mim.or.id – Dalam kehidupan ini, manusia seringkali terfokus pada persiapan masa depan, menumpuk harta, dan mengejar pangkat. Namun, sumber yang ada mengingatkan kita akan hakikat kehidupan yang sebenarnya: hari esok belum tentu miliku
Rezeki Hari ini dan Ketidakpastian Hari Esok
Rasulullah pernah bersabda mengenai seseorang yang memiliki makanan untuk dinikmati hari itu, tanpa menyebutkan cadangan makanan untuk esok hari. Ini menunjukkan bahwa rezeki yang kita miliki saat ini adalah anugerah langsung dari Allah, dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Meskipun kita seringkali memiliki cadangan makanan atau uang di rekening untuk beberapa hari atau bahkan bulan ke depan, bahkan uang di rekening pun belum tentu milik kita.
Seorang ulama bahkan pernah mengatakan bahwa orang kaya dan miliarder perlu diberitahu dua hal tentang harta mereka: jika tidak akan diwarisi, maka akan hangus terbakar atau musnah karena bencana. Harta juga bisa menjadi sumber perselisihan di antara ahli waris.
Allah menegaskan bahwa hanya Dia yang Maha Tahu kapan datangnya hari kiamat, siapa yang menurunkan hujan, dan bagaimana janin dalam rahim seorang ibu terbentuk. Bahkan dengan teknologi secanggih sekalipun, prediksi manusia bisa meleset, karena Allah-lah yang Maha Tahu.
Baca Juga: 5 Nasihat Penting sebelum Berbuat Maksiat
Pertanggungjawaban atas Setiap Nikmat
Semua nikmat yang kita rasakan, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban di hari kemudian. Ayat Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At Takatsur: 8).
Dibacakan oleh Rasulullah bahkan ketika beliau dan para sahabat hanya makan kurma dan minum air zam-zam. Sahabat pun heran, bertanya apakah nikmat sesederhana kurma dan air zamzam juga akan ditanya.
Ini menunjukkan betapa seriusnya pertanggungjawaban atas setiap anugerah dari Allah. Rezeki ada dua jenis: yang mendatangi kita dan yang kita datangi, dan keduanya adalah nikmat yang akan dipertanyakan.
Hakikat Kemuliaan di Sisi Allah
Banyaknya rezeki yang diberikan Allah bukanlah ukuran kemuliaan seorang hamba di sisi-Nya. Contoh nyata adalah perbandingan antara Abu Lahab dan Bilal bin Rabah.
Abu Lahab adalah orang yang kaya raya dan memiliki pangkat tinggi di zamannya, namun tempatnya adalah di neraka. Hartanya dan apa yang ia dapatkan sedikitpun tidak bermanfaat baginya.
Sebaliknya, Bilal bin Rabah, seorang mantan budak berkulit hitam dari Habasyah yang tidak terkenal, disiksa oleh majikannya Umayyah demi mempertahankan akidahnya. Ia dijual dengan harga murah dan dibeli oleh Abu Bakar.
Namun, karena kedekatannya dengan Allah, Rasulullah pernah mendengar suara terompah kakinya di surga. Ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan sejati bukanlah dengan banyaknya harta, tingginya pangkat, atau jabatan, melainkan kedekatan dengan Allah.
Baca Juga: Bersegera dalam Kebaikan sebelum Kesempatan Dicabut
Penyesalan di Hari Kiamat
Di hari kiamat, orang-orang yang menerima catatan amal dari tangan kirinya akan berkata, “Duhai, Andaikan Saya tidak menerima kitab saya ini”.
Mereka akan menyesali bahwa harta yang mereka kumpulkan, pekerjaan yang membuat mereka banting tulang dari subuh hingga larut malam, bahkan dengan menghalalkan segala cara, tidak bermanfaat sedikit pun.
Kekuasaan dan jabatan yang di dunia diperebutkan, dipertengkarkan, dan menimbulkan permusuhan, juga tidak akan berarti apa-apa. Di hari kiamat, mereka akan berkata, ‘Ternyata harta yang saya kumpulkan dulu tidak bermanfaat sedikit pun’.
Pangkat kekuasaan jabatan yang kita lihat hari ini dipertengkarkan diperebutkan… tidak ada yang namanya sahabat sejati dalam perebutan kekuasaan, yang ada itu adalah kepentingan yang sejati, hilang rahim Allah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala”.
Maka dari itu, mari kita renungkan kembali prioritas kita. Fokus pada apa yang membawa manfaat di akhirat, karena hari esok adalah misteri, dan hanya Allah yang Maha Mengetahui segalanya.
