mim.or.id – Bulan Ramadan adalah momentum yang sangat istimewa bagi umat Islam, bukan hanya sebagai bulan puasa, tetapi juga sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Ulama menjelaskan bahwa keberhasilan dan keberkahan Ramadan seseorang dapat diukur dari sejauh mana kualitas interaksinya dengan Al-Qur’an.
Ramadan sebagai Bulan Al-Qur’an dan Petunjuk Hidup
Keterkaitan antara Ramadan dan Al-Qur’an sangatlah erat, pesan dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk (huda), penjelasan (bayyinat), dan pembeda (furqan) bagi manusia.
Al-Qur’an juga diturunkan pada malam Lailatul Qadar, sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Baca Juga: Ramadhan dan Keajaiban Takwa: Janji Allah tentang Kemudahan dan Jalan Keluar
Di luar Ramadan, mengkaji Al-Qur’an sudah memberikan petunjuk hidup, namun di bulan Ramadan, interaksi tersebut akan mendatangkan keberkahan yang luar biasa dan solusi atas segala permasalahan yang sedang dihadapi.
Meneladani Interaksi Salafus Saleh dengan Al-Qur’an
Generasi terdahulu atau salafus saleh memberikan contoh luar biasa dalam mengisi Ramadan dengan Al-Qur’an.
Sebagai contoh, Imam Asy-Syafi’i mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama bulan Ramadan, dengan rincian satu kali di siang hari dan satu kali di malam hari.
Begitu pula dengan Imam Malik yang memilih untuk menutup majelis hadisnya demi fokus sepenuhnya pada majelis Al-Qur’an dan tafsir saat Ramadan tiba.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar: Meraih Hakikat Puasa dan Penyucian Jiwa
Hal ini dilakukan karena mereka menyadari bahwa setiap huruf yang dibaca di bulan ini akan mendapatkan pahala yang dilipatgandakan dibandingkan bulan lainnya.
Pentingnya Tadabur: Menemukan Solusi dalam Setiap Ayat
Interaksi dengan Al-Qur’an tidak seharusnya berhenti pada membacanya saja, tetapi juga harus mencakup tadabur atau merenungi maknanya.
Melalui tadabur, seseorang dapat menemukan jalan keluar dari kegelisahan dan penyakit.
seperti kisah seorang dokter yang merukiah kerabatnya hingga sembuh dari kanker setelah merenungi ayat tentang kuasa Allah menghancurkan gunung.
Selain itu, kisah Nabi Yunus di dalam perut ikan mengajarkan bahwa perenungan terhadap zikir dan ayat Allah dapat menghilangkan kegelisahan hidup.
Dengan mentadaburi Al-Qur’an, kita tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga sumber ketenangan dan petunjuk yang nyata untuk kehidupan dunia dan akhirat.
