaihissalam yang telah membutakan mata dan hatinya, karena kerinduan itu membutakan. Kemudian ia mencari cara agar semua orang yang berada di dalam rumah tersebut pergi, termasuk suaminya. Tinggallah ia berdua dengan Yusuf ‘Alaihissalam. Kemudian ia berdandan, seorang permaisuri memakai wewangian yang paling harum dan ia mulai menggoda nabi Yusuf ‘Alaihissalam.

Ujian mendatangi Nabi Yusuf. Sebelumnya ia diuji dengan dimasukkan ke dalam sumur, ia mampu melewatinya dengan kesabaran, dijual sebagai seorang budak ia pun mampu melewatinya sekarang datanglah ujian yang paling besar yaitu fitnah wanita, yang kata nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.” (HR. Bukhari no.5096 dan Muslim no.7122)

Said bin al-Musayyib (salah seorang ulama ahli hadits dan ahli fiqih dari Madinah. Ia termasuk golongan tabi’in, dan merupakan salah seorang dari Tujuh Fuqaha Madinah. Di antara ketujuh tokoh Madinah tersebut, Said sering dianggap sebagai yang paling berpengaruh) pernah berkata ketika ia berusia 80 tahun dan kedua matanya telah buta

“tidak ada fitnah yang saya takutkan selain fitnah wanita, andaikan saya disuruh untuk menjaga sebuah rumah yang dipenuhi dengan emas, intan dan mutiara lebih saya senangi jika dibandingkan menjaga seorang wanita walaupun ia berkulit hitam”

Wanita adalah aurat, ketika ia keluar dari rumahnya maka ia akan diperindah oleh syaithan.

Di tengah ceramahnya, Ustadz harman Tajang berpesan kepada kaum wanita.

“ketika wanita ta’at kepada tuhannya, maka ia adalah perhiasan dunia yang paling indah. Tapi, ketika ia tidak shalehah maka ia menjadi fitnah yang besar, melebihi fitnahnya syaithan. Bahkan ketika seluru cara syaithan gagal maka ia akan datang dengan senjata andalannya yaitu fitnah wanita”

Allah ‘azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفاً

“sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa’:76)

Namun Allah ‘azza wa Jalla berfirman dalam surah yang lain,

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya tipu daya kalian para wanita adalah fitnah yang besar” (QS. Yusuf:28)

Dan ini yang dialami oleh nabi Yusuf ‘Alaihissala.

Kembali Ustdaz Harman Tajang memberikan pesan kepada kaum wanita

“Semua laki-laki adalah serigala walaupun jenggotnya panjang, kecuali 1. Yaitu suami anda yang halal”

Jadi jangan tertipu dengan alasan SMS Da’wah.

Syaithan itu pelan-pelan jadi berhati-hatilah.

Kata Khalil bin Ahmad dimulai dari perkenalan, senyuman, mulai menyapa, kemudian janjian, pertemuan.

Kemudian ustadz Harman Tajang melanjutkan bahwa sanya istri pembesar Mesir mulai menutup seluruh pintu dengan rapat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa kesabaran Nabi Yusuf kali ini lebih besar dari kesabarannya ketika dicampakkan ke sumur dan dijebloskan dalam penjara. Karena kesabaran terbagi 2. Ada sabar yang terpaksa untuk bersabar, dan kesabaran yang ada pilihan di dalamnya. Kesabaran Nabi Yusuf ketika digoda wanita lebih besar ketika dicampakkan ke dalam sumur. Kesabaran Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim dalam menunaikan perintah Tuhannya melihat di dalam mimpinya menyembeli anaknya. Itu lebih besar dari kesabaran Nabi Ayyub ‘Alaihissalam. Karena Nabi Ayyub harus bersabar dengan ujiannya walaupun ia menjadi tanda dalam kesabaran, karena kesabaran yang paling besar adalah meninggalkan kemaksiatan kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

Setelah istri pembesar Mesir menutup pintu, ia mengira tidak ada lagi yang dapat melihatnya padahal pintu Allah tidak pernah tertutup.

Jika engkau bersendirian dalam gelapnya malam kemudian jiwamu mengajak engkau untuk bermaksiat. Katakan kepada jiwa bahwa sesungguhnya yang menciptakan gelapnya malam itu melihat kita. Malulah kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

Jika suatu hari engkau bersendirian maka jangan engkau katakan “saya sendiri” tapi katakan “Ada yang melihat saya”

Jangan engkau mengira Allah lalai walau sesaat. Allah mengetahui mata-mata yang berkhianat dan bahkan apa yang kita sembunyikan dalam hati-hati kita dan inilah inti dari ketaqwaan. Muraqabatullah senantiasa merasa diawasi oleh Allah Subhana Wa Ta’ala. Jangan Cuma ketika berada di hadapan manusia. Dan ini yang sangat ditakutkan oleh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketika Nabi membacan Firman Allah

وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al-Furqan 25:23)

“Apa ciri-cirinya ya Rasulullah agar kami tidak termasuk diantara mereka”

“mereka adalah kaum ketika bersendirian, mereka melanggar batasan-batasan Allah Subhana Wa Ta’ala”

Status Nabi Yusuf saat itu sangat berpeluang untuk menerima ajakan tersebut, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah.

“Ada beberapa penyebab,
1. Ia seorang pemuda yang diberikan hasrat biologis,
2. Ia berstatus seorang budak dimana hukuman seorang budak adalah separuh dari hukuman yang merdeka
3. Ia yang digoda
4. Tidak ada yang melihat mereka
5. Ia jauh dari kampung halamannya.”

Andaikan ia (Yusuf) tidak melihat tanda dari Tuhannya. Sebagian ulama ada yang mengatakan.

Nabi Yusuf melihat tanda dari Tuhannya, itulah yang menahan beliau, kata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma. “Tiba-tiba ia mendengar suara dari langit yang mengatakan

“Wahai Yusuf, Saya (Allah) telah menetapkanmu sebagai nabi-nabi-Ku yang mulia, maka janganlah engkau mengerjakan perbuatan orang-orang yang jahil.”

Dalam Riwayat, imam as suddi mengatakan “ia mendengarkan suara dan mengatakan

“Wahai Yusuf, takutlah kepada Allah Subhana Wa Ta’ala, sesungguhnya engkau hanyalah seperti burung yang memiliki sayap, engkau dihiasi dengan sayapmu. jika engkau melakukan perbuatan keji seakan-akan engkau mencabut bulumu sendiri “

Berkata ibnu jarir al-thabari Rahimahullah bahwasanya tiba-tiba Nabi Yusuf melihat tertulis di dalam istana

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

 إِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)”

كِرَامٗا كَٰتِبِينَ 

yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)

Disebutkan pula dalam riwayat yang lain oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma. “Tiba-tiba nabi Yusuf melihat seakan-akan Ya’qub hadir di hadapannya. dan menggigit jari-jemarinya dan mengatakan

Takutlah kepada Allah wahai Yusuf

Namun, yang kuat والله أعلم sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu tabarak wa ta’ala bahwasanya burhaan (tanda) yang dilihat Nabi Yusuf adalah sesuatu yang Allah campakkan di dalam hatinya, rasa takut kepada Allah”

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.