Home Khutbah Khutbah Jum’at: Selamat Jalan, Ramadhan (Edisi 057, 28 Ramadhan 1446)

Khutbah Jum’at: Selamat Jalan, Ramadhan (Edisi 057, 28 Ramadhan 1446)

0
Sampul Khutbah Jum'at

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Selamat Jalan, Ramadhan…’ (Edisi 057, 28 Ramadhan 1446).

Naskah selengkapnya:

SELAMAT JALAN, RAMADHAN…

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Kita sekali lagi mengungkapkan rasa syukur yang setinggi-tingginya hanya kepada Allah Ta’ala, yang terus-menerus memberikan kesempatan demi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri, untuk menyiapkan bekal terbaik menempuh perjalanan panjang ke Negeri Akhirat, dimana kita semua dikumpulkan dan dihisab, lalu setelah berjalan menuju peraduan terakhir kita: Surga atau Neraka.

Kita bersyukur pada Allah Azza wa Jalla, bahwa kita telah disampaikan hingga pada titik ini, pada titik 28 Ramadhan 1446 H. Tidak semua manusia dan hambaNya diperkenankan sampai pada hari ini dalam keadaan beriman dan beribadah kepada Allah Ta’ala, dan kita semua dipilih untuk itu.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!

Rasanya belum lama kita mengucapkan “selamat datang” dan menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan, dan hari ini kita sudah berada di penghujungnya. Hari ini, kita sudah bersiap-siap untuk mengucapkan “selamat tinggal” dan mengantarkan kepergiannya.

Rasanya belum lama kita menikmati hari-hari Ramadhan dalam puasa dan berbuka, dalam tilawah dan sedekah. Tapi hari ini, kita sudah bersiap-siap untuk kehilangan hari-hari indah dalam ibadah itu.

Rasanya belum lama kita menikmati malam-malam Ramadhan dalam shalat-shalat tarawihnya, dalam senandung al-Qur’annya. Dan hari ini, kita akan segera melepaskan semua ketaatan, ibadah dan amal shalih itu untuk ikut pergi bersama Ramadhan. Pergi untuk kemudian kita berjumpa lagi pada Yaumul Hisab, dimana semuanya akan diperlihatkan kepada kita oleh Allah Azza wa Jalla:

﴿يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8) ﴾   

Artinya:

“Pada hari itu, manusia akan datang dari berbagai arah untuk melihat amal-amal mereka. Maka siapa saja yang mengerjakan kebaikan sekecil anak semut pun, (niscaya) ia akan melihatnya. Dan siapa saja yang melakukan keburukan sekecil anak semut pun, (niscaya) ia akan melihatnya.”  (Surah al-Zalzalah: 6-8).

Pada akhirnya, seperti itulah perpisahan kita dengan Ramadhan. Sebuah perpisahan untuk pertemuan kembali di hadapan Allah Ta’ala dimana kita akan menyaksikan sendiri: kesungguhan atau kemalasan kita dalam menjalani hari-hari Ramadhan yang mulia ini.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Kepergian bulan Ramadhan tentu saja meninggalkan begitu banyak pesan untuk kita semua. Pesan yang seharusnya menjadi panduan dan pedoman kita dalam menjalani hari-hari paska kepergiannya, hingga akhirnya kita dipanggil oleh Allah Azza wa Jalla.

Bulan Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini tidak akan pernah punya nilai tanpa iman, kita tidak akan pernah selamat kecuali dengan taqwa pada Allah, dan kita tidak akan pernah layak disebut manusia sukses tanpa ketaatan pada Allah dan RasulNya. Kita juga belajar bahwa kemuliaan tertinggi di sisi Allah hanya bisa diraih ketika kita tunduk patuh pada hukum dan ketetapan Allah dan RasulNya. Allah Ta’ala berfirman:

 إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴾ [النور: 51].

Artinya:

“Hanya saja jawaban orang-orang beriman itu jika diseru untuk (kembali) kepada Allah dan RasulNya untuk menjadi penetap hukum di tengah mereka adalah dengan mengatakan: ‘Kami dengarkan dan kami taati.’ Mereka itulah (yang layak disebut sebagai) orang-orang yang beruntung.”  (Surah al-Nur: 51).

Dari bulan Ramadhan, kita juga belajar bahwa jalan menuju Surga hanya satu, yaitu jalan yang digariskan oleh Allah dan RasulNya. Jalan lurus yang hanya ditempuh oleh mereka yang mentauhidkan Allah Ta’ala sepanjang masa. Allah Ta’ala berfirman:

 وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾ [الأنعام: 153].

Artinya:

“Dan bahwa inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah mengikuti jalan-jalan lain yang membuat kalian tercerai-berai dari jalanNya. Itulah yang diperintahkanNya kepada kalian agar kalian selalu bertaqwa.”  (Surah al-An’am: 153).

Kaum muslimin yang berbahagia!

Dari bulan Ramadhan, kita juga belajar untuk sedikit mencicipi kepahitan hidup dalam rasa lapar dan dahaga, dalam keterbatasan melakukan apa sebenarnya boleh dilakukan di luar bulan Ramadhan. Untuk apa? Agar hati kita selalu peka dalam merasakan penderitaan dan kesusahan yang dirasakan oleh orang lain.

Seperti derita yang hari-hari ini dialami oleh saudara-saudara kita di Gaza, yang paska serangan khianat Zionis, jumlah korbannya sudah lebih dari 50.000 orang, Allahul Musta’an. Apakah hati kita masih tergugah dengan semua itu? Apakah jiwa kita masih ikut bersedih menyaksikan dan mendengarkan semua tragedi itu?.

Maka Ramadhan menitipkan pesan penting itu kepada kita, agar kepedulian ukhuwah itu terus terjaga dalam diri kita selamanya.

Ramadhan juga mengajarkan kepada kita untuk menjaga konsistensi ketaatan dan amal shalih kita di sepanjang hayat, dan jangan hanya berhenti di bulan Ramadhan saja. Karena Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan, itu juga Allah yang harus kita taati dan ibadahi di bulan-bulan seterusnya di sepanjang hayat kita.

Sungguh merupakan sebuah kerugian besar bagi seorang hamba yang telah mengumpulkan begitu banyak kekayaan amal shalihnya selama Ramadhan, lalu setelah Ramadhan pergi, ia berbalik arah menjadi seorang hamba pendurhaka yang memuaskan hasrat nafsunya sejadi-jadinya.

Di dalam al-Qur’an, Allah Ta’ala menggambarkannya seperti seorang wanita yang merusakan jalinan pintalan yang sedemikian indah dan kuat. Allah Ta’ala mengatakan:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya:

“Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali. Kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu karena ada (kecenderungan memihak kepada) satu golongan yang lebih banyak kelebihannya (jumlah, harta, kekuatan, pengaruh, dan sebagainya) daripada golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu dan pasti pada hari Kiamat Allah akan menjelaskan kepadamu apa yang selalu kamu perselisihkan.”  (Surah al-Nahl: 92).

Inilah sebesar-besarnya kebodohan. Seperti seorang pedagang yang telah berhasil mendapatkan keuntungan bermilyar-milyar rupiah, tapi ia kemudian menghabiskan semua kekayaannya dalam perjudian.

Manusia seperti ini digambarkan oleh Bisyr al-Hafi rahimahullah dengan mengatakan:

بِئْسَ القومُ قومٌ لا يَعرفُونَ للهِ حَقَّاً إلَّا في شَهْرِ رَمَضَان ، إنَّ الصَّالحَ الذي يَتَعَبَّدُ ويَجْتَهِدُ السَّنَة كلَّها

Artinya:

“Seburuk-buruk manusia adalah manusia yang tidak mengenal kewajibannya kepada Allah kecuali saat bulan Ramadhan. (Karena) sesungguhnya hamba yang shalih itu adalah hamba yang beribadah pada Allah dan bersungguh-sungguh (melakukan itu) di sepanjang tahun.”.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!

Kepergian bulan Ramadhan juga mengajarkan kepada kita bahwa kepergian dan perpisahan di dunia ini adalah sesuatu yang pasti akan terjadi. Tidak ada satu pun dari kita yang mampu mengelak dan menghindar dari perpisahan itu. Pada akhirnya, kita semua akan berpisah dan meninggalkan kehidupan dunia ini. Kita berpisah dari orang-orang yang kita cintai dan juga orang-orang yang kita benci. Kita menyebut perpisahan seperti itu sebagai kematian.

Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)﴾ 

Artinya:

“Setiap jiwa akan merasakan kematian, dan kelak kalian hanya akan diberi balasan kalian pada Hari Kiamat. Maka siapa saja yang dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka ia telah berhasil. Dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang menipu.”  (Surah Ali Imran: 185).

Semoga kitalah orang-orang sukses itu. Orang-orang yang dijauhkan dari Neraka Allah dan diperkenankan menginjakkan kaki ke dalam Surga-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Ketika akhirnya bulan Ramadhan bersiap-siap pergi meninggalkan kita, tertinggallah sebuah pertanyaan penting di ujung pertemuan ini.

Pertanyaan itu adalah:

Apakah semua ibadah, penghambaan, ketaatan dan amal shalih yang kita lakukan di sepanjang Ramadhan akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla?

Apakah puasa kita layak untuk diterimaNya? Apakah shalat-shalat tarawih kita pantas diterimaNya? Begitu pula tilawah al-Qur’an dan sedekah kita; apakah semuanya memenuhi syarat untuk menyelamatkan kita di Akhirat nanti?.

Dikisahkan bahwa seorang ulama Salaf terlihat sangat sedih di hari Idul Fitri. Lalu ia ditanya: “Mengapa bersedih? Bukankah ini hari kegembiraan dan kebahagiaan?” Maka ia menjawab: “Kalian benar. Tapi aku adalah seorang hamba. Tuhanku menyuruhkan mengerjakan sesuatu, tapi aku tidak tahu apakah Dia berkenan menerimanya atau tidak?”.

Karena itu, jangan pernah menyombongkan deretan ketaatan dan amal shalih yang telah kita lakukan, karena kita belum mendapatkan jaminan apakah ia diterima atau tidak?.

Karena itu pula, pada hari-hari Ramadhan yang tersisa ini, perbanyaklah doa agar Allah berkenan menerima semuanya dan menutupi kekurangan yang ada pada setiap ibadah dan amal shalih kita itu.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version