Home Khutbah Khutbah Jum’at: Romantis Itu Ibadah (Edisi 124, 18 Muharram 1448 H)

Khutbah Jum’at: Romantis Itu Ibadah (Edisi 124, 18 Muharram 1448 H)

0
Sampul Khutbah
Sampul Khutbah Jum'at Edisi, 124

mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at dengan tema ‘Romantis Itu Ibadah’ (Edisi 124, 18 Muharram 1448 H).

Naskah selengkapnya:

‘ROMANTIS ITU IBADAH’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya tampak ketika kita berada di masjid, bukan hanya terucap dalam lisan, tetapi juga hidup di dalam rumah kita. Karena terkadang seseorang bisa tampak lembut di hadapan orang lain, tetapi keras kepada keluarganya sendiri. Terkadang seseorang mampu tersenyum kepada temannya, tetapi pelit senyum kepada istrinya. Terkadang seseorang mampu menjaga adab di kantor, di majelis, dan di hadapan tamu, tetapi lupa menjaga adab kepada orang yang paling dekat dengannya.

Padahal Islam bukan hanya mengatur shalat kita di masjid, tetapi juga mengatur cara kita menatap pasangan, cara kita berbicara di rumah, cara kita menahan marah, cara kita meminta maaf, dan cara kita menyayangi keluarga. Karena rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal. Rumah tangga adalah amanah, ibadah, madrasah iman, dan ladang pahala untuk kita.

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian dan takutlah pada hari ketika seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak pula dapat menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian, dan jangan pula penipu memperdayakan kalian dalam menaati Allah.” QS. Luqman: 33.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,

Di antara nikmat besar yang sering luput kita syukuri adalah nikmat keluarga. Ada orang memiliki rumah besar, tetapi tidak menemukan ketenangan di dalamnya. Ada orang memiliki harta cukup, tetapi hatinya letih ketika pulang ke rumah.

Sebaliknya, ada rumah sederhana, perabotnya biasa, makanannya tidak mewah, tetapi di dalamnya ada sakinah, ada kasih sayang, ada doa, ada saling memaafkan, ada suami dan istri yang berusaha menjadikan rumahnya sebagai tempat turunnya rahmat Allah.

Allah Ta‘ala menjelaskan bahwa pernikahan adalah salah satu tanda kebesaran-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” QS. Ar-Rum: 21.

Perhatikanlah, Allah menyebut pernikahan dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sakinah adalah ketenangan. Mawaddah adalah cinta yang tampak dalam tindakan. Rahmah adalah kasih sayang yang membuat seseorang tetap berbuat baik, bahkan ketika pasangannya memiliki kekurangan.

Maka romantis dalam Islam bukan sekadar bunga, hadiah, kata-kata indah, atau unggahan manis di media sosial. Romantis yang benar adalah akhlak yang diridhai Allah.

Romantis itu ketika suami menjaga lisan dari menyakiti istrinya. Romantis itu ketika istri menyambut suaminya dengan wajah yang baik. Romantis itu ketika keduanya saling menutup aib, saling mendoakan, saling memaafkan, saling membantu dalam ketaatan, dan tidak mudah membuka rahasia rumah tangga kepada orang lain.

Romantis yang halal adalah ibadah, selama niatnya baik dan caranya sesuai syariat. Bahkan hubungan suami istri yang halal pun bernilai sedekah. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Pada kemaluan salah seorang dari kalian terdapat sedekah.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami menyalurkan syahwatnya lalu ia mendapatkan pahala?” Beliau menjawab bahwa jika ia menyalurkannya pada yang haram, ia berdosa; maka jika ia menyalurkannya pada yang halal, ia mendapatkan pahala.

Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah. Islam tidak memusuhi cinta. Islam tidak menghapus kelembutan. Islam tidak memadamkan kasih sayang. Islam hanya membersihkan cinta agar tidak menjadi maksiat, mengarahkannya agar menjadi ibadah, dan menjaganya agar tidak berubah menjadi kezaliman.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Akad nikah bukan permainan. Ia bukan sekadar pesta sehari, foto indah, atau status sosial. Allah menyebut akad pernikahan sebagai mitsaqan ghalizhan, perjanjian yang berat.

Allah berfirman:

وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Padahal sebagian kalian telah bergaul luas dengan sebagian yang lain, dan mereka telah mengambil dari kalian perjanjian yang kuat.” QS. An-Nisa’: 21.

Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan para suami dengan sabda beliau:

اتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ؛ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللَّهِ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ

Takutlah kalian kepada Allah dalam urusan para wanita. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Saudara-saudaraku,

Kalimat “takutlah kepada Allah dalam urusan wanita” adalah peringatan yang tidak boleh dianggap remeh.

Seolah-olah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada setiap suami: jangan mentang-mentang engkau kuat lalu engkau menindas. Jangan mentang-mentang engkau pemimpin rumah tangga lalu engkau sewenang-wenang. Kepemimpinan dalam Islam bukan lisensi untuk kasar, tetapi tanggung jawab untuk membimbing, menafkahi, melindungi, dan menyayangi.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Bergaullah dengan mereka secara patut. Jika kalian tidak menyukai mereka, maka boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” QS. An-Nisa’: 19.

Ayat ini sangat indah. Allah tidak mengatakan bahwa pasangan kita pasti sempurna. Allah tahu manusia memiliki kekurangan. Tetapi Allah mengajarkan agar kekurangan tidak membuat kita buta dari kebaikan. Jangan karena satu kesalahan, kita menghapus seribu kebaikan. Jangan karena satu kekurangan, kita lupa kepada pengorbanan yang panjang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً؛ إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا، رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu akhlaknya, ia akan ridha dengan akhlaknya yang lain.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Pesan hadits ini adalah jika membenci, jangan membenci dengan kebencian yang total. Hadits ini mengajarkan keseimbangan. Suami jangan hanya melihat kekurangan istri. Istri pun jangan hanya menghitung kekurangan suami. Lihatlah sisi baiknya. Ingatlah lelahnya. Ingatlah jasanya. Ingatlah hari-hari ketika ia pernah berkorban untuk kita. Hidup berumah tangga tidak akan tenteram jika setiap hari diisi dengan daftar kesalahan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di zaman ini, banyak rumah tangga rusak bukan hanya karena kurang harta, tetapi karena keringnya kasih sayang. Banyak pasangan tinggal satu rumah, tetapi hatinya berjauhan. Duduk bersebelahan, tetapi masing-masing tenggelam dalam layar ponselnya. Berbicara seperlunya, tetapi jarang saling mendengar. Mudah memuji orang lain di luar rumah, tetapi berat mengucapkan terima kasih kepada pasangan sendiri.

Ada pula yang menjadikan media sosial sebagai tempat mengumbar masalah rumah tangga. Ketika marah, status ditulis. Ketika kecewa, aib disebar. Ketika bertengkar, rahasia dibuka. Padahal suami istri adalah pakaian satu sama lain.

Allah Ta‘ala berfirman:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” QS. Al-Baqarah: 187.

Pakaian itu menutup, bukan membongkar. Pakaian itu melindungi, bukan mempermalukan. Pakaian itu menghangatkan, bukan melukai. Maka suami adalah penutup aib istri, dan istri adalah penutup aib suami. Jangan jadikan orang luar lebih tahu isi pertengkaran kita daripada Allah yang kita mintai pertolongan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Jamaah yang berbahagia,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling mulia, paling sibuk, paling besar tanggung jawabnya, tetapi beliau tetap lembut kepada keluarga. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi di rumah, beliau menjawab:

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ

Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Inilah akhlak kenabian. Kemuliaan seorang lelaki tidak jatuh karena membantu keluarganya. Wibawa seorang suami tidak hilang karena mencuci piring, menggendong anak, membantu pekerjaan rumah, atau menenangkan istrinya yang lelah. Justru di situlah tampak iman dan akhlaknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”

Maka ukuran kebaikan seseorang bukan hanya ketika ia berada di tengah orang banyak, bukan hanya ketika ia berbicara di depan umum, tetapi ketika pintu rumah tertutup dan tidak ada yang melihat kecuali Allah. Bagaimana suaranya kepada keluarganya? Bagaimana tangannya ketika marah? Bagaimana lisannya ketika kecewa? Bagaimana wajahnya ketika pulang?

Marilah kita merenung sejenak…

Jangan sampai pasangan kita lebih sering menerima sisa tenaga, sisa senyum, sisa perhatian, dan sisa kesabaran. Orang luar mendapatkan keramahan kita, tetapi keluarga mendapatkan kemarahan kita. Teman mendapatkan candaan kita, tetapi pasangan mendapatkan diam yang dingin. Padahal yang paling berhak mendapatkan akhlak terbaik kita adalah orang yang paling dekat dengan kita.

Rumah tangga yang baik bukan rumah tangga tanpa masalah. Setiap keluarga pasti punya ujian. Tetapi keluarga yang diberkahi adalah keluarga yang kembali kepada Allah ketika diuji, saling menasihati dengan lembut, tidak mudah mengucapkan kata cerai, tidak menjadikan marah sebagai pemimpin, dan tidak menjadikan ego sebagai hakim.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

Janganlah kalian melupakan kebaikan di antara kalian.” QS. Al-Baqarah: 237.

Ayat yang singkat ini mengingatkan kita semua: Jangan lupakan kebaikan yang pernah ada di antara suami dan istri. Jangan lupakan awal perjuangan. Jangan lupakan doa-doa yang pernah dipanjatkan bersama. Jangan lupakan air mata pasangan. Jangan lupakan lelahnya mencari nafkah. Jangan lupakan lelahnya mengurus rumah dan anak-anak. Jangan lupakan masa ketika kalian saling membutuhkan.

Kaum Muslimin yang berbahagia,

Di antara bentuk romantisme rumah tangga adalah ketika suami maupun istri mudah untuk “taghaful”, atau berlapang dada dan tidak membesar-besarkan kesalahan kecil. Bukan berarti membiarkan maksiat atau kezaliman, tetapi tidak menjadikan setiap kekurangan sebagai bahan pertengkaran. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua kesalahan harus diperdebatkan. Tidak semua kekhilafan harus diungkit.

Jika ini berlaku dalam persahabatan, maka lebih layak lagi diterapkan dalam rumah tangga. Suami dan istri adalah dua manusia yang sama-sama lemah. Keduanya membawa latar belakang, kebiasaan, luka, harapan, dan kekurangan masing-masing. Maka rumah tangga memerlukan ilmu, sabar, doa, dan kemampuan untuk memaafkan.

Jangan jadikan rumah seperti pengadilan yang setiap hari mencari siapa yang salah. Jadikan rumah sebagai tempat pulang, tempat jiwa beristirahat, tempat anak-anak belajar iman dari akhlak ayah dan ibunya. Anak-anak mungkin lupa sebagian nasihat kita, tetapi mereka akan mengingat bagaimana ayah berbicara kepada ibu, bagaimana ibu menghormati ayah, bagaimana keduanya menyelesaikan masalah, dan bagaimana rumah itu diisi dengan zikir kepada Allah.

Maka bertakwalah kepada Allah selalu. Perlakukan keluarga dengan ihsan. Jadikan romantis bukan sekadar ucapan, tetapi ibadah yang lahir dari iman: senyum yang halal, sentuhan yang halal, nafkah yang halal, maaf yang halal, kesabaran yang halal, dan cinta yang mengantarkan kepada ridha Allah.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah sekali lagi kita meneguhkan takwa kepada Allah, terutama dalam urusan yang sering tersembunyi dari pandangan manusia: urusan rumah tangga. Karena boleh jadi manusia mengenal kita sebagai orang baik, tetapi pasangan kita lebih tahu siapa kita ketika marah, ketika lelah, ketika kecewa, dan ketika keinginan kita tidak terpenuhi.

Saudara-saudaraku,

Romantis itu ibadah ketika ia membuat pasangan merasa aman, bukan takut. Romantis itu ibadah ketika ia menjaga kehormatan, bukan mengumbar syahwat di jalan haram. Romantis itu ibadah ketika ia menambah syukur, bukan menambah maksiat. Romantis itu ibadah ketika suami menggandeng istrinya menuju ridha Allah, dan istri membantu suaminya untuk tetap taat kepada Allah.

Maka ringkasan khutbah kita pada hari ini adalah: pernikahan adalah amanah besar; suami istri adalah pakaian satu sama lain; cinta harus dijaga dengan takwa; masalah harus diselesaikan dengan sabar dan hikmah; dan akhlak terbaik kita harus paling dahulu dirasakan oleh keluarga kita sendiri.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾

Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia.” QS. Fushshilat: 34.

Jika kepada orang yang bermusuhan saja kita diperintahkan membalas dengan cara yang lebih baik, maka bagaimana lagi kepada pasangan hidup kita, ibu atau ayah dari anak-anak kita, orang yang pernah berbagi suka dan duka bersama kita?

Hendaklah setiap suami bertanya kepada dirinya: sudahkah istriku merasa aman bersamaku? Sudahkah aku menjadi pemimpin yang lembut, bukan penguasa yang menakutkan? Hendaklah setiap istri bertanya kepada dirinya: sudahkah aku menjadi penenang bagi suamiku? Sudahkah lisanku membantu ketaatan, bukan menambah luka? Dan hendaklah kita semua bertanya: apakah rumah kita mendekatkan kita kepada surga atau justru menyeret kita kepada dosa?

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Marilah kita berdoa kepada Allah…

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dosa guru-guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin.

Ya Allah, teguhkan kami di atas tauhid. Jauhkan kami dari syirik yang tampak maupun yang tersembunyi. Jadikan hati kami bergantung hanya kepada-Mu. Jadikan lisan kami basah dengan dzikir dan istighfar. Jadikan akhir hidup kami husnul khatimah.

Ya Allah, karuniakan kepada kami cinta kepada-Mu, cinta kepada Nabi-Mu ﷺ, cinta kepada Ahlul Bait beliau, dan cinta kepada para sahabat beliau.

Ya Allah, perbaikilah keluarga kami. Jadikan rumah-rumah kami rumah yang mengenal shalat, Al-Qur’an, sunnah Nabi-Mu, dan akhlak yang mulia. Lindungi anak-anak kami dari fitnah syahwat dan syubhat, dari pergaulan buruk, dari tontonan yang merusak, dan dari jalan yang menjauhkan mereka dari-Mu.

Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin. Bimbinglah para pemimpin kami kepada keadilan dan kebaikan. Anugerahkan kepada mereka rasa takut kepada-Mu dalam mengurus rakyat. Jagalah negeri kami dari kerusakan, perpecahan, kezaliman, bencana, dan fitnah yang tampak maupun tersembunyi.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Lapangkan kesulitan mereka, sembuhkan yang sakit, beri makan yang lapar, lindungi yang lemah, dan turunkan pertolongan-Mu kepada mereka.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا 

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version