spot_img

Khutbah Jum’at: Toleransi Jangan Kebablasan! (Edisi 096, 28 Jumadil Akhir 1447)

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Toleransi Jangan Kebablasan! ’ (Edisi 096, 28 Jumadil Akhir 1447).

Naskah selengkapnya:

TOLERANSI JANGAN KEBABLASAN!

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita memperbarui ketakwaan kita kepada Allah Azza wa Jalla. Ketakwaan yang bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi keyakinan yang kokoh di hati, dan ketaatan yang nyata dalam sikap dan perbuatan. Ketakwaan yang membuat kita teguh dalam prinsip, meskipun dunia menekan, dan lurus dalam iman, meskipun arus pemikiran terus menggoda.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara ujian besar bagi kaum muslimin di zaman ini adalah kaburnya batas-batas dalam beragama. Banyak istilah indah, namun miskin makna. Banyak slogan menarik, namun berbahaya dalam praktik. Salah satu yang paling sering digaungkan adalah istilah toleransi beragama.

Islam tidak alergi terhadap toleransi. Bahkan, Islamlah agama yang paling adil dan paling jujur dalam mengajarkan toleransi. Namun Islam juga menolak toleransi yang kebablasan, toleransi yang menabrak akidah, toleransi yang mencairkan tauhid, dan toleransi yang pada akhirnya menghilangkan jati diri seorang muslim.

Allah Ta’ala sejak awal telah mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap terhadap orang-orang yang berbeda agama, dengan prinsip yang sangat jelas, adil, dan bermartabat. Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam agama dan tidak mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”  (Surah al-Mumtahanah: 8).

Perhatikan ayat ini, jamaah sekalian. Allah tidak mengatakan sekadar boleh, tetapi Allah menyebut berbuat baik dan adil, bahkan menyatakan bahwa Dia mencintai orang-orang yang adil, meskipun kepada non-muslim. Ini adalah toleransi yang hakiki.

Namun pada saat yang sama, Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk mencintai kekufuran, membenarkan kesyirikan, atau ikut merayakan ritual agama lain. Karena toleransi dalam Islam tidak pernah berarti mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.

Allah Ta’ala menegaskan prinsip pemisahan ini dalam ayat yang sangat tegas:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untuk kalian agama kalian, dan untukku agamaku.” (Surah al-Kafirun: 6).

Ayat ini bukan ajakan konflik. Ayat ini adalah deklarasi akidah. Sebuah penegasan bahwa Islam menghormati pilihan orang lain, namun tidak ikut serta, tidak menyetujui, dan tidak mencampuri keyakinan yang batil.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Di sinilah letak kesalahan besar sebagian kaum muslimin hari ini. Atas nama toleransi, ada yang menghadiri ibadah agama lain. Atas nama kebersamaan, ada yang ikut merayakan hari raya mereka. Bahkan dengan ringan dan tanpa beban iman, ada yang mengucapkan: “Selamat Natal.”

Padahal, Natal bukan sekadar tradisi budaya atau perayaan sosial. Natal adalah ritual keagamaan yang berdiri di atas keyakinan bahwa Isa ‘alaihis salam adalah anak Tuhan. Dan keyakinan ini secara tegas dibatalkan dan ditolak oleh Allah Azza wa Jalla.

Allah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam.” (Surah al-Mai’dah: 72).

Bahkan dalam ayat lain Allah menggambarkan betapa dahsyatnya dosa ini:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا * لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا

“Mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Sungguh kalian telah membawa perkara yang sangat besar.”  (Surah Maryam: 88-89).

Maka renungkanlah, wahai kaum muslimin. Bagaimana mungkin seorang yang mengaku bertauhid, mengucapkan selamat atas perayaan yang inti ajarannya adalah kesyirikan kepada Allah?.

Ayat ini bahkan disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam Surah Maryam, surah yang paling indah dari Allah yang menjelaskan tentang Nabi Isa ‘alaihissalam dan ibundanya yang mulia, Maryam ‘alaihassalam. Sebuah surah yang menjelaskan kepada kita, bagaimana seharusnya keyakinan dan Aqidah kita tentang Nabi Isa dan ibundanya, Maryam –alaihimassalam-.

Rasulullah ﷺ telah memberikan kaidah yang sangat jelas:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”  (HR. Abu Dawud, dengan sanad yang hasan).

Para ulama menjelaskan bahwa menyerupai dalam syiar agama dan hari raya adalah bentuk tasyabbuh yang paling berbahaya, karena ia menyentuh wilayah iman dan loyalitas hati.

Bahkan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata:

اجْتَنِبُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ فِي أَعْيَادِهِمْ

“Jauhilah/hindarilah musuh-musuh Allah dalam hari raya mereka”.

Dan harus diingat dan ditekankan, bahwa saat kita menegaskan hal ini, ini sama sekali bukan sebuah ajaran kebencian. Ini adalah ajaran penjagaan tauhid.

Ketika batas ini tidak dipahami, muncullah sikap-sikap yang sebenarnya lahir bukan dari niat buruk, tetapi dari ketidaktahuan. Ada yang mengira bahwa mengucapkan selamat Natal hanyalah bentuk sopan santun. Ada yang beranggapan itu sekadar budaya. Padahal, dalam Islam, hari raya adalah syiar agama, bukan tradisi netral.

Natal bukan sekadar momen kebahagiaan sosial. Natal adalah perayaan kelahiran yang diyakini sebagai “anak Tuhan”. Dan Islam, dengan penuh penghormatan kepada Nabi Isa ‘alaihis salam, justru membersihkan beliau dari tuduhan ketuhanan.

Allah berfirman:

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ

“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul.” (Surah al-Ma’idah: 75).

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Islam mengajarkan kita untuk hidup berdampingan dengan damai, namun tetap berdiri tegak di atas akidah Tauhid. Islam tidak meminta kita kasar, tetapi juga tidak mengizinkan kita larut. Islam tidak mengajarkan kita memusuhi manusia, tetapi Islam melarang kita membenarkan kekufuran.

Marilah kita jujur kepada diri kita sendiri. Jangan sampai iman kita tergadai hanya demi dianggap ramah, demi pujian manusia, atau demi label moderat yang semu.

Allah Ta’ala sejak awal telah mengajarkan bahwa perbedaan agama adalah sunnatullah. Allah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا

“Sekiranya Tuhanmu menghendaki, niscaya semua manusia di bumi akan beriman seluruhnya.”  (Surah Yunus: 99).

Artinya, keberadaan pemeluk agama lain bukan sesuatu yang harus dihapus dengan pemaksaan, tetapi disikapi dengan hikmah dan keadilan. Karena itu Islam melarang pemaksaan dalam beragama:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam beragama, karena telah jelas jalan kebenaran dari kesesatan.” (Surah al-Baqarah: 256)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Islam itu yakin dengan kebenarannya. Kebenaran Islam tidak membutuhkan pemaksaan, dan tidak pula membutuhkan kompromi akidah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ketakwaan yang benar akan melahirkan keseimbangan: tegas dalam iman, lembut dalam muamalah. Kita bisa bersikap baik tanpa harus larut. Kita bisa ramah tanpa harus menggadaikan tauhid. Kita bisa hidup berdampingan tanpa harus ikut merayakan.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Hari ini, marilah kita terus menjadi bagian mereka yang terus bekerja untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Sumatra. Siapkan semua bentuk dukungan yang bis akita berikan. Kita doakan agar Allah mengganti kesedihan mereka dengan ketenangan, kehilangan mereka dengan karunia, dan musibah mereka dengan ampunan dan rahmat.

Hari-hari ini, kita juga tidak bosan-bosannya terus mengingatkan untuk: Jangan pernah lupakan Gaza! Jangan lupakan saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi para Nabi dan Rasul, di bumi al-Quds, meskipun telah terjadi kesepakatan gencatan senjata, tapi perjuangan membebaskan bumi al-Aqsha sama sekali belum selesai! Karena penjajahan kaum Zionis Yahudi masih tetap eksis di sana entah sampai kapan.

Mintalah agar Allah menjaga iman kita, menjaga keluarga kita, menjaga ketenangan negeri kita, dan menjaga seluruh nikmat yang kita genggam hari ini.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّاب

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.