mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Jalan Bahagia Sejati’ (Edisi 082, 20 Rabiul Awal 1447).
Naskah selengkapnya:

‘Jalan Bahagia Sejati’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, satu-satuNya tuhan yang berhak untuk disembah, yang tidak pernah berhenti melimpahkan karunia dan nikmatNya di sepanjang waktu dan kehidupan kita. Dengan semua kelalaian dan kemaksiatan yang kita lakukan nyaris di setiap waktu. Allah Ta’ala selalu membukakan pintu dan memberikan kesempatan kepada kita untuk bertaubat kepadaNya dan memperbaiki diri.
Shalawat dan salam tak henti-hentinya kita ucapkan untuk kekasih kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menuntunkan kita jalan untuk mengenal Allah Ta’ala.
Kaum Muslimin yang dimuliakan!
Siapa di antara kita yang tidak menginginkan kebahagiaan? Kita semua pasti mengimpikan dan menginginkan kebahagiaan. Tapi banyak manusia-dan mungkin termasuk kita-yang gagal meraihnya, karena kita salah mendefinisikan apa “kebahagiaan” yang sebenarnya.
Banyak dari kita yang mendefinisikan “kebahagiaan” itu sebagai harta dan materi yang berlimpah. Berkejaranlah kita dengan waktu, bersimbah keringat dan air mata, bahkan mungkin darah, demi mengejar rupiah demi rupiah. Ternyata setelah harta itu berlimpah dalam genggaman, ternyata tidak ada rasa bahagia. Kita mungkin senang dan gembira, tapi tidak bahagia.
Banyak dari kita yang mendefinisikan “kebahagiaan” itu sebagai jabatan dan kedudukan, merasa dihormati dan dijunjung oleh sesama manusia. Bersimbah keringat dan air matalah kita, mengorbankan apa sajalah kita, demi mendapatkan jabatan itu. Tapi ternyata, setelah meraih jabatan itu, mungkin kita merasa terhormat dan dijunjung tinggi manusia, tapi kita tidak pernah merasakan kebahagiaan.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!
Karena itu, Allah Azza wa Jalla melalui Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bagaimana mendefinisikan “kebahagiaan sejati” itu sesungguhnya. Bahwa kita manusia ciptaan Allah ini tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati kecuali ketika jalan hidup kita adalah jalan penghambaan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kita takkan pernah mencicipi rasa bahagia yang sesungguhnya sampai hidup kita ini sepenuhnya kita jalani sebagai jalan penghambaan yang berujung pada kebahagiaan abadi di Akhirat. Kita takkan pernah merasakan bahagia yang sebenarnya, sampai kita menjadikan dunia ini “hanya” sekadar tempat singgah dan melintas, sampai kita memosisikan dunia sebagai tempat menyiapkan bekal pulang ke negeri Akhirat.
Itulah sebabnya, Allah Ta’ala menggambarkan profil hamba-Nya yang sejati, yang pasti akan meraih kebahagiaan yang sejati itu dengan mengatakan:
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
Artinya:
“(Mereka adalah) orang-orang yang tidak dibuat lalai oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, serta menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Mereka selalu merasa takut (menghadapi) hari dimana hati dan mata akan berbolak-balik…” (Surah al-Nur: 37).
Ayat ini menunjukkan, bahwa hamba Allah yang sejati bukanlah hamba yang sepenuhnya larut dalam shalat dan ibadah hingga mengabaikan kehidupan dunia. Sama sekali tidak. Mereka tetap terlibat mengurus dunia. Mereka tetap berbisnis. Mereka tetap bertransaksi jual-beli. Mereka tetap bekerja. Mereka tetap belajar.
Tapi, yang membuat mereka istimewa adalah bahwa semua kesibukan dunia itu: bisnis, transaksi dan pekerjaan itu; semuanya tidak pernah membuat mereka lalai dan lupa mengingat Allah Ta’ala.
Saat adzan berkumandang, mereka akan segera memenuhi panggilan Allah untuk bersujud kepadaNya.
Saat cukup hartanya dengan nishab dan haulnya, mereka akan segera mengeluarkan zakatnya.
Saat tiba kesempatan bersedekah, mereka akan segera menunaikannya.
Saat bekerja di kantor, mereka akan menunaikannya dengan penuh amanah, dan tidak pernah terpikirkan sedikitpun untuk korupsi atau mengambil uang negara.
Saat menjalani bisnis, mereka akan pastikan bisnisnya halal, bukan bisnis yang menzhalimi orang lain, atau dijalankan dengan cara yang culas.
Kenapa?
Karena mereka tahu dunia ini hanya sementara. Karena mereka tahu, kematian bisa datang kapan saja tanpa pemberitahuan.
Karena mereka tahu, nanti akan tiba masanya mereka akan berdiri di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan semuanya.
Mereka selalu ingat pesan Allah Ta’ala kepada mereka:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Artinya:
“Dan takutlah kalian kepada hari saat kalian akan dikembalikan kepada Allah, lalu setiap jiwa akan diberi balasan atas apa yang dilakukannya dengan sempurna, tanpa mereka dizhalimi.” (Surah al-Baqarah: 281).
Kaum Muslimin yang berbahagia!
Kita takkan pernah menemukan kebahagiaan sejati sampai kita mengubah paradigma kita tentang dunia ini. Bahwa dunia ini bukan tempatnya kebahagiaan sejati itu. Bahwa dunia ini hanya tempat singgah untuk melewati ujian demi ujian untuk membuktikan bahwa kita layak mendapatkan bahagia sejati di Akhirat nanti. Bahwa semua yang kita alami di dunia ini, tanpa kecuali, adalah ujian demi ujian untuk itu.
Kondisi kaya adalah ujian, kondisi miskin juga ujian.
Mendapatkan jabatan adalah ujian, tidak punya jabatan juga ujian.
Sukses adalah ujian, gagal juga ujian.
Menikah adalah ujian, tidak menikah pun juga ujian.
Allah Ta’ala menegaskan:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ﴾ [الملك: 2].
Artinya:
“(Dialah Allah) yang telah menciptakan kematian dan kehidupan ini untuk menguji kalian: siapa yang paling baik amalannya.” (Surah al-Mulk: 2).
Di dalam ayat yang lain, Allah Azza wa Jalla mengingatkan:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya:
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar…” (Surah al-Baqarah: 155).
Karena itu, jamaah yang berbahagia, salah satu rahasia kebahagiaan sejati hamba Allah adalah “Jangan pernah mengikat hatimu dan memperbudak dirimu pada dunia ini!”
Sebab sejarah kehidupan manusia telah menunjukkan bahwa semua manusia yang diperbudak oleh kekayaan, kekuasaan, kecantikan, kesenangan, gemerlap dunia, gelimang harta; semuanya hidup dalam jiwa yang sengsara, hidup dalam jiwa yang kosong dari kebahagiaan; meski tampak secara kasat mata, mereka tampil gemerlap dan dielu-elukan.
Manusia yang sejati bahagianya-sekali lagi-adalah manusia yang “menceraikan” dunia dari jiwanya. Manusia yang meletakkan dunia di tangannya, tapi tidak pernah membiarkannya menguasai hatinya. Dunia bagi mereka seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka, sebagaimana dikisahkan oleh Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
مرَّ النبي صلى الله عليه وسلم بِشَاةٍ مَيْتَةٍ قَدْ أَلْقَاهَا أَهْلُهَا، فَقَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ عَلَى أَهْلِهَا.
Artinya:
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melintasi bangkai seekor kambing yang sudah dibuang oleh pemiliknya. Beliau pun berkata (kepada para Sahabat): ‘Demi Allah yang jiwaku di TanganNya, sungguh dunia ini jauh lebih hina di sisi Allah daripada bangkai kambing ini bagi pemiliknya.’” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani).
Kaum Muslimin yang berbahagia!
Inilah resep kebahagiaan sejati ala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan berikan tempat terhormat untuk dunia di hatimu. Jangan terpukau dengan flexing-flexing yang bertebaran di media-media sosial. Jangan terpukau dengan senyum dan tawa para selebgram dan influencer di dunia maya, karena itu kebanyakannya palsu.
Jika ingin mencicipi kebahagiaan sejati, kita tidak punya pilihan lain selain kembali kepada Allah. Perbaiki kualitas hubungan kita dengan Allah Ta’ala, maka pasti kita akan mencicipi manisnya rasa bahagia yang tak bisa dilukiskan dengan apapun.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Tidak bosan-bosannya, melalui khutbah Jum’at siang ini, kami mengingatkan tentang Gaza, tentang saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi para Nabi dan Rasul, di bumi al-Quds, yang masih harus melewati hari-hari ujian dalam penjajahan kaum Zionis Yahudi.
Kita tidak boleh lupa, bahwa keberadaan mereka di bumi jihad Palestina itu lebih dari sekadar mempertahankan negara mereka yang bernama Palestina, tapi lebih dari itu, mereka sedang mewakili kita kaum muslimin untuk mempertahankan dan mengembalikan Masjidil Aqsha ke tangan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka salah satu jihad kita umat Islam di negeri ini terhadap Palestina adalah memberikan dukungan dalam berbagai bentuknya untuk saudara-saudara kita para pejuang dan umat Islam di Gaza dan Palestina. Jangan putus berdoa untuk mereka dalam setiap kesempatan yang Allah berikan untuk berdoa.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ



