spot_img

Khutbah Jum’at: Saat Tiada Lagi Tempat Sembunyi (Edisi 118, 4 Dzulhijjah1447 H)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Saat Tiada Lagi Tempat Sembunyi’ (Edisi 118, 4 Dzulhijjah1447 H 1447 H).

Untuk selengkapnya:

SAAT TIADA LAGI TEMPAT SEMBUNYI…

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Takwa yang bukan hanya terucap di lisan, tetapi hadir di hati, tampak dalam ibadah, terasa dalam akhlak, dan mengendalikan langkah kita ketika sendirian maupun di hadapan manusia.

Sesungguhnya sebaik-baik nasihat adalah Kitabullah. Allah menurunkan Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dengan lisan, tetapi untuk mengguncang hati yang lalai, menyembuhkan dada yang sakit, menerangi jalan yang gelap, dan mengembalikan manusia kepada Rabb-nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu, penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57).

Dan Allah berfirman:
فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ

“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa yang takut kepada ancaman-Ku.” (QS. Qaf: 45)

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Di antara ayat yang sangat kuat menggugah hati adalah firman Allah dalam Surah Al-Qiyamah:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ ۝ بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ ۝ بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ ۝ يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ ۝ فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ ۝ وَخَسَفَ الْقَمَرُ۝ وَجُمِعَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۝ يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ ۝ كَلَّا لَا وَزَرَ ۝ إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ ۝ يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ۝ بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ۝ وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya? Bahkan Kami mampu menyusun kembali ujung-ujung jarinya dengan sempurna. Tetapi manusia hendak terus berbuat maksiat di masa depannya. Ia bertanya, ‘Kapankah hari Kiamat itu?’ Maka apabila mata terbelalak ketakutan, bulan telah hilang cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, ‘Ke mana tempat lari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Rabb-mulah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah ia kerjakan dan apa yang ia tinggalkan. Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 3–15).

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,

Renungkanlah ayat ini. Allah bertanya, “Apakah manusia mengira Kami tidak mampu mengumpulkan tulang-belulangnya?” Ketika jasad telah hancur, ketika tulang telah menjadi debu, ketika manusia telah dilupakan oleh banyak orang, Allah tidak pernah lupa. Allah Mahakuasa mengembalikan semuanya. Bahkan, Allah menyebut ujung-ujung jari manusia.

بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ

“Bahkan Kami mampu menyusun kembali ujung-ujung jarinya dengan sempurna.”

Syaikh Abdurrahman as-Sa‘di rahimahullah menjelaskan bahwa Allah mampu mengembalikan bagian paling halus dari tubuh manusia. Jika ujung jari saja Allah mampu susun kembali dengan sempurna, maka seluruh tubuh manusia tentu lebih mudah bagi-Nya.

Ini adalah bantahan bagi orang yang meragukan kebangkitan.Namun masalah manusia sering kali bukan karena tidak adanya bukti atau argumentasi. Bukan karena bukti tentang akhirat tidak jelas atau kurang. Tetapi karena hawa nafsu ingin bebas dari tanggung jawab.

Allah berfirman:

بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ

“Tetapi manusia hendak terus berbuat maksiat di masa depannya.”

Inilah penyakit kita manusia. Seseorang bertanya tentang hari Kiamat bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menunda taubat. Ia bertanya, “Kapan Kiamat?” padahal maksud hatinya, “Masih lama, nanti saja aku berubah.”

Ia tahu shalat itu wajib, tetapi menundanya lalu berkata, “Nanti kalau sudah tenang.”

Ia tahu riba itu haram, tetapi tetap melakoninya sambil berkata, “Nanti kalau ekonomi sudah stabil, saya akan taubat.”

Ia tahu lisannya tajam, tangannya zalim, matanya bebas melihat yang haram, tetapi terus saja dilakukan sambil berkata, “Taubatnya nanti kalau sudah tua atau pensiun.”

Marilah kita merenung sejenak…

Berapa banyak manusia yang tidak diberi kesempatan sampai tua? Berapa banyak yang pagi masih tertawa, sore telah dikafani? Berapa banyak yang malam masih menggenggam ponsel, esoknya orang lain menggenggam keranda jenazahnya?.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Hari Kiamat pasti datang. Pada hari itu manusia tidak lagi berani menyombongkan diri. Allah menggambarkan:

فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ ۝ وَخَسَفَ الْقَمَرُ ۝ وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ﴾

“Maka apabila mata terbelalak ketakutan, bulan telah hilang cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan.”

Apa yang dulu tampak besar di mata manusia menjadi tidak berarti. Jabatan tidak menolong. Kekayaan tidak melindungi. Popularitas tidak menyelamatkan. Pengikut di dunia maya tidak ikut masuk kubur. Gelar, pujian, tepuk tangan, dan komentar manusia berhenti di batas kematian.

Lalu manusia berkata:

أَيْنَ الْمَفَرُّ

“Ke mana tempat lari?”

Allah menjawab:

كَلَّا لَا وَزَرَ ۝ إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ

“Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Rabb-mulah pada hari itu tempat kembali.”

Di dunia, manusia bisa bersembunyi dari manusia. Ia bisa menghapus pesan, mengunci akun, mengganti wajah di hadapan orang lain, atau menutup kejahatan dengan pencitraan. Tetapi di hadapan Allah, tidak ada yang hilang. Tidak ada jejak yang luput. Tidak ada niat yang tersembunyi.

Allah berfirman:

يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah ia kerjakan dan apa yang ia tinggalkan.”

Apa yang kita dahulukan akan disebut. Apa yang kita tunda-tunda juga akan disebut. Amal yang kita lakukan akan ditampakkan. Kebaikan yang kita tinggalkan juga akan dipertanyakan. Bukan hanya dosa besar yang jelas, tetapi juga kesempatan taat yang kita sia-siakan.

Berapa kali azan memanggil, tetapi kita sibuk mengejar dunia?
Berapa kali mushaf berada dekat dengan tangan, tetapi mata lebih betah menatap layar?
Berapa kali orang tua membutuhkan kelembutan kita, tetapi kita menjawab dengan kasar?
Berapa kali saudara kita meminta bantuan, tetapi kita menunda karena merasa tidak penting?

Jamaat sekalian rahimahukumullah,

Ayat berikutnya juga sangat mengguncang jiwa:

بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ۝ وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya.”

Manusia paling tahu tentang dirinya. Ia tahu kapan senyumnya tulus dan kapan senyumnya hanya untuk kepentingan. Ia tahu kapan sedekahnya ikhlas dan kapan sedekahnya ingin dipuji. Ia tahu kapan ia diam karena bijak dan kapan ia diam karena takut kehilangan keuntungan. Ia tahu kapan ia marah karena membela kebenaran dan kapan ia marah karena hawa nafsunya terluka.

Tapi, nanti pada Hari Kiamat, semuanya akan terungkap nyata. Bahkan seluruh tubuh kita akan menjadi saksi yang memberatkan dan mencelakakan kita. Tubuh kita, anggota tubuh kita kelak akan menjadi saksi paling jujur terhadap semua yang kita lakukan selama menikmati hidup di dunia ini…

Maka jangan terlalu sibuk menyusun alasan di hadapan manusia, sementara hati sendiri tahu bahwa kita sedang lari dari Allah.

Saudara-saudaraku,

Ingatlah apa yang biasa kita lakukan di dunia ini: bagaimana kita selalu menyiapkan 1001 alasan untuk menolak ajakan dan nasihat bertaubat pada Allah, memperbaiki diri, menunaikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Tidak shalat dengan alasan sibuk rapat dan mencari nafkah.

Berbuat maksiat dengan alasan sekadar hiburan. Korupsi dan makan uang haram dengan alasan sekarang mencari yang halal itu susah.
Dan beragam alasan lain yang kita semua paham betul tentang itu.

Sayangnya, kelak di Hari Akhir semua alasan itu tak berguna sama sekali. Karena Allah Mahatahu kelicikan jiwa dari mana alasan-alasan pembenaran itu datang.

Maka sebelum alasan itu tidak berguna, mari kembali kepada Allah.

Perbaiki shalat kita. Jaga lisan kita. Bersihkan penghasilan kita. Tundukkan pandangan kita. Rawat keluarga kita. Jangan jadikan dunia maya sebagai ladang dosa yang terus mengalir. Jangan sebarkan fitnah, jangan ikut menghinakan orang, jangan merasa aman karena dosa dilakukan bersama-sama. Di hadapan Allah, setiap jiwa datang sendiri-sendiri.

Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hati kita, penyembuh dada kita, penghapus kesedihan kita, dan penuntun langkah kita menuju ridha-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Kembali khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, bertakwalah kepada Allah. Sebab takwa adalah bekal terbaik menuju hari ketika tidak ada tempat lari selain kembali kepada Allah.

Hari ini kita diingatkan oleh firman Allah dalam Surah Al-Qiyamah. Allah Mahakuasa membangkitkan manusia setelah mati. Allah Mahakuasa menyusun kembali tulang-belulang, bahkan ujung jari manusia. Maka jangan sekali-kali kita meremehkan hari kebangkitan.

Maka selama pintu taubat masih terbuka, masuklah ke dalamnya. Selama nyawa belum sampai tenggorokan, mintalah ampun kepada Allah. Selama mata masih bisa menangis, menangislah karena takut kepada-Nya. Selama tangan masih bisa memberi, bersedekahlah. Selama lisan masih bisa berdzikir, basahilah ia dengan istighfar. Selama kaki masih bisa melangkah, langkahkan ia ke masjid dan majelis ilmu.

Sesungguhnya manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri. Kita mungkin bisa meyakinkan orang lain dengan alasan, tetapi hati kita tahu kebenaran keadaan kita. Maka marilah kita jujur di hadapan Allah.

Katakan kepada diri kita: dosa apa yang harus aku tinggalkan? Kewajiban apa yang selama ini aku lalaikan? Siapa yang pernah aku sakiti dan belum aku mintai maaf? Amal apa yang ingin aku bawa ketika menghadap Allah?

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Semoga Allah tidak menjadikan khutbah ini hanya sebagai suara yang lewat di telinga, tetapi sebagai nasihat yang menetap di hati. Semoga Allah membangunkan kita dari kelalaian, sebelum kita dibangunkan oleh kematian.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai cahaya hati kami, penyejuk dada kami, penghilang kesedihan kami, dan petunjuk jalan kami.

Ya Allah, perbaikilah keadaan keluarga kami. Jadikan rumah-rumah kami rumah yang dipenuhi shalat, dzikir, kasih sayang, dan ketaatan kepada-Mu.

Ya Allah, bimbinglah para pemimpin kaum muslimin kepada keadilan dan kebaikan. Jagalah negeri kami dari fitnah, bencana, kezaliman, perpecahan, dan kerusakan akhlak.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin yang tertindas di mana pun mereka berada. Kuatkan hati mereka, sembuhkan yang sakit, beri makan yang lapar, lindungi anak-anak dan kaum lemah, serta angkatlah kezaliman dari mereka.

Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami. Jangan Engkau jadikan dosa-dosa kami sebagai penghalang rahmat-Mu. Jangan Engkau hinakan kami pada hari ketika manusia diberitakan tentang apa yang telah ia kerjakan dan apa yang ia tinggalkan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.