mim.or.id – Dalam perjalanan ibadah, takwa merupakan tujuan puncak dari seluruh rangkaian ibadah yang dilakukan seorang Muslim.
Salah satu kabar gembira yang dijanjikan Allah bagi hamba-Nya yang bertakwa adalah karunia berupa ilmu dan hikmah. Meskipun keduanya memiliki makna yang berdekatan.
Ilmu Dimaknai sebagai Wawasan atau Pengetahuan
Hikmah mewakili ketepatan sikap dalam menggunakan atau menempatkan ilmu tersebut sebagaimana mestinya.
Tidak semua orang yang memiliki hafalan banyak atau pengetahuan dalam juga memiliki hikmah untuk bertindak secara tepat.
Oleh karena itu, menuntut ilmu menjadi kewajiban besar karena merupakan jalan penting menuju ketakwaan agar seseorang mengetahui apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah.
Baca Juga: Komitmen Pesantren Qur’an MIM Berbuah Manis: Santri Jadi Hafizh 30 Juz
Al-Furqan: Kemampuan Membedakan Hak dan Batil di Era Informasi
Salah satu janji Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 29, Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ
Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
Al-furqan adalah kemampuan seseorang untuk membedakan antara yang hak (benar) dan yang batil (salah), serta antara yang patut dan tidak patut.
Kemampuan ini sangat krusial di zaman sekarang, di mana penyebaran informasi sangat masif dan sulit dibendung.
Di era perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), informasi yang valid sering kali bercampur aduk dengan hoaks atau informasi yang difabrikasi.
Tanpa al-furqan, manusia akan sangat mudah tertipu meskipun mereka rajin beribadah secara fisik. Level tertinggi dari furqan bisa juga membedakan benar dan salah.
Keutamaan Seorang Alim di Atas Seribu Abid
Mengutip sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa seorang yang berilmu dan memiliki hikmah jauh lebih utama dibandingkan 1.000 orang ahli ibadah (abid).
Baca Juga: ORI Campak Digelar di PAUD Qur’an MIM, Upaya Cegah Penyebaran Penyakit Menular
Hal ini dikarenakan ahli ibadah yang tidak dibekali ilmu dan furqan cenderung menjadi sekumpulan orang yang mudah dibohongi, dikerjai, atau menjadi korban penipuan, termasuk penipuan yang mengatasnamakan agama.
saat ini, banyak orang berbicara atas nama agama tanpa memiliki kapasitas dan kapabilitas yang memadai. Perkembangan teknologi mempermudah siapa saja untuk menuliskan pikiran mereka meskipun keliru atau sesat.
Dengan menjadi pribadi yang bertakwa, Allah menjanjikan senjata luar biasa berupa furqan agar kita tidak tersesat dalam menghadapi hiruk-pikuk informasi di zaman ini.
Menuntut ilmu adalah awal dari segalanya, karena dari proses itulah Allah akan mengaruniakan hikmah dan kemampuan untuk membedakan kebenaran.
