Home Artikel Aqidah Bisikan Hati dan Jiwa, Apakah Dipertanggungjawabkan di Hadapan-Nya?

Bisikan Hati dan Jiwa, Apakah Dipertanggungjawabkan di Hadapan-Nya?

0
Berdoa
Ilustrasi seorang berdoa/Unplash

mim.or.id – Apakah bisikan jiwa yang terkadang sulit dikendalikan akan turut dihisab? Dan bagaimana Rahmat-Nya dan sikap yang benar seorang Mukmin dalam menghadapi syariat-Nya.

Ayat Al-Qur’an yang Memicu Kekhawatiran Awal

 Awalnya, para sahabat Rasulullah merasa sangat berat dan khawatir ketika turun ayat dari akhir Surah Al-Baqarah. Allah berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 109 adalah:

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِۚ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُۗ 

Artinya: Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.

Apapun yang kalian tampakkan atau yang kalian sembunyikan (di dalam jiwa kalian) akan dihisab oleh Allah di hari kemudian. Ayat ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para sahabat.

Sekiranya demikian, bahwa bisikan jiwa pun akan dihisab, mereka merasa tidak ada yang selama dan mereka menunjukkan kesedihan ini kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Baca Juga: Khutbah Jum’at: Jadi Muslim Jangan Latah! (Edisi 076, 7 Safar 1447)

Sikap Teladan Para Sahabat dalam Menghadapi Wahyu

Menanggapi kekhawatiran para sahabat, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam mengajarkan mereka untuk tidak bersikap seperti orang Yahudi yang mengatakan ‘kami dengar tapi kami tidak bisa mengikuti’.

Sebaliknya, beliau mengajarkan sikap yang benar seorang Mukmin, yaitu ‘kami dengar dan kami taat’. Sikap ini menunjukkan ketaatan mutlak kepada syariat Allah, bahkan jika akal manusia merasa berat atau bertentangan.

Seorang Muslim tidak seharusnya sombong di hadapan syariat Allah dan hendaknya tidak mengkritisi ayat Al-Qur’an atau Hadist dengan akal yang terbatas. Ketidakmampuan akal memahami sepenuhnya nash Al-Qur’an atau Hadis bukanlah kesalahan nash, melainkan keterbatasan akal itu sendiri.

Rahmat Allah dan Keringanan Hukum-Nya

Berkat sikap ‘kami dengar dan kami taat’ para sahabat, Allah menurunkan ayat berikutnya yang memberikan keringanan, bahkan menghapuskan hukum (dalam konteks hisab bisikan jiwa yang tidak ditindaklanjuti) dari ayat sebelumnya.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Surat Al-Baqarah Ayat 286).

Baca Juga: Total Hadiah Puluhan Juta, Berikut Jadwal Turmanen ‘Expo Keterampilan Panahan 2025’

Rasulullah lebih lanjut menegaskan bahwa Allah memaafkan atau membiarkan bisikan-bisikan jiwa umatnya, selama bisikan itu belum keluar dalam bentuk perkataan atau perbuatan.

Sebagai contoh, jika seseorang memiliki bisikan untuk menggunjing, namun ia mampu menahan diri dan mengubah topik pembicaraan, maka perbuatan menahan diri itu bahkan berpahala.

Betapapun ini menunjukkan bahwa niat jahat yang hanya terlintas di hati tidak akan dicatat sebagai dosa, kecuali jika diwujudkan dalam perkataan atau perbuatan, maka semua itu akan dijatuhkan dosa.

Pentingnya Menjaga Hati dan Pikiran (Meskipun tidak Dihisab)

Walaupun bisikan jiwa yang tidak diwujudkan dalam perkataan atau perbuatan tidak dihisab sebagai dosa, kita tetap dianjurkan untuk membiasakan tidak membisikkan dalam jiwa kecuali hal-hal yang baik.

Ini merupakan kesempurnaan rasa malu kita kepada Allah. Rasulullah mengajarkan untuk menjaga kepala (pikiran), mata, telinga, lisan, perut, dan kemaluan. Kita harus membiasakan berpikir positif dan membasahi lisan dengan zikir agar pikiran senantiasa baik.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version