Home Khutbah Khutbah Jum’at: Cintailah Rasulullah, Tapi…(Edisi 131, 8 Rabiul Awal 1448 H)

Khutbah Jum’at: Cintailah Rasulullah, Tapi…(Edisi 131, 8 Rabiul Awal 1448 H)

0
Sampul Khutbah
Ilustrasi Sampul Khutbah Jum'at Edisi,131

mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at dengan tema Cintailah Rasulullah, Tapi…(Edisi 131, 8 Rabiul Awal 1448 H).

‘Cintailah Rasulullah, Tapi…’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian: marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang tidak hanya terdengar di lisan, tetapi terlihat dalam ketaatan. Takwa yang tidak hanya hidup ketika kita berada di masjid, tetapi juga menemani kita ketika berada di rumah, di tempat kerja, di pasar, dan ketika jari-jari kita menyentuh layar telepon genggam.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Setiap Muslim tentu ingin mengatakan, “Saya mencintai Rasulullah ﷺ.”

Kita bershalawat ketika nama beliau disebut. Kita merasa sedih ketika kehormatan beliau direndahkan. Kita bergembira mendengar kisah perjalanan hidup beliau. Kita ingin kelak berada dekat dengan beliau di surga.

Namun ada satu pertanyaan yang patut kita tanyakan kepada diri sendiri dengan jujur:

Apakah cinta itu telah mengubah cara hidup kita?

Sebab cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar perasaan. Cinta mempunyai konsekuensi. Cinta mempunyai bukti. Dan bukti terbesar cinta kepada beliau adalah mengikuti petunjuk beliau.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Di dalam ayat ini, Allah tidak menjadikan ukuran cinta sekadar banyaknya pengakuan. Allah mengaitkan cinta dengan satu kata yang sangat penting:

فَاتَّبِعُونِي

Maka ikutilah aku.”

Inilah yang disebut ittiba’: mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, cinta yang benar kepada Nabi ﷺ tampak dalam mengikuti petunjuknya, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, membela Sunnahnya, dan mendahulukan tuntunan beliau daripada hawa nafsu manusia.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Renungkanlah, bahwa ternyata Beliau tidak hanya harus kita cintai. Beliau harus kita cintai melebihi manusia yang paling dekat dengan kita.

Tetapi apakah maksudnya kita sekadar merasakan emosi yang lebih kuat kepada Rasulullah ﷺ? Tentu saja tidak.

Di antara bukti cinta tersebut ialah ketika petunjuk Rasulullah ﷺ berhadapan dengan keinginan kita, kita memilih petunjuk beliau.

Ketika Sunnah bertemu dengan kebiasaan masyarakat, kita berusaha mendahulukan Sunnah.

Ketika ajaran beliau bertemu dengan hawa nafsu kita, kita belajar menundukkan hawa nafsu.

Ketika beliau mengajarkan kejujuran, sementara keuntungan dunia menggoda kita untuk berdusta, cinta kepada Nabi ﷺ berkata: “Jujurlah.”

Ketika beliau mengajarkan menjaga amanah, sementara kesempatan untuk berkhianat terbuka lebar, cinta kepada Nabi ﷺ berkata: “Jagalah amanah.”

Ketika beliau mengajarkan kelembutan kepada keluarga, sementara emosi mendorong kita membentak pasangan dan anak-anak, cinta kepada Nabi ﷺ mengingatkan: “Ikutilah akhlak beliau.”

Ketika beliau mengajarkan menjaga lisan, sementara media sosial memancing kita untuk mencela, menghina, menyebarkan aib, dan berdebat tanpa ilmu, cinta kepada Nabi ﷺ mengingatkan kita untuk menahan jari sebelum menekan tombol “kirim”.

Inilah cinta yang sejati kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Marilah kita merenung sejenak, jamaah sekalian…

Jangan sampai kita sangat marah ketika ada orang lain dianggap merendahkan Rasulullah ﷺ, tetapi kita sendiri ringan meninggalkan perintah beliau.

Jangan sampai kita memenuhi layar media sosial dengan shalawat, tetapi pada layar yang sama kita menyebarkan ghibah, fitnah, tuduhan, dan berita yang belum jelas kebenarannya.

Jangan sampai nama Rasulullah ﷺ begitu indah berada dalam profil kita, tetapi Sunnah kejujuran beliau tidak hadir dalam perdagangan kita.

Jangan sampai kita mengaku sebagai umat Muhammad ﷺ, tetapi keluarga kita justru paling sering terluka oleh lisan dan kemarahan kita.

Sesungguhnya cinta yang paling agung tidak selalu ditunjukkan dengan klaim yang paling keras. Kadang-kadang bukti cinta itu sangat sederhana: seorang suami menahan kemarahannya karena mengingat akhlak Nabi ﷺ; seorang pedagang menolak berbohong karena mengikuti Nabi ﷺ; seorang anak tetap lembut kepada orang tuanya; seseorang meminta maaf karena tidak ingin kesombongan menguasai hatinya; semua itu dilakukan karena mengikuti ajaran dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Itu semua adalah bagian dari ittiba’.

Allah berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barang siapa menaati Rasul, sungguh ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80).

Dan Allah berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7).

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Para sahabat memberikan teladan luar biasa dalam perkara ini.

Ketika Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad, beliau berkata:

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu yang tidak dapat memberikan mudarat dan manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Nabi ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

Perkataan Umar ini didasarkan pemahaman yang sangat dalam terhadap prinsip dan spirit utama ajaran Islam yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa dia tidak mengikuti Rasulullah ﷺ karena menganggap Hajar Aswad itu memiliki kekuatan gaib. Justru beliau menegaskan tauhid terlebih dahulu: batu itu tidak memberi manfaat ataupun mudarat dengan sendirinya.

Lalu mengapa beliau menciumnya?

Jawabannya satu: yaitu karena beliau melihat Rasulullah ﷺ melakukannya. Itu saja.

Inilah ittiba’ yang berdiri di atas tauhid.

Sekali lagi, kisah Umat ini adalah gambaran kuat tentang bagaimana kesungguhan generasi sahabat membuktikan cinta mereka dengan sepenuhnya mengikuti Rasulullah ﷺ.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Hari ini, di dunia maya, ada ribuan nasihat agama, potongan ceramah, gambar berisi hadis, dan kutipan yang dinisbatkan kepada Nabi ﷺ dapat tersebar kepada ribuan manusia hanya dalam hitungan menit.

Maka harus kita ingat, bahwa mencintai Rasulullah ﷺ juga berarti berhati-hati agar kita tidak menisbatkan kepada beliau sesuatu yang tidak pernah beliau ucapkan.

Karena itu, tidak semua postingan yang bertuliskan “Sabda Rasulullah” itu pasti benar sebagai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaih wa sallam.

Jangan merasa bahwa karena sebuah video telah ditonton jutaan kali berarti isinya pasti Sunnah. Jangan mengukur kebenaran dengan jumlah like, jumlah pengikut, atau banyaknya orang yang membagikannya.

Ukurlah dengan ilmu. Tanyakan: Apakah benar Nabi ﷺ mengucapkannya? Apakah hadisnya sahih? Bagaimana para ulama menjelaskannya?

Sebab membela Sunnah bukan hanya dengan bersemangat menyebarkannya. Membela Sunnah juga berarti menjaganya agar tidak dicampuri oleh sesuatu yang bukan darinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 إنَّ كَذِبًا عليَّ ليس كَكَذِبٍ على أحَدٍ، مَن كَذَبَ عليَّ مُتَعَمِّدًا فليَتَبَوَّأْ مَقعَدَه مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya satu kedustaan atas namaku tidaklah sama dengan kedustaan atas nama seorang (selainku). Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya dari Neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini adalah peringatan keras bagi siapapun, terutama para penceramah dan penulis untuk berhati-hati menisbatkan dan menyandarkan sebuah pernyataan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hati-hati mengatakan “Rasulullah bersabda…”, padahal beliau tidak pernah mengatakannya.

Hati-hati mengatakan “dalam hadits dikatakan…”, padahal beliau tidak pernah menyampaikannya.

Maka, saudara-saudaraku,

Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus berpijak pada ilmu yang benar. Mengikuti Sunnah juga harus dilakukan dengan ilmu. Karena, Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling teguh di atas kebenaran, namun beliau juga manusia yang paling luhur akhlaknya.

Maka semakin seseorang mengikuti Nabi ﷺ, semestinya semakin jujur lisannya, semakin amanah tangannya, semakin lembut kepada keluarganya, semakin jauh dari kesombongan, dan semakin takut menzalimi manusia.

Marilah kita bertanya kepada hati kita:

Jika Rasulullah ﷺ melihat rumah kita, apakah beliau akan mengenali Sunnahnya di sana?

Jika beliau melihat cara kita berbicara kepada istri dan anak-anak, apakah terlihat akhlak beliau?

Jika beliau melihat pekerjaan dan perdagangan kita, apakah tampak kejujuran beliau?

Jika beliau melihat isi telepon genggam kita, komentar kita, video yang kita sebarkan, dan percakapan kita, apakah semua itu menunjukkan bahwa kita benar-benar ingin menjadi pengikut beliau?

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Kita tidak sedang dituntut menjadi manusia tanpa dosa. Kita adalah manusia yang lemah. Tetapi seorang pencinta akan selalu ingin mendekat kepada jalan orang yang dicintainya.

Ketika terjatuh, ia bangkit. Ketika lalai, ia beristighfar. Ketika mengetahui satu Sunnah yang sahih, ia berusaha mengamalkannya. Ketika mengetahui satu kesalahan dalam dirinya, ia berusaha meninggalkannya.

Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai mengikuti Nabi ﷺ. Mulailah hari ini.

Perbaiki satu shalat kita.

Tinggalkan satu kebiasaan buruk.

Pelajari satu Sunnah yang sahih.

Sebab boleh jadi dari langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas itulah Allah menumbuhkan cinta yang besar kepada Rasul-Nya ﷺ.

Ya Allah, hidupkanlah hati kami dengan kecintaan kepada Nabi-Mu. Jadikan cinta itu cinta yang jujur, yang membimbing kami menuju ketaatan dan Sunnahnya.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Sekali lagi saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah.

Ingatlah satu pesan khutbah kita hari ini:

Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya sesuatu yang kita rasakan. Cinta kepada beliau adalah jalan yang kita ikuti.

Allah telah memberikan ukuran yang sangat jelas di dalam al-Qur’an:

فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”

Maka apabila kita ingin mengetahui seberapa besar cinta kita kepada Rasulullah ﷺ, jangan hanya menghitung berapa banyak shalawat yang keluar dari lisan kita. Lihat pula seberapa banyak petunjuk beliau yang telah masuk ke dalam kehidupan kita.

Shalawatilah beliau. Pelajari sirah beliau. Hormatilah Sunnah beliau. Cintailah para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Ajarkan kepada anak-anak kita siapa Rasulullah ﷺ. Hadirkanlah sunnah beliau dalam kehidupan kita di rumah dan di mana pun.

Jadikan cinta kepada Nabi ﷺ terlihat dalam kesabaran seorang ayah, kelembutan seorang ibu, bakti seorang anak, kejujuran seorang pedagang, amanah seorang pegawai, keadilan seorang pemimpin, ilmu seorang penuntut ilmu, dan adab seorang pengguna media sosial.

Jangan sampai anak-anak kita mengenal banyak tokoh dunia tetapi hanya sedikit mengenal Nabinya. Jangan sampai mereka hafal kehidupan selebritas tetapi asing dengan kehidupan Muhammad ﷺ.

Ceritakan kepada mereka bagaimana beliau shalat. Bagaimana beliau bersabar.

Bagaimana beliau memperlakukan keluarga. Bagaimana beliau memaafkan.

Bagaimana beliau berani membela kebenaran. Bagaimana beliau menyayangi orang yang lemah.

Dengan demikian, insya Allah, cinta kepada Nabi ﷺ tidak berhenti menjadi slogan dari satu generasi, tetapi menjadi cahaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.

Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version