mim.or.id – Akhir-akhir ini kita banyak melihat bencana alam terjadi di negeri kita, untuk itu mari mengambil hikmah di balik musibah jalan kembali kepada Allah.
Musibah yang melanda dapat bersifat global, yang merenggut nyawa orang-orang terdekat, maupun bencana alam seperti banjir, gempa bumi (yang dalam bahasa Arab disebut zalazil), tanah longsor, kebakaran, dan kecelakaan pesawat.
Kepastian Ujian dan Takdir
Allah telah menegaskan di dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.
Musibah-musibah ini adalah bagian dari iman kepada takdir Allah, baik takdir yang buruk maupun yang baik.
Selain musibah, ada satu hal yang pasti bagi semua yang berjiwa: kematian (ajal). Ajal ada di tangan Allah; sakit atau sehat tidak akan mempercepat atau memperlambatnya. Oleh karena itu, kita senantiasa harus mempersiapkan diri untuk menghadap Allah.
Sikap Seorang Mukmin: Sabar dan Kembali kepada Allah
Sikap utama seorang Muslim ketika ditimpa musibah adalah bersabar. Kesabaran itu baik baginya. Puncak pahala kesabaran didapatkan pada saat pertama kali ia mendapatkan ujian.
Ketika musibah menimpa diri kita, keluarga, atau harta kita, lisan harus mengucapkan apa yang diperintahkan Allah: “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un” (Sesungguhnya kita datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya).
Orang-orang yang mengucapkan kalimat ini akan mendapatkan selawat dan rahmat dari Tuhan mereka (pengampunan dan pujian). Mereka juga dijanjikan ganti yang lebih baik.
Baca Juga: Perbedaan Pencabutan Ruh Orang Beriman dan Orang Kafir
Seorang beriman tidak akan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya ketika ditimpa masalah. Bunuh diri tidak menyelesaikan masalah, sebaliknya, menunjukkan kurangnya keimanan kepada Hari Akhir dan pelakunya akan dihukum di neraka.
Batasan dalam Berduka
Menangis karena kesedihan atas perpisahan boleh saja, sebagaimana Rasulullah menangisi anaknya. Namun, seorang Muslim harus menjaga lisan dan perbuatan.
Yang tercela dan mengundang murka Allah bukanlah air mata, melainkan perkataan yang keluar dari mulut atau perbuatan yang menunjukkan penyesalan terhadap takdir, seperti menampar pipi, merobek baju, membanting piring, atau berteriak-teriak ala kebiasaan jahiliyah.
Perbuatan tersebut tidak mengubah kondisi jenazah dan membuat seseorang merugi dua kali. Mari menjaga iman dan keyakinan kita khususnya di tengah banyaknya bencana yang melanda.
Hikmah di Balik Musibah dan Taubat
Musibah yang diturunkan oleh Allah memiliki dua tujuan utama:
Pertama, Ujian/Peningkatan Derajat: Untuk mengangkat derajat hamba-Nya dan menghapuskan dosa-dosanya.
Kedua, Peringatan/Hukuman: Sebagai bentuk peringatan agar hamba kembali dan bertaubat. Allah menegaskan bahwa musibah yang menimpa disebabkan oleh ulah tangan kalian sendiri.
Baca Juga: Inspirasi Perjalanan Menuntut Ilmu Nabi Musa dalam Surah Al-Kahfi
Musibah yang mendekatkanmu kepada Allah adalah nikmat, dan sebaliknya, nikmat yang menjauhkanmu dari Allah adalah musibah. Oleh karena itu, kita harus segera bertaubat dan memperbanyak istighfar (memohon ampun).
Seorang beriman yang berada dalam keadaan lapang (sehat, kaya) harus mengenal Allah dan memperbanyak dzikir. Gunakanlah nikmat kesehatan dan harta untuk beribadah, bukan bermaksiat.
