Khutbah Jum’at: Saat Dunia Semakin Panas (Edisi 128, 16 Safar 1448 H)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at dengan tema ‘Saat Dunia Semakin Panas’ (Edisi 128, 16 Safar 1448 H).

Naskah selengkapnya:

‘Saat Dunia Semakin Panas’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya ucapan di lisan. Ketakwaan adalah kesadaran yang hidup di dalam hati, yang membuat seseorang berhati-hati dalam beramal karena ia mengetahui bahwa Allah melihatnya, mendengarnya, dan kelak akan meminta pertanggungjawaban darinya.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Dan Dia pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62).

Pergantian malam dan siang, datangnya musim hujan dan kemarau, sejuknya udara dan teriknya matahari, semuanya adalah ayat-ayat Allah. Alam bukan sekadar benda yang bergerak tanpa makna. Alam adalah tanda yang mengingatkan manusia kepada keagungan Penciptanya.

Ketika udara terasa nyaman, kita diperintahkan bersyukur. Ketika panas terasa menyengat, kita diperintahkan bersabar dan mengambil pelajaran. Seorang mukmin tidak memandang peristiwa alam hanya dengan mata kepala. Ia juga memandangnya dengan mata hati.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Hari-hari ini manusia di berbagai tempat mengeluhkan suhu yang semakin panas. Udara terasa menyengat. Aktivitas di luar rumah menjadi lebih berat. Para pekerja yang mencari nafkah di jalan, di kebun, di laut, di proyek bangunan, dan di tempat-tempat terbuka merasakan panas yang lebih berat daripada mereka yang berada di ruangan berpendingin.

Kondisi ini bukan sekadar perasaan. Pada Juni 2026, suhu rata-rata global tercatat sebagai yang tertinggi kedua untuk bulan Juni dalam data Copernicus, sementara Eropa Barat mengalami bulan Juni terpanas yang pernah tercatat di wilayah tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia juga menyebutkan bahwa penelitian untuk periode 2000–2019 memperkirakan sekitar 489.000 kematian terkait panas terjadi setiap tahun, dan hampir separuhnya berada di Asia.

Angka-angka ini seharusnya bisa membangunkan kepedulian dan kesadaran. Panas yang meningkat menimpa manusia secara tidak sama. Orang yang sehat mungkin hanya merasa tidak nyaman. Namun orang lanjut usia, bayi, orang sakit, pekerja lapangan, dan keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal layak dapat menghadapi bahaya yang jauh lebih besar.

Akan tetapi, di balik seluruh penjelasan ilmiah tentang cuaca, suhu udara, lautan, hutan, dan perubahan lingkungan, seorang mukmin tetap meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah.

Mempelajari sebab-sebab alamiah kenapa semua itu bisa terjadi tidak bertentangan dengan iman. Islam mengajarkan kita untuk memahami sebab, tetapi tidak melupakan Allah sebagai Pencipta seluruh sebab. Kita mempelajari hujan, tetapi kita mengetahui bahwa Allah yang menurunkannya. Kita mempelajari penyakit, tetapi kita mengetahui bahwa Allah yang menyembuhkan. Kita mempelajari panas matahari, tetapi kita mengetahui bahwa Allah yang menciptakan, mengatur, dan menundukkan matahari bagi kehidupan manusia.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (QS. Yunus: 5).

Allah juga berfirman:

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ

Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagi kalian, yang terus-menerus beredar.” (QS. Ibrahim: 33).

Matahari yang sama dapat menghangatkan bumi, menumbuhkan tanaman, mengeringkan hasil pertanian, dan membantu kehidupan manusia. Namun ketika Allah menghendaki, panasnya dapat menjadi ujian yang memperlihatkan betapa lemah dan terbatasnya manusia.

Manusia yang merasa kuat ternyata tidak mampu berdiri terlalu lama di bawah terik matahari. Manusia yang membanggakan teknologi tetap membutuhkan air, udara, tanah, tumbuhan, dan keseimbangan alam yang seluruhnya merupakan pemberian Allah.

Marilah kita merenung sejenak…

Betapa sering manusia merasa tidak membutuhkan Allah ketika pendingin ruangan masih menyala, air masih mengalir, makanan masih tersedia, dan tubuh masih sehat. Akan tetapi, ketika listrik padam, air berkurang, udara semakin panas, dan tubuh mulai melemah, barulah manusia menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat fakir.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Panas dunia juga mengingatkan kita kepada panas yang jauh lebih dahsyat, yaitu panasnya api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهُوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِ

Neraka mengadu kepada Rabbnya, ‘Wahai Rabbku, sebagian diriku memakan sebagian yang lain.’ Maka Allah mengizinkannya bernapas dua kali: satu napas pada musim dingin dan satu napas pada musim panas. Itulah panas paling menyengat yang kalian rasakan dan dingin paling menggigit yang kalian rasakan.” (Muttafaq ‘alaih).

Hadis ini tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan usaha menghadapi cuaca panas. Hadis ini mengajarkan agar panas yang menyentuh kulit juga menyentuh hati dengan renungan dan peringatannya. Jangan sampai tubuh kita segera mencari tempat yang sejuk, tetapi jiwa kita tidak pernah mencari perlindungan dari api neraka.

Ketika panas dunia menyengat, kita berlari menuju tempat teduh. Kita mencari air. Kita menyalakan kipas. Kita menghidupkan pendingin ruangan. Kita memakai penutup kepala dan mengurangi aktivitas berat.

Namun, sudahkah kita mencari perlindungan dari panas akhirat?

Di manakah tempat berteduh dari api neraka?

Tempat berteduh itu adalah tauhid yang bersih, iman yang benar, shalat yang dijaga, taubat yang tulus, sedekah yang ikhlas, hati yang takut kepada Allah, dan amal saleh yang mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

Dan mereka berkata, ‘Janganlah kalian berangkat dalam keadaan panas terik.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam lebih panas,’ sekiranya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81).

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang menjadikan panas sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan kepada Allah. Mereka takut kepada panas dunia, tetapi tidak takut kepada panas akhirat.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: adakah kita juga memiliki alasan-alasan serupa?

Kita berkata terlalu lelah untuk shalat berjamaah, tetapi sanggup berjam-jam mengejar urusan dunia. Kita merasa berat membaca Al-Qur’an beberapa menit, tetapi ringan menggulir layar telepon tanpa tujuan. Kita mengatakan belum siap bertaubat, seakan-akan kematian akan menunggu kesiapan kita. Kita menunda sedekah karena takut miskin, tetapi tidak takut datang menghadap Allah dengan timbangan amal yang ringan.

Allah berfirman:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ۝ تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ

Maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri; mereka kekal di dalam Jahanam. Wajah mereka dibakar api neraka dan mereka di dalamnya dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat.” (QS. Al-Mu’minun: 102–104).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

Api kalian yang dinyalakan oleh anak Adam ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panas Neraka Jahanam.” (Muttafaq ‘alaih).

Jika api dunia saja tidak sanggup kita sentuh, bagaimana mungkin seseorang merasa aman dari api akhirat? Jika panas matahari beberapa saat saja membuat tubuh gelisah, mengapa dosa yang dapat menyeret kepada neraka tidak membuat hati kita gelisah?

Tapi janganlah kita berputus asa. Pintu taubat masih terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Akan tetapi, luasnya ampunan Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk terus bermaksiat. Justru karena Allah Maha Pengampun, segeralah kembali kepada-Nya.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Panas dunia juga dapat menjadi akibat dari kerusakan yang dilakukan tangan manusia. Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini mengajarkan bahwa maksiat dan kerusakan manusia memiliki akibat. Namun kita tidak boleh gegabah memastikan bahwa setiap musibah tertentu adalah hukuman bagi orang tertentu. Penetapan semacam itu membutuhkan dalil. Musibah dapat menjadi ujian, peringatan, penghapus dosa, pengangkat derajat, atau hukuman. Allah lebih mengetahui keadaan setiap hamba.

Yang pasti, ayat ini memerintahkan kita untuk kembali: kembali kepada tauhid, kembali kepada ketaatan, dan kembali memperbaiki bumi yang telah Allah amanahkan.

Jangan membuang sampah sembarangan. Jangan mencemari sungai dan laut. Jangan membakar dan merusak tanpa alasan yang benar. Jangan berlebihan menggunakan air dan sumber daya. Jangan hanya menuntut kenyamanan bagi diri sendiri sambil memindahkan penderitaan kepada orang lain.

Menjaga lingkungan bukan berarti menyembah alam. Kita menjaga alam karena menaati Allah, Pemilik alam. Kita berbuat baik kepada makhluk karena berharap pahala dari Al-Khaliq, Sang Pencipta.

Bahkan ketika berwudhu, seorang Muslim diperintahkan tidak berlebihan menggunakan air. Jika dalam ibadah saja kita dilarang berlebih-lebihan, bagaimana mungkin pemborosan dalam kehidupan sehari-hari dianggap perkara ringan?.

Panasnya dunia juga seharusnya menghangatkan kepedulian kita. Sediakan air minum bagi pekerja dan musafir. Perhatikan orang tua dan tetangga yang tinggal sendirian. Berikan kesempatan istirahat kepada pekerja yang berada di bawah terik matahari. Jangan memaksakan aktivitas berat pada waktu yang membahayakan. Bantulah keluarga yang rumahnya sempit dan tidak memiliki sirkulasi udara yang layak.

Boleh jadi segelas air yang kita berikan dengan ikhlas menjadi sebab Allah melindungi kita pada hari ketika manusia sangat membutuhkan naungan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hal lain adalah, bahwa ketika dunia semakin panas, janganlah kita ikut menjadi api. Jadilah peneduh. Jangan menambah kebencian. Jangan menyebarkan provokasi. Jangan menghina orang yang berbeda. Jangan biarkan jari-jari kita menjadi kayu bakar bagi pertengkaran di media sosial.

Padamkan panasnya amarah dengan wudhu, kesabaran, diam, doa, dan mengingat akhirat. Padamkan panasnya permusuhan dengan nasihat yang lembut. Padamkan panasnya ketamakan dengan qanaah dan sedekah. Padamkan panasnya syahwat dengan puasa dan menjaga pandangan.

Marilah kita melihat ke dalam hati masing-masing.

Barangkali yang perlu disejukkan bukan hanya udara di sekitar kita, tetapi juga hati kita. Barangkali rumah kita telah memiliki pendingin ruangan, tetapi tidak memiliki kesejukan zikir. Barangkali kendaraan kita terasa sejuk, tetapi percakapan di dalamnya dipenuhi keluhan dan kemarahan. Barangkali tangan kita memegang minuman dingin, tetapi lisan kita sedang membakar kehormatan seorang Muslim.

Ketahuilah, kesejukan yang paling dalam bukan berasal dari alat pendingin. Kesejukan itu berasal dari iman, zikir, shalat, qanaah, dan keyakinan kepada Allah.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28).

Semoga panas dunia membangunkan hati kita sebelum datang hari yang tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Semoga setiap terik yang kita rasakan menjadi pengingat agar kita memperbanyak istigfar, memperbaiki shalat, menjaga keluarga, memperbanyak sedekah, dan menjauhkan diri dari segala jalan menuju neraka.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Jagalah keluarga kita bukan hanya dari panas matahari, tetapi juga dari panas neraka. Ajarkan mereka tauhid. Biasakan mereka shalat. Jaga makanan mereka dari yang haram. Awasi apa yang mereka lihat dan dengar. Nasihati dengan kelembutan. Jadilah teladan sebelum banyak berkata-kata.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sekali lagi, marilah kita bertakwa kepada Allah. Panas dunia adalah pengingat bahwa kita lemah, Allah Mahakuasa, dan kehidupan ini tidak berlangsung selamanya.

Jangan biarkan panas hanya menimbulkan keluhan. Jadikan ia jalan menuju syukur, sabar, taubat, dan kepedulian. Ketika udara panas, ingatlah akhirat. Ketika melihat kerusakan alam, perbaikilah apa yang mampu kita perbaiki. Ketika melihat orang lain kesulitan, bantulah. Ketika hati mulai panas, tahanlah amarah dan jagalah lisan.

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Hari esok dalam ayat ini bukan hanya hari Senin setelah hari Ahad, bukan hanya bulan depan atau tahun depan. Hari esok terbesar adalah hari ketika kita berdiri di hadapan Allah.

Pada hari itu, kekayaan tidak dapat menjadi pendingin. Jabatan tidak dapat menjadi naungan. Popularitas tidak dapat menjadi air pelepas dahaga. Yang menyelamatkan adalah rahmat Allah, kemudian iman dan amal saleh yang diterima-Nya.

Karena itu, jangan menunda taubat. Jangan menunda shalat. Jangan menunda membayar utang. Jangan menunda meminta maaf. Jangan menunda mengembalikan hak orang lain. Jangan menunggu usia tua untuk menjadi baik, sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan kematian akan datang.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.

Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka dan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, berikanlah kekuatan dan perlindungan kepada para pekerja yang mencari nafkah di bawah terik matahari. Jagalah para petani, nelayan, pedagang kecil, pengemudi, petugas kebersihan, pekerja bangunan, dan seluruh hamba-Mu yang bekerja keras untuk keluarganya.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.