Home Artikel Aqidah Mati Syahid: Jalan yang Mulia Menuju Surga-Nya

Mati Syahid: Jalan yang Mulia Menuju Surga-Nya

0
Kondisi Perang
Ilustrasi Kondisi Perang/Unplash

mim.or.di – Setiap dari insan manusia akan mengalami yang namanya kematian. Namun sebagai hamba yang beriman, kita berharap mati syahid sebab itu jalan yang mulia menuju surga-Nya.

Janji Allah kepada Mereka yang Mati Syahid

Dari sahabat yang mulia Jabir Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

”Berkata seorang lelaki kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang uhud, apa pendapat anda jika saya terbunuh ya Rasulullah, dimana saya.?”, Rasulullah berkata:”Di surga”.

Sahabat ini memiliki bekal ditangannya beberapa butir kurma kemudian beliau melemparkannya lalu berjihad sampai terbunuh dijalan Allah Subhanahu wata’ala. Demkianlah janji Allah kepada mereka yang mati syahid.

Beliau melempar kurma itu karena beliau menganggap bahwasanya jika beliau masuk surga kemudian masih memakan kurma yang beliau bawa maka ini adalah kehidupan yang terlalu panjang baginya karena beliau rindu untuk dimasukkan oleh Allah Subhanahu wata’ala ke dalam surga.

Baca Juga: MPLS 2025, Kepala Kuttab Qur’an MIM: Menggali Potensi Santri Baru

Ini pula yang pernah terjadi pada salah seorang sahabat yang bernama Umair Ibnu Al-Humam dalam perang badar ketika Rasulullah meluruskan shaf dan barisan, Rasulullah berkata:

”Bangkitlah kalian untuk mendapatkan surga yang luasnya seperti langit dan bumi”, salah seorang sahabat yang bernama Umair ibnu Al-Humam mengeluarkan kurmanya sambil memakan 1 butir, 2 butir, 3 butir kemudian melempar sisanya lalu berkata:

”Demi Allah ini adalah kehidupan yang masih sangat panjang bagi saya jika saya masih hidup memakan sisa kurma ini”, akhirnya beliau terbunuh pada perang badar.

Meraih Surga dengan Mencari Rahmat-Nya

Semoga Allah memanfaatkan kita dalam ketaatan kepadanya, kita tahu diluar sana banyak hamba-hamba Allah yang Sholeh. Kita tahu Allah tidak butuh dengan ibadah kita, kita tahu kita memiliki banyak dosa, banyak perintah yang kita langgar, banyak larangan yang kita kerjakan.

Oleh karenanya kita berdoa:”Ya Allah perlakukan kami dengan sesuatu yang pantas bagimu dan jangan engkau perlakukan kami dengan sesuatu yang pantas kami dapatkan”.

Amalan yang kita kerjakan mungkin belum bisa meraih rahmat Allah akan tetapi kita yakin rahmat Allah bisa meraih amalan kita, oleh karenanya mari giat beramal, giat bekerja.

Baca Juga: Jadwal dan Keutamaan Puasa Asyura

Manfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya dan selebihnya milikilah satu sifat yaitu berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala, dalam hadist Qudsi Allah berfirman:


وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675].

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version