spot_img

Khutbah Jum’at: Kaya dan Lapang itu Ujian Berat! (Edisi 090, 16 Jumadil Awal 1447)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Kaya dan Lapang itu Ujian Berat’ (Edisi 090, 16 Jumadil Awal 1447).

Naskah selengkapnya:

KAYA & LAPANG ITU UJIAN BERAT!

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Siang hari ini, kita kembali memuji Allah dengan penuh rasa syukur yang memenuhi hati kita. Begitu banyak nikmat, begitu banyak karunia, yang telah Allah limpahkan untuk kita di sepanjang usia keberadaan kita di dunia ini. Hidup kita bertabur nikmat dariNya, dan tentu saja setinggi-tingginya nikmat itu adalah nikmat Islam, nikmat Iman dan Tauhid dalam diri kita. Karena tanpa itu semua, maka tidak ada satu pun nikmat dunia ini yang berharga dan bernilai untuk kita.

Karena itu pula, sepatutnya kita memperbanyak shalawat untuk Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama di hari Jum’at yang mulia ini. Karena beliaulah yang menjadi sebab dan jalan hadirnya nikmat Islam dan Tauhid itu dalam kehidupan kita ini.

Kaum muslimin yang berbahagia!

Ada sebuah kisah yang pernah dituturkan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah kisah yang merepresentasikan bagaimana kita, manusia ini, seringkali gagal justru dalam menjalani ujian kelapangan dan keberlimpahan hidup dari Allah Azza wa Jalla. Sedikit sekali, sangat sedikit, manusia yang bisa selamat dari ujian kelapangan, kekayaan, kedudukan dan kenyamanan hidup dari Allah.

Kisah ini diriwayatkan oleh Sahabat mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana termaktub dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan:

إِنَّ ثَلَاثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ؛ أَبْرَصَ، وَأَقْرَعَ، وَأَعْمَى؛ بَدَا لِلَّهِ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا

“Sesungguhnya dulu ada 3 orang dari kalangan Bani Israil: penderita kusta, penderita kebotakan, dan  penderita kebutaan. Lalu Allah pun hendak menguji mereka, maka Allah pun mengutus satu malaikat menemui mereka…”

Maka malaikat itu pun mendatangi si penderita kusta, lalu bertanya padanya:

أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

“Apa hal yang paling kau impikan?”

Si Penderita kusta itupun menjawab:

لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ

“(Aku inginkan) warna yang indah dan kulit yang indah, (karena) orang-orang sudah mencelaku.”

Malaikat itupun mengusapnya, hingga seluruh penyakit kulitnya sembuh, dan ia menjadi begitu gagah dan tampan. Malaikat pun bertanya lagi:

أَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

“Apa harta yang paling kau impikan?”

Orang itupun menjawab: “Unta.”

Maka ia pun diberi seekor unta betina yang sedang hamil. Malaikat itupun pergi setelah mendoakan semoga unta itu diberkahi oleh Allah.

Sang Malaikat pun pergi menemui orang kedua, Si Penderita kebotakan. Kepadanya malaikat menanyakan hal yang sama:

أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

“Apa hal yang paling kau impikan?”

Orang itupun menjawab:

شَعَرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي هَذَا، قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ

“(Aku ingin punya) rambut yang indah, dan (penyakit) ini hilang dariku, karena orang-orang telah menghinaku (karenanya.”

Malaikat pun mengusapnya, penyakit pun hilang dan ia mendapatkan rambut yang sangat indah. Malaikat pun bertanya lagi padanya:

فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

“Lalu apa harta yang paling kau impikan?”

Orang kedua itupun menjawab: “Sapi”.

Maka ia pun dikaruniai seekor sapi betina yang sedang hamil. Malaikat itupun pergi setelah mendoakan semoga sapi itu diberkahi oleh Allah.

Setelah itu, malaikat pun mendatangi orang yang terakhir, Si Penderita kebutaan. Kepadanya, Sang malaikat menyampaikan hal yang sama:

أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

“Apa hal yang paling kau impikan?”

Orang buta itupun menjawab:

يَرُدُّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَأُبْصِرُ بِهِ النَّاسَ

“(Aku ingin) Allah kembalikan penglihatanku, agar aku bisa melihat orang-orang.”

Maka Sang malaikat pun mengusapnya, hingga ia dapat melihat kembali. Setelah itu, ia ditanya lagi:

فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

“Lalu apa harta yang paling kau impikan?”

Orang itupun menjawab: “Kambing.”

Allah pun memberinya seekor kambing betina yang hamil, lalu Malaikat itupun pergi setelah mendoakan semoga kambing itu diberkahi oleh Allah.

Lalu apa yang terjadi kemudian, jamaah sekalian?

Sepeninggal malaikat itu, ketiga orang itu selain sembuh dari semua penyakit fisik itu, mereka menjadi orang-orang kaya yang berkelimpahan harta. Unta, sapi dan kambing yang diberikan kepada mereka berkembang biak begitu rupa, hingga masing-masing mereka memiliki kawasan peternakan seluas satu lembah yang luas. Orang pertama punya satu lembah unta. Orang kedua punya satu lembah sapi. Dan orang ketiga punya satu lembah peternakan kambing.

Dan di sinilah ujian dari Allah baru dimulai…

Jamaah Jum’at yang berbahagia!

Beberapa waktu kemudian, Sang malaikat yang pernah menemui mereka datang menyamar sebagai pria miskin yang menderita sakit persis seperti penyakit mereka dahulu.

Kepada orang pertama, sang juragan unta, Sang malaikat datang sebagai penderita kusta, yang berkata:

رَجُلٌ مِسْكِينٌ تَقَطَّعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي، فَلَا بَلَاغَ الْيَوْمَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحَسَنَ، وَالْجِلْدَ الْحَسَنَ، وَالْمَالَ، بَعِيرًا أَتَبَلَّغُ عَلَيْهِ فِي سَفَرِي.

“Aku orang miskin. Semua bekalku sudah habis dalam perjalananku, maka hari ini aku tidak punya harapan kecuali pada Allah, kemudian padamu. Maka demi Allah yang telah memberimu warna dan kulit yang indah, serta harta ini, aku meminta seekor unta saja untuk menyambung perjalananku…”

Ternyata Si Juragan unta ini menolak. Ia mengatakan: “Aku punya banyak kewajiban yang harus ditunaikan!” Padahal untanya berlimpah dalam satu lembah, dan Malaikat peminta-minta itu hanya minta 1 ekor saja.

Orang inipun gagal dalam ujian ini, sehingga Malaikat itu berkata:

 كَأَنِّي أَعْرِفُكَ؛ أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ، فَقِيرًا فَأَعْطَاكَ اللَّهُ؟

“Sepertinya aku mengenalmu. Bukankah kamu dulu menderita kusta hingga dihina orang, dan juga miskin, hingga Allah mengaruniakanmu (ini semua)?”.

Orang itu kembali menampik dengan sombong. “Ini bukan dari Allah, ini aku warisi dari orang-orang tuaku dulu,” ujarnya.

Maka Malaikat itupun pergi meninggalkannya setelah mendoakan:

إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا؛ فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ

“Kalau engkau berdusta, maka semoga Allah mengembalikanmu seperti sedia kala.”

Malaikat itupun mendatangi orang kedua, Si Juragan sapi yang dulu menderita kebotakan. Malaikat melakukan hal yang sama: menyamar sebagai pengemis yang botak untuk meminta tolong. Namun respon orang kedua ini rupanya sama saja dengan orang pertama. Sehingga malaikat pun mendoakannya dengan doa yang sama:

إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا؛ فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ

“Kalau engkau berdusta, maka semoga Allah mengembalikanmu seperti sedia kala.”

Jamaah sekalian, akhirnya Sang Malaikat pun mendatangi orang ketiga, Si Juragan kambing yang dulu menderita kebutaan. Malaikat pun mengujinya dengan hal yang sama. Tapi ternyata Si Juragan kambing ini adalah hamba yang shalih. Kepada Malaikat yang menyamar sebagai pengemis buta itu, ia berkata:

قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ بَصَرِي، وَفَقِيرًا فَقَدْ أَغْنَانِي، فَخُذْ مَا شِئْتَ، فَوَاللَّهِ لَا أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ لِلَّهِ

“Dulu, aku juga buta, lalu Allah kembalikan penglihatanku. Dulu, aku juga miskin, lalu Allah menjadikanku orang kaya. Maka silahkan engkau ambil sebanyak yang kau mau (dari kambing-kambingku), karena demi Allah, hari ini aku tidak akan menghalangimu untuk mengambil sesuatu yang telah aku ambil karena Allah.”

Ternyata orang ketiga ini berhasil melewati ujian kekayaan dan kesehatan yang Allah berikan kepadanya. Kekayaannya tidak membuatnya lupa diri. Kesehatannya tidak membuatnya hilang kesadaran tentang Allah. Karena itu, Sang Malaikat tersebut menyingkap penyamarannya dan berkata:

أَمْسِكْ مَالَكَ؛ فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ، فَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْكَ، وَسَخِطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ

“Pegang saja semua hartamu! Karena kalian sebenarnya hanya diuji, dan Allah telah ridha kepadamu, namun murka kepada kedua temanmu (sebelumnya).”

Kaum muslimin yang berbahagia!

Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini. Namun pelajaran utama yang kita renungkan di Hari Jum’at yang mulia ini adalah betapa celaka dan hancurnya kehidupan seorang insan ketika ia telah kehilangan kesadarannya terhadap semua kelapangan, keberlimpahan, kekayaan dan kenyamanan yang Allah titipkan kepadanya.

Banyak orang yang tadinya miskin, lalu diuji dengan kekayaan, tapi lalu jadi lupa kepada Allah Ta’ala. Semakin kaya, semakin banyak pula maksiat yang diterjangnya. Semakin jauh pula ia dari Allah.

Banyak orang yang tadinya pegawai rendahan, lalu diuji dengan jabatan, kemudiaan menjadi sangat angkuh dan pongah, bahkan zhalim kepada orang-orang di bawahnya.

Maka kisah Nabawiyah ini mengajarkan kepada kita, bahwa selama kita masih berada dalam episode kehidupan dunia ini, semua yang Allah berikan dan takdirkan untuk kita itu pada hakikatnya adalah ujian demi ujian dari Allah. Kemiskinan adalah ujian, kekayaan juga ujian. Kesempitan adalah ujian, kelapangan juga ujian. Sakit adalah ujian, kesehatan pun juga ujian.

Karena itu, apapun bentuk ujian yang hadirkan dalam hidup kita, tetaplah tunduk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Saat miskin taat beribadah, saat kaya seharusnya lebih taat lagi. Saat jadi bawahan taat beribadah, ketika jadi atasan harusnya lebih taat lagi beribadah.

Begitulah seterusnya hidup kita, hingga kita dipanggil oleh Allah dalam keadaan taat beribadah kepadaNya, in sya’aLlah.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Hari-hari ini, ujian demi ujian terus melanda saudara-saudara kita kaum muslimin di belahan bumi yang lain.

Belum selesai keprihatinan kita kepada Gaza dan Palestina, yang masih terus didera oleh pengkhianatan kaum Zionis; kita juga tidak boleh lupa dengan apa yang menimpa saudara-saudara kita kaum muslimin di Sudan.

Jika kaum muslimin di Palestina dijajah dan dibantai oleh bangsa Yahudi Zionis yang memang telah dikukuhkan sebagai musuh umat Islam sepanjang masa, maka saudara-saudara kita di Sudan justru dibantai oleh sesama mereka sendiri, oleh pihak-pihak yang merasa jagoan lantaran memegang senjata di tangan mereka.

Di Hari Jum’at ini, marilah kita doakan mereka semua, saudara-saudara kita di Gaza dan Sudan, serta di manapun mereka yang terzhalimi. Di waktu-waktu mustajab ini, selipkanlah doa-doa kita untuk mereka. Semoga doa-doa kita itu kelak menjadi pemberat timbangan amal shalih kita di akhirat nanti.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ 

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.