spot_img

Khutbah Jum’at: Rezekimu Sudah Dijamin Allah (Edisi 111, 14 Syawal 1447 H)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Rezekimu Sudah Dijamin Allah’ (Edisi 111, 14 Syawal 1447 H).

‘REZEKIMU SUDAH DIJAMIN ALLAH…’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Aku wasiatkan kepada diriku dan kepada kalian semua untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla. Karena siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan keluar dari setiap kesulitan, Allah akan beri rezeki dari arah yang tidak pernah ia sangka, Allah akan mudahkan seluruh urusannya, Allah akan hapus dosa-dosanya, dan Allah akan lipatgandakan pahalanya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Takutlah kalian pada hari ketika kalian semua akan dikembalikan kepada Allah, kemudian setiap jiwa akan disempurnakan balasan amalnya, dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 281).

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita renungkan satu perkara yang hari ini sangat menggelisahkan banyak manusia: masalah rezeki.
Di tengah kondisi dunia yang tidak menentu—konflik antar negara, krisis energi, harga-harga naik—banyak orang mulai cemas.

Hati mereka gelisah, pikiran mereka dipenuhi kekhawatiran: “Bagaimana nanti hidup saya? Bagaimana masa depan keluarga saya?”
Padahal, kalau kita kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan satu prinsip besar: rezeki itu sudah ditentukan oleh Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang sangat masyhur:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ… ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ… فَيُؤْمَرُ بِكِتَابَةِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya… lalu diutus malaikat, kemudian diperintahkan untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perhatikan ini baik-baik…
Saat kita belum lahir, bahkan belum sempurna bentuknya, rezeki kita sudah ditulis.
Artinya: Rezki itu tidak akan bertambah karena kepanikan kita, dan tidak akan berkurang karena krisis dunia yang sedang atau akan terjadi.

Allah juga berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi ini kecuali Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6).

Ayat ini pesannya sungguh luar biasa dalamnya. Semua makhluk—besar, kecil, terlihat, tidak terlihat—semuanya dijamin rezekinya oleh Allah.

Dalam konteks ini, Fakhruddin ar-Razi rahimahullah menyebutkan sebuah kisah yang indah:

Bahwa pernah suatu ketika Nabi Musa ‘alaihis salam diperlihatkan seekor makhluk kecil yang tersembunyi di dalam batu ternyata tetap mendapatkan rezekinya. Hingga makhluk itu seakan berkata: “Mahasuci Dzat yang melihatku, mengetahui tempatku, dan tidak pernah melupakanku.”

Kalau makhluk sekecil itu saja Allah urus rezekinya, lalu kenapa kita masih ragu dengan rezki kita?

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Nabi ﷺ juga bersabda:

إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَأَجَلَها

“Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan kepadaku bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan mati sampai ia menyempurnakan rezeki dan ajalnya.” (HR. Abu Nu’aim, dishahihkan Al-Albani).

Hadits ini memukul satu titik lemah yang selalu membuat kita gelisah: rasa takut kekurangan. Pesan hadits ini begitu tegas dan dalam: tidak ada satu jiwa pun yang akan mati sebelum jatah rezeki dan ajalnya selesai.

Tapi jangan salah kaprah. Ini bukan pembenaran untuk santai tanpa usaha. Hadits ini justru mengingatkan kita untuk tetap wajib berikhtiar, tapi tanpa mental serakah dan panik dengan yang terjadi. Banyak orang bekerja keras, tapi hatinya tetap miskin—takut kehilangan, takut tertinggal, takut gagal. Itu tanda dia belum percaya penuh.

Hadits ini mengajak kita bekerja dengan tenang, bukan dengan cemas; mengejar dengan tetap menjaga rasa takut pada Allah, bukan dengan menghalalkan segala cara.

Kalau kita jujur melihat diri sendiri, maka mungkin masalahnya bukan karena kurangnya peluang, tapi karena kita terlalu sibuk dengan ambisi dunia kita, sampai-sampai melupakan sumber rezeki itu sendiri, melupakan Sang Pemberi rezki itu, Allah Azza wa Jalla.

Karena itu, Nabi ﷺ juga memberi peringatan penting dalam urusan mencari rezki:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ

“Maka takutlah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik.”.

Artinya: jangan sampai karena takut miskin, kita mencari rezeki dengan cara haram. Karena yang kita kejar tidak akan pernah tertukar, dan yang bukan bagian kita tidak akan pernah bisa kita paksa menjadi milik kita.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!

Jangan sampai karena krisis, kita menipu. Jangan sampai karena tekanan hidup, kita terjerumus dalam riba. Karena Allah menegaskan: rezeki itu tidak akan didapatkan dengan cara maksiat, tetapi hanya dengan ketaatan.

Masalah terbesar manusia hari ini bukan kurangnya rezeki, tetapi lemahnya keyakinan kepada Allah. Hati menjadi gelisah karena terlalu bergantung pada dunia. Padahal yang mengatur dunia ini adalah Allah. Maka kunci ketenangan bukan pada stabilnya ekonomi, tetapi pada kuatnya iman.

Sekarang, jamaah sekalian, jika kita sudah yakin bahwa rezeki di tangan Allah, maka yang harus kita pelajari berikutnya adalah: bagaimana cara membuka pintu rezeki itu?

Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan jalan-jalannya dengan sangat jelas.

Pertama, perbanyak istighfar dan taubat. Allah berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, dan Dia akan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengalirkan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12).

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar adalah sebab turunnya rezeki dan hujan.”
Dan Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Jika kalian bertaubat dan taat, maka rezeki akan dilapangkan untuk kalian.”

Kedua, bertawakal kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki seperti burung. Ia berangkat pagi dalam keadaan lapar, dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih).

Burung keluar pagi dalam keadaan lapar, pulang sore dalam keadaan kenyang. Ia tetap berusaha, tapi hatinya bergantung kepada Allah. Ia tidak pernah putus asa dengan rezki yang telah Allah Ta’ala siapkan untuknya di hari itu.

Ketiga, fokus beribadah kepada Allah. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Wahai anak Adam, fokuskanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan menutup kefakiranmu. Namun jika engkau tidak melakukannya, Aku akan memenuhi kedua tanganmu dengan kesibukan, dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, shahih).

Keempat, menyambung silaturahim. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari).

Kelima, bersedekah. Allah berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

“Apa saja yang kalian infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39).
Dan Allah juga mengingatkan:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan dan mendorong kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia. Dan Allah itu Mahaluas dan Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di tengah dunia yang penuh kecemasan hari ini, seorang mukmin seharusnya menjadi manusia yang paling tenang. Karena ia tahu: Rezekinya sudah dijamin. Ajalnya sudah ditentukan. Dan Rabbnya tidak pernah lalai.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sekali lagi saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian untuk bertakwa kepada Allah. Ketahuilah, istiqamah di atas amal saleh adalah bekal terbesar menuju husnul khatimah. Banyak orang ingin akhir yang baik, tetapi tidak semua orang mau menempuh jalannya. Padahal akhir yang baik biasanya lahir dari kebiasaan baik yang dijaga terus-menerus.

Jangan terus bergantung pada manusia untuk setiap kebutuhanmu, sementara hatimu kosong dari ketergantungan kepada Allah. Betapa sering seseorang mengeluh ke sana ke mari, mengetuk banyak pintu, tapi melupakan satu-satunya pintu yang tidak pernah tertutup. Padahal kebutuhan yang kamu rasakan hari ini bukan sekadar ujian keadaan, tapi juga ujian ke mana kamu menggantungkan harapan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ”، -أصابه فقر أو حاجة- “فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ، لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ، أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنى؛ إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ، أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

“Barang siapa ditimpa kebutuhan—kemiskinan atau kesulitan—lalu ia menggantungkannya kepada manusia, maka kebutuhannya tidak akan tertutup. Namun siapa yang menggantungkannya kepada Allah, maka Allah akan segera memberinya kecukupan; entah dengan kematian yang segera, atau dengan kecukupan yang segera.” (HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Maka, selama kita masih menjadikan manusia sebagai sandaran utama, kita akan terus merasa kurang. Kita akan bergantung, berharap, lalu kecewa. Tapi saat kita benar-benar kembali kepada Allah—bukan sekadar ucapan, tapi sikap hati—di situlah kecukupan mulai terasa, bahkan sebelum keadaan berubah.

Karenanya sebelum kita meninggalkan masjid ini, luruskan kembali arah hati kita. Kurangi bergantung kepada manusia, dan perkuat ketergantungan hanya kepada Allah. Karena bukan banyaknya bantuan manusia yang membuat hidupmu lapang, tapi kuatnya tawakal kepada Allah.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.