mim.or.id – Hijrah bukanlah sekadar titik awal dari sebuah perubahan tetapi dia adalah pekerjaan seumu hidup dan berkelanjutan yang tidak berhenti hanya pada hari ketika seseorang memutuskan untuk berubah.
Substansi Hijrah yang Berkelanjutan
Memang benar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ
Artinya:“Tidak ada lagi hijrah setelah Fathu Mekkah (penaklukan kota Mekkah)…” (Muttafaqun ‘alaih).
Peristiwa hijrah fisik dari Mekkah ke Madinah demi menyelamatkan agama tidak akan terjadi lagi sejak Mekkah ditaklukkan.
Namun, substansi hijrah yaitu sebagai proses perjalanan meninggalkan kondisi yang menjauhkan kita dari Allah dan Akhirat adalah proses yang harus terus berjalan dan berlangsung.
Baca Juga: Keajaiban Doa dan Hakikat Ujian Kehidupan
Mengapa Hijrah Diperintahkan?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan meninggalkan Mekkah, meskipun di sana terdapat Baitullah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, karena kondisi Mekkah saat itu tidak lagi kondusif.
Mekkah saat itu dipenuhi berhala, perilaku jahiliyah yang dibenci Allah, dan didominasi oleh manusia musyrik yang mengintimidasi serta menyiksa hamba Allah yang ingin menegakkan Tauhid.
Oleh karena itu, beliau diperintahkan berhijrah menuju Madinah, yang jauh lebih kondusif untuk beribadah dan membangun masa depan perjuangan yang lebih kuat. Inilah spirit hijrah yang harus dipahami:
Ketika kondisi keberagamaan kita semakin terancam, semakin jauh dari Allah, atau terjebak dalam perilaku jahiliyah yang membuat kita lupa pada Akhirat, di saat itulah kita harus segera berhijrah.
Kita harus meninggalkan apa saja yang melalaikan kita dari Allah dan Akhirat, dan mencari apa yang dapat membuat kita ingat dan dekat dengan Allah Ta’ala.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا
Artinya: “Bukankah bumi Allah itu sangat luas, sehingga kalian bisa berhijrah di (bagian manapun dari)nya?” (Surah al-Nisa’: 97).
Rezeki Allah itu luas dan tidak terbatas di satu tempat. Karena itu, jangan pernah takut berhijrah demi masa depan Akhirat yang lebih baik, demi lebih dekat dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Hijrah Demi Akhirat, Bukan Hanya Dunia
Baca Juga: Mabit & Rihlah KuttabQu MIM 2025: Latih Kemandirian dan Ukhuwah
Banyak orang rela berhijrah meninggalkan kampung halaman demi mencari penghidupan dunia yang lebih baik atau penghasilan yang lebih berlimpah. Sayangnya, tidak banyak orang yang rela meninggalkan zona nyaman dunianya untuk mendapatkan zona kebahagiaan Akhiratnya.
Ada yang rela hidup dalam gelimang harta haram karena takut miskin, dan enggan berhijrah meninggalkan kehidupan jahiliyahnya untuk kembali kepada kehidupan yang diridhai Allah Ta’ala.
Kita harus belajar dari kehidupan para nabi dan rasul alaihimussalam, yang menunjukkan keberanian untuk menanggung risiko meninggalkan tawaran dunia demi mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala.
Contohnya adalah Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau rela meninggalkan zona nyaman di kampung halamannya dan memenuhi perintah Allah Ta’ala untuk menegakkan Tauhid.
Beliau menanggung konsekuensi hijrahnya, termasuk dibakar hidup-hidup, karena yakin Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dan pasti akan menolongnya serta memberikan pengganti yang jauh lebih baik.
Janji Pengganti dari Allah
Setiap hamba yang memutuskan berhijrah harus memiliki keyakinan bahwa siapapun yang meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah akan memberinya pengganti yang jauh lebih baik.
Meskipun harus meninggalkan kehidupan duniawi yang penuh fasilitas menuju keterbatasan, Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan yang memenuhi hati dan jiwa. Yang lebih utama, Allah akan mengganti kehidupan dunia yang sempit itu dengan kebahagiaan dan nikmat tanpa batas di Surga Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, jangan pernah takut untuk berhijrah, meninggalkan apa saja yang menjauhkan kita dari Allah dan Akhirat, demi menjemput ampunan dan keridhaan Allah yang tak ternilai.



