Home Khutbah Khutbah Jum’at: Obsesi Dunia Obsesi Akhirat (Edisi 139, 5 Jumadil Awal 1448...

Khutbah Jum’at: Obsesi Dunia Obsesi Akhirat (Edisi 139, 5 Jumadil Awal 1448 H)

0
Sampul Khutbah
Sampul Khutbah, Edisi 139

mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Obsesi Dunia Obsesi Akhirat’ (Edisi 139, 5 Jumadil Awal 1448 H).

Untuk selengkapnya:

‘OBSESI DUNIA OBSESI AKHIRAT‘

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita menjaga hati agar tidak tenggelam dalam kesibukan dunia yang sementara, hingga melupakan kehidupan akhirat yang kekal selama-lamanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fathir: 5).

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah.

Setiap manusia menjalani hidup dengan sesuatu yang memenuhi pikiran dan menggerakkan hatinya. Ada yang bangun pada pagi hari dengan pikiran tentang pekerjaan, keuntungan, jabatan, atau kekayaan yang ingin diperoleh. Ada yang sepanjang harinya disibukkan oleh keinginan untuk meningkatkan penghasilan, memperluas usaha, memiliki rumah yang lebih indah, kendaraan yang lebih bagus, dan kehidupan yang terlihat lebih berhasil dibandingkan orang lain.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan bekerja keras, mencari rezeki, membangun usaha, atau menginginkan kehidupan yang layak bagi keluarga. Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan tanggung jawab dunianya. Seorang ayah berkewajiban menafkahi keluarganya. Seorang pedagang diperintahkan berlaku jujur dalam usahanya. Seorang pekerja dituntut menunaikan amanahnya. Bahkan, harta yang diperoleh dengan cara halal dapat menjadi sarana untuk melakukan banyak kebaikan.

Namun, persoalan mulai muncul ketika dunia yang seharusnya menjadi sarana berubah menjadi tujuan utama. Ketika kekayaan tidak lagi sekadar sesuatu yang dimanfaatkan, melainkan menjadi ukuran harga diri. Ketika jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan sebagai sumber kemuliaan. Ketika keberhasilan hidup hanya diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari bagaimana seseorang menjalani kehidupannya di hadapan Allah.

Pada saat itulah manusia mulai terjebak dalam apa yang dapat kita sebut sebagai “obsesi dunia”.

Ia bekerja bukan lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk memuaskan keinginan yang terus bertambah. Ia berusaha bukan hanya untuk memperoleh kecukupan, melainkan untuk memenangkan persaingan yang seolah tidak mempunyai garis akhir. Ketika mendapatkan sesuatu, ia merasa senang sebentar. Setelah itu, muncul keinginan yang baru untuk memiliki dan menguasai dunia lebih banyak lagi. Ketika berhasil mencapai satu tujuan, segera muncul obsesi berikutnya yang lebih tinggi.

Hidupnya menjadi perjalanan panjang mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar memuaskan hatinya.

Jamaah Jumat yang berbahagia.

Perhatikanlah kehidupan manusia di sekitar kita. Betapa banyak orang memiliki penghasilan yang terus meningkat, tetapi kegelisahannya juga semakin bertambah. Rumahnya semakin luas, tetapi hatinya terasa semakin sempit. Tabungannya semakin banyak, tetapi kekhawatirannya terhadap masa depan tidak juga berkurang.

Ia takut kehilangan kedudukan, takut usahanya mengalami kerugian, takut orang lain melampaui keberhasilannya, dan takut kenikmatan yang selama ini dinikmatinya suatu hari akan berakhir.

Terkadang seseorang telah memperoleh sesuatu yang dahulu sangat diimpikannya. Akan tetapi, setelah mendapatkannya, ia tidak lagi merasakan kebahagiaan seperti yang dibayangkannya. Apa yang dahulu dianggap sebagai puncak keberhasilan, sekarang terasa biasa saja. Ia kembali mencari sesuatu yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih mengesankan.

Demikianlah sifat dunia ketika hati menjadikannya sebagai tujuan terakhir. Dunia dapat memenuhi kebutuhan jasmani manusia, tetapi tidak akan pernah mampu memenuhi seluruh keinginan hati yang tidak dikendalikan oleh iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keadaan ini dalam hadis yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran selalu berada di depan matanya, dan ia tidak akan memperoleh bagian dunia kecuali yang telah ditetapkan baginya. Sebaliknya, barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan berada di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR. Ibnu Majah; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis).

Hadis yang agung ini memberikan gambaran yang sangat mendalam tentang dua keadaan manusia yang berbeda. Keduanya mungkin sama-sama bekerja, sama-sama mempunyai keluarga, sama-sama menghadapi persoalan kehidupan, bahkan mungkin memiliki tingkat kekayaan yang tidak jauh berbeda. Namun, keadaan batin keduanya dapat sangat berlainan karena perbedaan tujuan yang memenuhi hati mereka.

Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar akan menghadapi kegelisahan yang terus-menerus. Pikirannya bercabang ke berbagai arah. Ada keinginan yang belum tercapai, ada keuntungan yang dikhawatirkan hilang, ada kedudukan yang harus dipertahankan, dan ada orang lain yang keberhasilannya selalu dibandingkan dengan dirinya.

Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula yang ingin dijaga. Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula kekhawatiran kehilangan kedudukan tersebut. Akhirnya, sesuatu yang dahulu dikejar untuk memperoleh ketenangan justru menjadi sumber kegelisahan.

Inilah salah satu makna sabda Nabi, “Allah akan mencerai-beraikan urusannya.” Hatinya dipenuhi berbagai keinginan yang saling menarik, sehingga ia kesulitan menemukan ketenteraman.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Allah menjadikan kefakiran selalu berada di depan matanya.

Seseorang mungkin tidak miskin secara harta, tetapi miskin dalam perasaan. Ia memiliki banyak, tetapi selalu merasa kurang. Ia mempunyai kecukupan, tetapi terus dihantui ketakutan akan kekurangan. Ia menikmati berbagai fasilitas kehidupan, tetapi tidak mampu menikmati rasa syukur dan ketenangan.

Sebaliknya, ada orang yang kehidupannya sederhana, penghasilannya tidak berlebihan, dan rumahnya tidak semewah rumah orang lain. Namun, setiap kali memperoleh rezeki, ia mengucapkan: “Alhamdulillah”. Ketika menghadapi kekurangan, ia tetap berusaha sambil memohon pertolongan Allah. Ketika melihat orang lain memiliki kelebihan, ia tidak membiarkan hatinya terbakar oleh kedengkian.

Bukan berarti orang tersebut tidak mempunyai kesulitan. Bukan pula berarti ia tidak pernah bersedih atau khawatir. Akan tetapi, di tengah keterbatasannya, ia mempunyai kekayaan yang tidak selalu dimiliki oleh orang yang berharta banyak, yaitu hati yang mampu merasa cukup.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Marilah kita merenung sejenak…

Dalam kehidupan modern sekarang ini, obsesi dunia memperoleh begitu banyak jalan untuk memasuki hati manusia. Jika dahulu seseorang membandingkan kehidupannya dengan tetangga atau orang-orang di sekitarnya, sekarang ia dapat membandingkan dirinya dengan ribuan bahkan jutaan manusia melalui layar telepon genggam yang berada dalam genggamannya.

Setiap hari kita dapat melihat rumah yang indah, kendaraan yang mahal, perjalanan yang menyenangkan, pakaian yang mewah, serta berbagai gambaran keberhasilan yang ditampilkan di media sosial. Tanpa disadari, semua itu dapat membentuk ukuran baru tentang kebahagiaan. Kita mulai merasa bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang terlihat mengesankan di hadapan orang lain.

Tidak sedikit orang akhirnya membeli sesuatu bukan karena membutuhkannya, melainkan karena ingin dipandang berhasil. Ada yang memaksakan gaya hidup di luar kemampuan keuangannya. Ada yang terjebak dalam utang konsumtif demi mempertahankan penampilan. Ada pula yang menghabiskan banyak waktu mengamati kehidupan orang lain sampai lupa mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya sendiri.

Lebih menyedihkan lagi, ketika kesibukan mengejar dunia mulai menggeser perkara-perkara yang sesungguhnya jauh lebih penting. Waktu untuk bekerja selalu tersedia, tetapi waktu untuk membaca Al-Qur’an semakin sulit ditemukan. Pertemuan bisnis dapat dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, tetapi shalat terkadang dilaksanakan dengan tergesa-gesa. Seseorang begitu teliti menghitung keuntungan perdagangannya, tetapi jarang menghitung kekurangan amal ibadahnya.

Kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam mengikuti perkembangan berita, perubahan harga, dan berbagai perbincangan di dunia digital. Namun, berapa banyak waktu yang kita sediakan untuk mempelajari agama, memahami makna ayat-ayat Allah, atau duduk bersama keluarga untuk mengingatkan mereka tentang kehidupan akhirat?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7).

Ayat ini merupakan peringatan agar keluasan pengetahuan manusia tentang dunia tidak menjadikannya lalai terhadap tujuan penciptaannya. Kepandaian mengelola urusan dunia merupakan nikmat yang patut disyukuri. Namun, pengetahuan tersebut akan kehilangan arah apabila tidak disertai kesadaran bahwa suatu hari manusia akan menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah.

Di sinilah kita perlu memahami perbedaan antara obsesi dunia dan obsesi akhirat.

Orang yang berorientasi kepada akhirat bukanlah orang yang harus meninggalkan pekerjaan, menolak kekayaan, atau mengabaikan tanggung jawab kehidupan. Justru kesadaran tentang akhirat seharusnya menjadikan seseorang lebih jujur dalam berdagang, lebih bertanggung jawab dalam bekerja, lebih amanah ketika memegang jabatan, dan lebih sungguh-sungguh dalam memenuhi hak keluarganya.

Ia menyadari bahwa pekerjaannya bukan hanya urusan mencari penghasilan, tetapi juga kesempatan untuk beribadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang diridhai Allah. Hartanya bukan hanya alat untuk menikmati kehidupan, tetapi juga amanah yang dapat digunakan membantu keluarga, menyantuni orang miskin, mendukung pendidikan, dan membiayai berbagai amal kebaikan.

Perbedaannya terletak pada tempat dunia di dalam kehidupan seseorang. Orang yang terobsesi dunia menjadikan akhirat sebagai urusan sampingan, sedangkan orang yang berorientasi akhirat menjadikan dunia sebagai sarana untuk menuju kehidupan yang kekal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20).

Dalam ayat ini, Allah menggunakan gambaran tentang hasil usaha atau tanaman yang dituai. Kehidupan manusia ibarat sebuah ladang. Setiap hari kita sedang menanam sesuatu melalui perkataan, keputusan, pekerjaan, dan perbuatan kita. Ada amal yang ditanam untuk mendapatkan keuntungan sesaat, ada pula amal yang ditanam dengan harapan memperoleh pahala di sisi Allah.

Seseorang yang hanya mengejar dunia mungkin memperoleh sebagian dari apa yang diinginkannya. Namun, kenikmatan itu mempunyai batas. Kekayaan akan ditinggalkan, jabatan akan berakhir, popularitas akan memudar, dan tubuh yang selama ini dibanggakan akhirnya akan dikembalikan ke tanah.

Sebaliknya, amal saleh yang dilakukan dengan iman dan keikhlasan akan menjadi bekal untuk kehidupan yang tidak pernah berakhir.

Allah juga berfirman:

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya diberi balasan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 19).

Perhatikanlah bahwa Allah tidak hanya menyebut keinginan terhadap akhirat, tetapi juga menyebut usaha yang sungguh-sungguh dan keimanan. Artinya, orientasi akhirat bukan sekadar perasaan atau harapan yang diucapkan, melainkan tujuan hidup yang harus dibuktikan dengan amal nyata.

Keinginan memperoleh surga harus terlihat dalam kesungguhan menjaga shalat. Harapan memperoleh ampunan Allah harus terlihat dalam kesediaan meninggalkan dosa. Kerinduan terhadap rahmat Allah harus terlihat dalam keikhlasan, kesabaran, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…

Kita mempunyai teladan yang sangat agung dalam diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah manusia yang paling memahami hakikat dunia dan akhirat. Beliau menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin, pendidik, suami, dan pembimbing umat. Akan tetapi, seluruh perjalanan hidup beliau senantiasa diarahkan kepada keridhaan Allah.

Beliau tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran kemuliaan. Beliau memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan sebelum manusia melanjutkan perjalanan menuju negeri yang kekal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi, hadis hasan sahih).

Betapa indah dan mendalam perumpamaan ini…

Bayangkan seorang musafir sedang menempuh perjalanan yang jauh. Di tengah panasnya perjalanan, ia menemukan sebatang pohon yang rindang. Ia berhenti sebentar, beristirahat, menikmati keteduhan, dan mengumpulkan kembali tenaganya. Namun, ia sadar bahwa pohon tersebut bukan tujuan perjalanannya. Ia tidak membangun seluruh kehidupannya di bawah pohon itu karena masih ada tempat yang harus dituju.

Demikianlah seharusnya seorang mukmin memandang dunia. Ia memanfaatkan kesempatan yang tersedia, menikmati rezeki yang halal, dan mensyukuri berbagai kenikmatan yang Allah karuniakan. Namun, ia tidak melupakan bahwa semua itu hanyalah persinggahan sementara.

Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Sudah berapa tahun kita menjalani kehidupan? Berapa banyak keinginan dunia yang telah berhasil kita capai? Berapa banyak pula hal yang dahulu sangat kita inginkan, tetapi sekarang hampir tidak lagi kita ingat?

Lalu, berapa banyak bekal akhirat yang sudah kita persiapkan?

Jika kita begitu bersungguh-sungguh menyiapkan masa depan anak-anak kita, sudahkah kita menyiapkan pendidikan iman dan ketakwaan bagi mereka? Jika kita begitu cermat merencanakan kehidupan setelah pensiun, sudahkah kita mempersiapkan kehidupan setelah kematian? Jika kita merasa takut kehilangan sebagian harta, mengapa terkadang kita tidak merasa takut ketika waktu berlalu tanpa tambahan amal saleh?

Tidak ada seorang pun di antara kita yang mengetahui berapa lama lagi kesempatan hidup ini diberikan. Mungkin kita masih mempunyai banyak rencana, tetapi tidak ada jaminan bahwa seluruh rencana tersebut akan sempat kita laksanakan.

Karena itu, janganlah menunggu sampai usia senja untuk memperbaiki ibadah. Jangan menunggu sampai sakit untuk menyadari nikmat kesehatan. Jangan menunggu kehilangan orang yang dicintai untuk mulai menghargai kebersamaan. Dan jangan menunggu datangnya kematian untuk menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

Semoga Allah menjadikan dunia berada di tangan kita sebagai amanah yang dimanfaatkan untuk kebaikan, bukan memenuhi hati kita hingga melalaikan akhirat. Semoga Allah memberikan kepada kita rezeki yang halal, hati yang merasa cukup, amal yang ikhlas, dan akhir kehidupan yang baik.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Sekali lagi marilah kita memperkuat ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memperbaiki arah kehidupan kita. Jangan sampai kesibukan dunia menjadikan kita lupa bahwa pada akhirnya seluruh manusia akan kembali kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan takutlah kamu pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 281).

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…

Ada satu kenyataan yang kita semua yakini, tetapi terkadang paling mudah kita lupakan, yaitu bahwa kehidupan dunia mempunyai akhir. Tidak ada kekayaan yang mampu membeli keabadian, tidak ada jabatan yang dapat menolak datangnya kematian, dan tidak ada kekuatan manusia yang sanggup mempertahankan kehidupannya ketika ajal telah tiba.

Orang-orang yang dahulu memenuhi ruang pemberitaan dengan keberhasilan dan kekuasaannya, pada akhirnya juga meninggalkan dunia. Harta yang dikumpulkan selama puluhan tahun berpindah kepada ahli waris. Rumah yang dibangun dengan penuh kebanggaan ditempati oleh orang lain. Jabatan yang dahulu diperjuangkan dengan segala kemampuan kemudian digantikan oleh generasi berikutnya.

Semua itu mengingatkan kita bahwa dunia memang tempat untuk beramal, tetapi bukan tempat untuk tinggal selama-lamanya.

Karena itu, salah satu cara yang dapat membantu kita meluruskan orientasi kehidupan adalah dengan memperbanyak mengingat kematian. Bukan untuk membuat manusia kehilangan semangat menjalani hidup, melainkan agar ia semakin bijaksana dalam memanfaatkan waktu yang masih tersedia.

Orang yang mengingat kematian dengan benar tidak akan mudah menunda taubat. Ia berusaha menyelesaikan perselisihan sebelum terlambat, mengembalikan hak orang lain sebelum datangnya hari perhitungan, dan memperbaiki hubungan dengan keluarga selama kesempatan masih diberikan.

Namun, orientasi akhirat juga tidak berarti kita mengabaikan urusan dunia. Allah mengajarkan kepada kita doa yang mencakup kebaikan keduanya:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Doa ini mengajarkan keseimbangan yang indah. Seorang mukmin memohon kebaikan kehidupan dunia, tetapi tidak melupakan kebaikan akhirat. Ia memohon rezeki, kesehatan, keluarga yang baik, dan ketenteraman hidup, sembari memohon ampunan, keselamatan dari neraka, serta kebahagiaan yang kekal.

Dan marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa hanya kepada Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.

Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version