Home Artikel Aqidah Perbedaan Pencabutan Ruh Orang Beriman dan Orang Kafir

Perbedaan Pencabutan Ruh Orang Beriman dan Orang Kafir

0
Suasana lagi
Ilustrasi suasana langit/Unplash

mim.or.id – Setiap manusia memiliki ruh yang pada waktunya akan dicabut, dan setelah ruh dicabut, tubuh tidak dapat bergerak lagi dan tinggal dikebumikan. 

Perbedaan mendasar antara pengalaman pencabutan ruh bagi orang yang beriman dan orang yang tidak beriman (kafir). Perbedaan ini menentukan kondisi mereka di alam barzah (kubur) hingga Hari Kiamat.

Ruh Orang Beriman: Kedamaian dan Kelembutan

Ruh orang yang beriman dicabut dengan perlahan-lahan. Meskipun ada rasa sakit saat pencabutan, rasa sakit tersebut berfungsi sebagai penggugur dosa-dosa yang terakhir baginya. 

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menggambarkannya sehalus air yang keluar dari mulut cerek. Para malaikat mencabut ruhnya dengan seruan: “keluarlah untuk mendapatkan keridhoan dan Tuhanmu”.

Ruh ini kemudian dibungkus dengan kain kafan yang dibawa oleh malaikat dari Surga, dan baunya sangat harum. Setelah dibungkus, ruh tersebut dibawa ke langit, di mana pintu-pintu langit dibuka dan setiap malaikat di setiap langit bertanya karena keharumannya sebelum disampaikan bahwa itu adalah ruh Fulan.

Baca Juga: Inspirasi Perjalanan Menuntut Ilmu Nabi Musa dalam Surah Al-Kahfi

Ruh kemudian dikembalikan ke kuburnya untuk menghadapi pertanyaan kubur. Setelah menjawab dengan benar, ia mendapat seruan dari langit: “hambaku ini benar, bukakan untuknya pintu menuju ke surga”. 

Dengan demikian, kuburannya menjadi taman dari taman-taman surga. Orang yang beriman yang berada dalam kubur mengetahui kenikmatan yang menantinya di hari kemudian, sehingga ia mengatakan hari kiamat (mengharapkan datangnya Hari Kiamat).

Penantian panjang di dalam kubur tidak terasa; mereka seperti orang yang ditidurkan, sebagaimana dikisahkan dalam kisah Ashabul Kahfi.

Ruh Orang Kafir: Kekerasan dan Azab

Sebaliknya, ruh orang yang tidak beriman kepada Allah dicabut dengan paksa dan ditarik. Nabi menggambarkannya seperti besi yang berdurian ditarik pada kapas yang basah.

Ruh ini kemudian dibungkus dengan kain kafan dari neraka. Ketika dibawa ke langit, semua pintu langit didustakan (ditutup) untuknya, menunjukkan kemustahilan ruh tersebut diterima. 

Allah berfirman bahwa orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dan peringatan Nabi tentang hari kebangkitan dan azab kubur tidak akan dimasukkan ke dalam surga, kecuali jika sudah ada seekor unta yang bisa melewati lubang jarum.

Ruh ini kemudian dikembalikan ke kuburnya dan ketika ditanya oleh malaikat, ia tidak dapat menjawab. Seseorang yang tidak beriman mungkin menjawab, “Saya dulu pernah mendengar itu,”.

Baca Juga: Prestasi dan Aksi Lapangan: Futsal Kuttab Qur’an MIM Juara 3

tetapi kemudian dilupakan atau dibutakan sehingga tidak bisa menjawab. Akibatnya, ia mendapatkan azab di alam barzah. Ia mengetahui bahwa jika di alam barzah saja disiksa, apalagi yang menantinya di hari kemudian, sehingga ia mengatakan: “Ya Allah jangan datangkan hari kiamat”. 

Azab di alam barzah diumpamakan seperti yang dialami oleh keluarganya Firaun, di mana api membakar mereka bersama bala tentaranya di alam barzah, sebelum kemudian dimasukkan ke dalam neraka yang lebih besar di hari kiamat.

Ketika semua dihisab di Hari Kemudian dan hewan-hewan dijadikan tanah, orang kafir berharap dapat menjadi tanah juga seperti hewan-hewan itu. Penghuni neraka bahkan mengajukan proposal agar mereka dimatikan saja, tetapi permohonan itu ditolak.

Pentingnya Persiapan dan Muhasabah

Kondisi kita saat meninggal ditentukan oleh cara kita hidup; “Siapa yang hidup dengan sesuatu dia dimatikan dengan sesuatu itu”. Jika kita hidup dalam ketaatan, kita akan dimatikan dalam ketaatan, sebaliknya jika terbiasa hidup dengan maksiat.

Penyesalan datang dalam dua kondisi: saat kematian menjemput (di mana ia memohon kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amalan saleh), dan saat dimasukkan ke dalam neraka.

Oleh karena itu, ini adalah kesempatan kita untuk mempersiapkan diri. Kita harus bertobat dan memperbaiki yang tersisa, menjalankan perintah Allah, dan rajin mengikuti majelis ilmu untuk memahami agama dan cara beribadah yang standar/wajib.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version