spot_img

Syukur dalam Nikmat, Siap Menghadapi Kematian

mim.or.id – Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang memberikan kepada hamba-Nya apa yang mereka minta dan inginkan, untuk itu syukur dalam nikmat, siap menghadapi kematian.

Nikmat Allah begitu banyak sehingga seandainya manusia hendak menghitungnya, niscaya tidak akan mampu. Oleh karena itu, kewajiban utama seorang muslim adalah senantiasa mensyukuri nikmat Allah.

Tiga Cara Mensyukuri Nikmat Allah

Kewajiban bersyukur ini dapat dilaksanakan melalui tiga hal:

Pertama, Asyukru bi al-lisan (Syukur dengan Lisan): Kita harus senantiasa membiasakan dan membasahi lisan kita dengan pujian kepada Allah, yaitu mengucapkan “Alhamdulillah”. Mengucapkan Alhamdulillah memiliki peran penting, yaitu mengembalikan keutamaan itu kepada Allah.

Kedua, Meruntuhkan Sifat Sombong (Ujub): Dengan mengucapkan Alhamdulillah, kita sekaligus meruntuhkan sifat ujub dan sombong di dalam hati. Allah berfirman bahwa manusia itu condong untuk menyombongkan diri ketika ia diberikan kelebihan oleh Allah.

Baca Juga: Bencana Alam Melanda: Hikmah, Jalan Kembali kepada Allah

Baik berupa harta, pangkat, maupun jabatan. Namun, ketika ia mendapatkan nikmat dan berkata Alhamdulillah, ia meyakini bahwa tiada daya dan tiada upaya kecuali perkenan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketiga, meningkatkan Amalan Saleh: Syukur juga ditunjukkan dengan meningkatkan amalan saleh kepada Allah. Kalimat-kalimat yang baik (zikir) dan semua amalan saleh diangkat kepada Allah.

Nikmat Dunia Adalah Ujian

Segala nikmat yang Allah berikan kepada kita hakikatnya adalah ujian dari Allah. Allah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kita, siapa di antara kita yang terbaik amalannya (ahsanu amala). 

Ujian ini bertujuan melihat siapa yang dengan nikmat itu semakin dekat kepada Allah, atau justru kufur dan lupa diri. Contoh terbaik dalam bersyukur adalah Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam

Beliau diberi kelebihan luar biasa oleh Allah, termasuk pasukan dari kalangan jin, manusia, dan burung, bahkan beliau mengerti bahasa binatang dan mampu menundukkan angin. Meskipun demikian, Beliau tidak menyombongkan diri. 

Beliau berdoa agar diberi petunjuk untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya, serta untuk mengerjakan amalan saleh yang diridai Allah.

Baca Juga: Santri Kuttab Qur’an MIM Juara 3 Tahfidz di ‘ALTIF Competition 2025’

Nabi Sulaiman mengakui bahwa keutamaan yang ia miliki adalah dari Tuhanku untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau kufur terhadap nikmat.

Keutamaan Menyambut Seruan Allah

Salah satu bentuk syukur dengan meningkatkan amalan saleh adalah dengan menyambut seruan Allah. Orang yang rajin ke masjid adalah “rijalun” (orang-orang pilihan), bukan orang sembarang. 

Sebab, menyambut seruan Allah membutuhkan taufik dan hidayah dari Allah. Terkadang, banyak orang kuat untuk berlari dan jogging berkilo-kilometer, tetapi berat melangkahkan kakinya ke masjid.

Saat mendengar suara muazin (azan), kita dianjurkan untuk mengulangi apa yang dikatakan oleh muazin. Namun, ketika muazin mengatakan Hayya alas shalah (Mari salat), kita mengucapkan “La haula wala quwwata illa billah”. 

Ucapan ini bermakna bahwa tiada daya dan tiada upaya kecuali izin dari Allah. Sekecil apapun amalan ibadah yang kita kerjakan, kita tidak mampu melakukannya kecuali atas izin dari Allah.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.