mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Jagalah Lisanmu’ (Edisi 137, 20 Rabiul Akhir 1448 H).
Untuk selengkapnya:

‘JAGALAH LISANMU‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Marilah kita menjaga apa yang Allah perintahkan untuk dijaga, meninggalkan apa yang Allah haramkan, serta senantiasa menyadari bahwa tidak ada satu pun perbuatan kita yang tersembunyi dari pengawasan-Nya.
Di antara nikmat Allah yang sangat besar, tetapi sering kali kurang kita syukuri, adalah nikmat lisan. Dengan lisan, seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan lisan, kita membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, mengajarkan ilmu, menasihati keluarga, menghibur orang yang sedang bersedih, mendamaikan orang yang berselisih, dan mengucapkan kata-kata yang menyenangkan hati saudara kita.
Allah mengingatkan nikmat ini ketika berfirman:
أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ
“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, dan lidah serta dua bibir?” (QS. Al-Balad: 8–9).
Lisan adalah nikmat yang besar. Akan tetapi, di balik besarnya nikmat itu terdapat tanggung jawab yang juga besar. Lisan kecil ukurannya, ringan digerakkan, dan tidak membutuhkan tenaga besar untuk menggunakannya. Namun, betapa besar akibat yang dapat ditimbulkannya. Karena itulah dikatakan bahwa lisan, meskipun kecil bentuknya, dapat besar kejahatannya. Apabila seseorang membiarkan lisannya tanpa kendali, setan dapat menyeretnya dari satu keburukan menuju keburukan berikutnya.
Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat yang sangat mendalam kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis tersebut terdapat sabda beliau:
وَهَلْ يُكِبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ ـ أَوْ قَالَ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ ـ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟
“Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka—atau beliau bersabda: di atas hidung-hidung mereka—tidak lain adalah hasil panen lisan mereka?”
Dalam bahan yang menjadi dasar khutbah ini disebutkan bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan selainnya dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, dan at-Tirmidzi menilainya hasan shahih.
Perhatikan ungkapan Nabi ﷺ:
حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“hasil panen lisan mereka.”
Seorang petani akan memanen apa yang dahulu ditanamnya. Demikian pula manusia. Kata-kata yang hari ini kita lepaskan akan mempunyai panen. Ada panen berupa pahala, tetapi ada pula panen berupa dosa. Ada ucapan yang menjadi sebab seseorang memperoleh keridaan Allah, dan ada ucapan yang kelihatannya ringan tetapi ternyata menyeret pemiliknya menuju kebinasaan.
Berapa banyak perkataan yang keluar tanpa dipikirkan terlebih dahulu, kemudian menjadi penyesalan bertahun-tahun. Berapa banyak persahabatan yang rusak karena satu kalimat. Berapa banyak rumah tangga menjadi panas karena kata-kata yang dilontarkan ketika marah.
Berapa banyak saudara yang dahulu saling mencintai kemudian saling menjauh karena ucapan yang menyakitkan. Sebaliknya, betapa banyak hati yang kembali tenang karena sebuah nasihat yang lembut. Betapa banyak orang yang hampir berputus asa kemudian bangkit kembali karena mendengar kalimat yang baik.
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang diridai Allah, sementara dia tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang besar, lalu Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan tersebut. Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang mendatangkan kemurkaan Allah, sementara dia tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang besar, lalu karena perkataan itu dia terjerumus ke dalam Jahannam.” (HR. al-Bukhari).
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Hadis ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak sebelum berbicara. Jangan meremehkan sebuah kata hanya karena mengucapkannya membutuhkan waktu beberapa detik. Nilai perkataan bukan diukur dari lamanya kita mengucapkannya, tetapi dari apa yang dikandungnya dan akibat yang ditimbulkannya.
Karena itu, menjaga lisan merupakan salah satu jalan keselamatan. Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barang siapa menjamin bagiku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang berada di antara kedua kakinya, niscaya aku menjamin baginya surga.”
Yang berada di antara dua rahang adalah lisan, sedangkan yang dimaksud dengan apa yang berada di antara kedua kaki adalah kemaluan. Maka keselamatan seorang Muslim sangat erat kaitannya dengan kemampuannya menjaga kehormatan dan menjaga lisannya.
Lisan dapat diibaratkan seperti pedang. Pedang yang digunakan dengan benar dapat memberikan manfaat, tetapi ketika dilepaskan tanpa kendali dapat melukai. Demikian pula sebuah perkataan. Satu kalimat dapat menghancurkan ketenteraman sebuah rumah, tetapi satu kalimat pula dapat menjadi sebab perdamaian. Satu perkataan dapat memutus persaudaraan, sedangkan perkataan yang lain dapat menyambungkan kembali hati yang telah lama berjauhan.
Dan yang lebih patut kita renungkan, semua ucapan itu dicatat dengan baik oleh Allah Ta’ala.
Allah جل جلاله berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18).
Artinya, setiap perkataan berada dalam pengawasan Allah. Percakapan di rumah, gurauan bersama sahabat, komentar ketika marah, ucapan di tempat kerja, bahkan apa yang kita tuliskan melalui jari-jari kita di ruang digital, semuanya layak kita timbang dengan timbangan ketakwaan.
Dahulu bahaya lisan terutama muncul melalui perkataan yang didengar oleh orang-orang di sekitar kita. Hari ini, satu perkataan dapat berubah menjadi tulisan, rekaman, komentar, unggahan, atau pesan yang dalam hitungan detik sampai kepada begitu banyak manusia. Seseorang mungkin telah melupakan apa yang ditulisnya, sementara tulisan itu masih dibaca dan disebarkan oleh orang lain.
Karena itu, adab menjaga lisan juga harus kita bawa ke dunia digital. Jangan sampai tangan kita menuliskan sesuatu yang seandainya diucapkan langsung di hadapan orang yang bersangkutan kita sendiri malu mengatakannya. Jangan menjadikan layar sebagai penghalang yang membuat kita berani menghina, merendahkan, menyebarkan prasangka, membuka aib, atau memperolok sesama Muslim.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Para salaf memberikan perhatian yang sangat besar terhadap perkara lisan. Disebutkan bahwa Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pernah memegang lisannya seraya berkata:
هَذَا الَّذِي أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ
“Inilah yang menyeretku ke berbagai tempat yang berbahaya.”
Renungkanlah. Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, manusia terbaik umat ini setelah Rasulullah ﷺ, begitu takut terhadap lisannya. Lalu bagaimana dengan kita yang begitu mudah berbicara tentang siapa saja dan tentang apa saja?
Disebutkan pula perkataan Umar Radhiyallahu ‘anhu:
مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ، وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ
“Barang siapa banyak berbicara, banyak pula kesalahannya; dan barang siapa banyak kesalahannya, banyak pula dosanya.”
Dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:
مَا مِنْ شَيْءٍ أَحْوَجُ إِلَى طُولِ سِجْنٍ مِنَ اللِّسَانِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih membutuhkan penjara yang panjang daripada lisan.”
Sebuah ungkapan yang sangat dalam. Lisan tidak harus selalu dilepaskan hanya karena kita mampu berbicara. Ada saatnya berbicara merupakan kebaikan, dan ada saatnya diam justru merupakan keselamatan.
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu juga disebutkan pernah memegang lisannya dan berkata:
وَيْحَكَ، قُلْ خَيْرًا تَغْنَمْ، وَاسْكُتْ عَنْ سُوءٍ تَسْلَمْ، وَإِلَّا فَاعْلَمْ أَنَّكَ سَتَنْدَمُ
“Celakalah engkau. Berkatalah yang baik, niscaya engkau beruntung. Diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal.”
Dan al-Hasan Rahimahullah berkata:
مَا عَقَلَ دِينَهُ مَنْ لَمْ يَحْفَظْ لِسَانَهُ
“Tidak sempurna pemahaman agamanya orang yang tidak menjaga lisannya.”
Nasihat-nasihat tersebut menunjukkan betapa orang-orang saleh terdahulu tidak memandang ringan persoalan ucapan. Mereka memahami bahwa ketakwaan bukan hanya terlihat ketika seseorang berdiri dalam shalat. Ketakwaan juga tampak pada bagaimana dia berbicara kepada istrinya, suaminya, anaknya, tetangganya, bawahannya, atasannya, sahabatnya, bahkan kepada orang yang sedang berbeda pendapat dengannya.
Ibn Wahb rahimahullah bahkan berkata:
نَذَرْتُ أَنِّي كُلَّمَا اغْتَبْتُ إِنْسَانًا أَنْ أَصُومَ يَوْمًا، فَأَجْهَدَنِي، فَكُنْتُ أَغْتَابُ وَأَصُومُ، فَنَوَيْتُ أَنِّي كُلَّمَا اغْتَبْتُ إِنْسَانًا أَنْ أَتَصَدَّقَ بِدِرْهَمٍ، فَمِنْ حُبِّ الدَّرَاهِمِ تَرَكْتُ الْغِيبَةَ
“Aku bernazar bahwa setiap kali aku menggunjing seseorang, aku akan berpuasa sehari. Hal itu memberatkanku; aku menggunjing lalu berpuasa. Kemudian aku berniat bahwa setiap kali aku menggunjing seseorang, aku akan bersedekah satu dirham. Karena kecintaanku kepada dirham, akhirnya aku meninggalkan ghibah.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 9/228).
Perhatikan bagaimana para Ulama salaf yang itu shalih mendidik dirinya. Ia mengenali kelemahan dirinya, kemudian memberikan konsekuensi kepada dirinya agar kebiasaan buruk itu terputus. Ini merupakan pelajaran praktis bagi kita. Orang yang sungguh-sungguh ingin menjaga lisannya tidak hanya berkata, “Saya ingin berubah,” tetapi juga mencari jalan untuk mendidik dirinya.
Jika kita mudah marah, biasakan diam ketika emosi mulai meninggi. Jika kita mudah menggunjing ketika berkumpul dengan kelompok tertentu, kurangi majelis yang membawa kita kepada ghibah atau alihkan pembicaraan.
Jika kita mudah menulis komentar kasar, jangan langsung menekan tombol kirim. Baca kembali. Tanyakan kepada hati: apakah kalimat ini mendatangkan keridaan Allah atau justru akan menjadi sesuatu yang ingin aku hapus dari catatan amal pada hari kiamat?
Disebutkan dalam syair Arab:
اِحْفَظْ لِسَانَكَ أَيُّهَا الْإِنْسَانُ
لَا يَلْدَغَنَّكَ إِنَّهُ ثُعْبَانُ
“Jagalah lisanmu, wahai manusia;
jangan sampai ia mematukmu, karena sesungguhnya ia laksana ular.”
Marilah kita merenung sejenak…
Berapa banyak dosa lisan yang mungkin sudah kita lupakan? Mungkin pernah ada seseorang yang kita tertawakan, tetapi ia pulang membawa luka. Mungkin pernah ada rahasia saudara kita yang kita sebarkan. Mungkin kita pernah mendengar berita yang belum jelas lalu dengan ringan meneruskannya. Mungkin kita pernah menggunjing seseorang, sementara jika orang itu berada di depan kita, kita tidak berani mengatakan hal yang sama.
Disebutkan sebuah perkataan yang dinisbatkan kepada salah seorang salaf:
تِسْعَةُ أَعْشَارِ الذُّنُوبِ مِنَ اللِّسَانِ
“Sembilan puluh persen dosa itu berasal dari lisan.”
Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah, pikirkanlah sebelum berbicara.
Tanyakan kepada diri: apakah ucapan ini benar? Apakah diperlukan? Apakah cara menyampaikannya baik? Apakah Allah meridainya?
Sibukkanlah lisan dengan sesuatu yang lebih mulia: membaca Al-Qur’an, berzikir, beristighfar, mengajarkan kebaikan, mendoakan orang lain, menasihati dengan lembut, serta mengucapkan kata-kata yang menenangkan.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Jadikan lisan kita seperti benteng yang dijaga oleh ketakwaan. Jangan biarkan setiap lintasan hati langsung berubah menjadi perkataan. Sebab kita mungkin dapat meminta maaf atas sebuah ucapan, tetapi kita tidak selalu mampu menghapus luka yang ditimbulkannya. Kita mungkin mampu menghapus sebuah tulisan dari layar kita, tetapi kita tidak tahu berapa orang yang telah membacanya, menyimpannya, atau menyebarkannya.
Berbahagialah orang yang ketika berbicara ia memperoleh pahala, dan ketika tidak ada kebaikan untuk dikatakan ia memilih diam. Berbahagialah orang yang lisannya basah dengan zikir kepada Allah, lembut kepada keluarganya, jujur dalam pekerjaannya, santun ketika berbeda pendapat, dan jauh dari kehormatan kaum Muslimin.
Semoga Allah membersihkan lisan kita dari dusta, ghibah, namimah, celaan, dan segala ucapan yang dimurkai-Nya.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Pesan yang kita bawa pulang pada hari ini sederhana, tetapi berat dalam pengamalannya: jagalah lisan. Jangan menganggap remeh perkataan, karena Allah telah berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18).
Sebelum kita berbicara tentang kesalahan orang lain, ingatlah bahwa kita mempunyai kesalahan sendiri yang membutuhkan ampunan Allah. Sebelum kita membuka aib saudara kita, ingatlah betapa banyak aib kita yang selama ini ditutupi Allah. Sebelum mengirimkan sebuah komentar ketika sedang marah, ingatlah bahwa kemarahan dapat berlalu dalam beberapa menit, sedangkan dosa akibat perkataan dapat tetap tertulis sampai kita menghadap Allah.
Gunakanlah lisan untuk sesuatu yang mendekatkan kita kepada surga. Gunakanlah untuk mengucapkan kalimat tauhid, membaca Al-Qur’an, berzikir, beristighfar, mendoakan kedua orang tua, mengajarkan kebaikan kepada anak-anak, mendamaikan orang yang bertengkar, menghibur orang yang bersedih, serta menasihati saudara dengan kelembutan.
Jangan sampai lisan yang setiap hari kita gunakan membaca ayat-ayat Allah menjadi lisan yang sama yang merobek kehormatan seorang Muslim. Jangan sampai lisan yang bershalawat kepada Nabi ﷺ menjadi lisan yang sama yang gemar berdusta dan mencela.
Maka marilah kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan kepada kita hati yang bertakwa dan lisan yang terjaga.
Dan marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa hanya kepada Allah Azza wa Jalla:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.
Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.
Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



