mim.or.id – Bulan Dzulhijjah adalah salah satu musim ketaatan yang paling agung bagi umat Islam, terutama pada sepuluh hari pertamanya.
Rasulullah menegaskan bahwa tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah melainkan pada hari-hari ini, bahkan pahalanya dapat melebihi keutamaan jihad di jalan Allah.
Berikut adalah tiga langkah utama dalam menyambut atau Langkah memuliakan bulan ini
Membersihkan Hati dengan Taubat dan Keikhlasan
Menyambut hari-hari mulia Dzulhijjah hendaknya dimulai dengan taubat yang tulus.
Sebelum memperindah amal dengan berbagai ibadah sunnah, seorang hamba perlu membersihkan hatinya dari noda dosa, karena maksiat dapat melemahkan hati dan menghalangi datangnya taufik Allah.
Baca Juga: Menumbuhkan Karakter Tangguh Sejak Dini, PAUD Qur’an MIM Gelar Outing School
Pintu ampunan Allah selalu terbuka luas bagi siapa saja yang ingin kembali dan menyesali perbuatannya.
Selain taubat, keikhlasan menjadi pondasi utama. Amal yang tampak besar bisa menjadi kecil di mata Allah jika dicampuri dengan riya atau keinginan untuk dipuji manusia.
Ikhlas berarti beramal semata-mata mencari wajah Allah dan tetap konsisten dalam kebaikan meskipun tidak dilihat atau diviralkan oleh orang lain.
Memprioritaskan Amalan Wajib Sebelum yang Sunnah
Dalam mengejar keutamaan Dzulhijjah, sangat penting untuk menjaga urutan prioritas dalam beribadah.
Amal pertama yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh adalah amalan yang wajib, seperti shalat lima waktu tepat pada waktunya dan dengan hati yang hadir,.
Tidak ada cara yang lebih dicintai Allah bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada-Nya selain dengan menunaikan apa yang telah diwajibkan.
Setelah kewajiban terpenuhi, barulah seorang Muslim memperbanyak amalan sunnah sesuai dengan kemudahan yang diberikan Allah kepadanya, baik itu melalui shalat sunnah, sedekah, maupun berbakti kepada orang tua.
Baca Juga: Edukasi Pertanian Sejak Dini, Outing Class KuttabQu MIM Tuai Apresiasi
Perlu diingat bahwa ibadah tidak hanya terbatas di atas sajadah, tetapi mencakup setiap ucapan dan perbuatan yang diridhai Allah.
Menghidupkan Syiar Dzulhijjah dengan Dzikir, Puasa, dan Kurban
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan waktu yang sangat ditekankan untuk memperbanyak dzikir, takbir, tahlil, dan tahmid. Menghidupkan lisan dengan kalimat:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illallah, wallahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd” dapat membuat hati senantiasa merasa diawasi oleh Allah.
Buah dari dzikir yang benar adalah hidupnya hati dan taatnya anggota badan untuk menjauhi maksiat.
Bagi mereka yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, disunnahkan untuk menjalankan puasa, terutama pada hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah.
Selain itu, bagi yang memiliki kelapangan rezeki, ibadah kurban menjadi bentuk ketaatan yang nyata dengan menyiapkan hewan kurban dari harta yang halal dan niat yang ikhlas.
Bagi orang yang berniat berkurban, terdapat tuntunan untuk tidak memotong rambut dan kuku sejak masuknya tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurbannya disembelih.
Sepuluh hari Dzulhijjah adalah kesempatan terbatas yang tidak selalu kembali. Hendaknya momentum ini dijadikan sebagai titik perubahan untuk memperbaiki kualitas shalat, akhlak, dan hubungan kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
