mim.or.id – Dalam perannya sebagai agen pembentuk karakter, pesan penting seorang pendidik muslim untuk menyampaikan ilmu, seorang pendidik Muslim memikul tanggung jawab yang besar.
Dua persiapan fundamental yang wajib dimiliki oleh setiap pendidik Muslim agar dapat menjalankan tugasnya dengan efektif dan penuh berkah dari Allah. Dua pilar ini tidak hanya membentuk integritas pribadi pendidik, tetapi juga menjadi fondasi bagi keberhasilan dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan dan ajaran Islam.
Mengikhlaskan Niat karena Allah
Persiapan pertama dan yang paling utama adalah mengikhlaskan niat semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keikhlasan niat merupakan inti dari setiap amal ibadah, termasuk dalam aktivitas dakwah dan pendidikan.
Seorang pendidik disarankan untuk senantiasa berdoa kepada Allah agar niat-niat mereka selalu lurus dan terhindar dari perbuatan syirik, baik yang disadari maupun yang tidak. Syirik, dalam konteks ini, bisa mencakup keinginan untuk mendapatkan pujian dari manusia, yang berpotensi mengurangi nilai keikhlasan seorang pendidik.
Sehingga dengan niat yang murni dan lurus, seorang pendidik dapat sepenuhnya fokus pada tujuan mulia pendidikan, yakni semata-mata mengharapkan ridha Allah.
Baca Juga: Mengingat Allah dan Persiapan Akhirat
Menjadi Quudwah (Teladan yang Baik)
Persiapan kedua yang memiliki bobot signifikan adalah menjadi quudwah atau teladan yang baik, seluruh teori yang diajarkan bisa dikalahkan oleh satu teladan dan contoh yang baik.
Sebagai manusia, terutama setelah akal kita semakin dewasa dan sempurna, kita seringkali teringat dan termotivasi oleh contoh-contoh baik yang kita lihat dari guru atau orang tua di masa lalu.
Bahkan, semangat untuk beribadah dan melakukan kebaikan bisa muncul kembali hanya dengan mengingat sosok guru atau ustaz yang menjadi contoh nyata dalam ibadah dan akhlak mereka. Oleh karena itu, sebagai seorang murabbi atau pendidik, kita harus berupaya memantaskan diri untuk menjadi seorang pendidik yang teladan.
Menjadi seorang guru, dai, dan pendidik juga membawa berkah sekaligus beban psikologis. Beban ini timbul dari rasa malu, pertama kepada Allah, kemudian kepada sesama manusia, jika apa yang diajarkan tidak sejalan dengan perbuatan.
Baca Juga: Persiapan Menghadapi Kematian: Bekal Terbaik Menuju Akhirat
Rasulullah memberikan perumpamaan yang sangat tepat mengenai hal ini:
عَنْ جُنْدَبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ العَالِمِ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ؛ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ وَيَحْرِقُ نَفْسَهُ
Dari Jundab RA, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain namun melupakan dirinya sendiri adalah seperti pelita yang menerangi orang lain tetapi membakar dirinya sendiri.” (HR. At-Tabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 2/178, no. 1681).
Nabi Syu’aib pun pernah menyampaikan bahwa ia tidak ingin melanggar apa yang ia larang dari kaumnya. Hal ini menegaskan pentingnya konsistensi dan integritas antara perkataan dan perbuatan seorang pendidik, sehingga mereka benar-benar menjadi cerminan hidup dari nilai-nilai yang mereka ajarkan.
Dengan memegang teguh dua persiapan ini mengikhlaskan niat karena Allah dan senantiasa berusaha menjadi teladan yang baik seorang pendidik Muslim tidak hanya memenuhi tuntutan agamanya tetapi juga akan memberikan dampak positif yang mendalam dan berkelanjutan bagi generasi yang dididiknya.



