mim.or.id – Seseorang bisa hidup dengan merdeka dan lapang, namun merdeka dari dari kesyirikan dan hawa nafsu adalah sebuah kenikmatan dari Allah. Mari jauhkan diri dari belenggu yang halus ini namun dampaknya sangat besar.
Menjaga Nikmat dengan Syukur
Nikmat kelapangan dan kebebasan harus dijaga dengan mensyukurinya dan mengisinya dengan ketaatan kepada Allah, agar Allah tidak mencabutnya. Allah berfirman dalam Surat Ibrahim Ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Kekufuran terhadap nikmat Allah dapat menggantikan rasa aman dan rezeki yang berlimpah dengan rasa lapar dan ketakutan, sebagaimana yang terjadi pada permisalan negeri yang dulunya aman tetapi kufur terhadap nikmat Allah (seperti kisah Negeri Saba).
Sehingga dengan adanya kesyukuran, nikmat akan terjaga, namun kekufuran dapat mengubah nikmat menjadi azab.
Hakikat Kemenangan bagi Seorang Muslim
Seorang Muslim dinyatakan menang ketika ia teguh dalam tauhid dan tidak tergelincir ke dalam kesyirikan. Sebab kekalahan paling besar adalah ketika hati berpaling dari Allah, meskipun secara lahir tampak berjaya.
Bagi seorang muslim, kemerdekaan sejati atau kemenangan hakiki tidak berhenti pada tahap terbebas dari penjajahan fisik. Kemenangan yang hakiki adalah ketika seseorang dibebaskan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Baca Juga: Syukur yang Menuntun Jiwa Kembali kepada Allah
Apalah artinya kemewahan dan kenikmatan duniawi jika pada akhirnya berakhir dengan azab yang pedih. Inilah hakikat kemenangan, sebab kehidupan di dunia ini hanyalah kehidupan yang menipu.
Merdeka dari Kesyirikan (Tauhid)
Untuk meraih kemenangan yang hakiki, hal pertama yang harus diwujudkan adalah memerdekakan diri dari bahaya kesyirikan. Dakwah utama semua nabi dan rasul adalah dakwah tauhid, yaitu menyerukan agar hanya menyembah kepada Allah dan menjauhi tagut.
Tagut didefinisikan sebagai segala sesuatu yang diperlakukan melampaui batas, baik yang disembah selain Allah, maupun yang diikuti segala perkataannya meskipun melanggar syariat.
Kesyirikan adalah dosa yang sangat besar karena dapat menghapuskan seluruh amalan. Jika seseorang mempersekutukan Allah, amalannya dihapuskan dan ia akan termasuk orang yang merugi.
Allah tidak mengampunkan dosa kesyirikan, dan mengampunkan dosa-dosa lain di luar itu. Sungguh, orang yang mempersekutukan Allah diharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka.
Hakikat kebebasanadalah penyembahan hanya kepada Allah, sebab orang yang tidak menyembah Allah pasti akan menyembah selain Allah, termasuk hawa nafsunya. Keimanan kepada Allah yang tidak dikotori dengan kezaliman (yang ditafsirkan oleh Nabi sebagai kesyirikan) akan mendatangkan keamanan.
Merdeka dari Hawa Nafsu
Kemerdekaan yang kedua adalah merdeka dari memperturutkan hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada keburukan.
Orang yang cerdas adalah yang berusaha menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk mempersiapkan diri menghadapi hari setelah kematian. Sementara orang yang lemah adalah yang senantiasa memperturutkan hawa nafsunya dan memiliki angan-angan yang panjang.
Baca Juga: Luruskan Niat: Rahasia Amal yang Bernilai!
Tabiat jiwa adalah mengajak pada keburukan oleh karena itu tips untuk mengendalikannya adalah dengan takut akan kebesaran Tuhan dan mengekang hawa nafsu. Kesabaran yang muncul dari pilihan eperti menahan diri dari godaan atau duduk mendengarkan pengajian atas pilihan sendiri, memiliki pahala yang lebih besar.
Tujuan utama kita hidup di dunia adalah beribadah. Kita semua memiliki kesempatan untuk mengetuk pintu surga sesuai profesi dan kemampuan yang Allah berikan, baik sebagai dokter, dosen, ASN, pengusaha, atau pilot, dengan bertaqarub kepada Allah dan berkhidmah kepada umat melalui jalur masing-masing.



