Home Artikel Tazkiyah Dunia Ladang Perbekalan: Meniti Jalan Menuju Keabadian

Dunia Ladang Perbekalan: Meniti Jalan Menuju Keabadian

0
Laut
Ilustrasi laut dan dunia/Istock

mim.or.id – Allah menciptakan dunia dan akhirat sebagai sarana untuk menguji manusia, guna melihat siapa yang paling baik amal perbuatannya.

Kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah tempat singgah sementara untuk mengumpulkan bekal bagi kehidupan yang kekal di akhirat kelak.

Berikut adalah tiga poin utama dalam memahami cara menyikapi dunia dengan bijak:

Memahami Rivalitas Dunia dan Akhirat

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menggambarkan dunia dan akhirat sebagai dua rival (dorrotan).  Jika seseorang terlalu condong salah satu di antaranya, maka yang lainnya akan merasa terabaikan.

Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk bijak; ia tidak boleh mengharamkan perhiasan dunia yang telah Allah berikan, namun ia juga tidak boleh membiarkan kecintaan pada dunia mengalahkan orientasi akhiratnya.

Baca Juga: Siapa yang Benar-benar Dibersamai Allah?

Prinsip utamanya adalah mencari apa yang Allah berikan di dunia untuk mendapatkan kehidupan akhirat tanpa melupakan bagian yang halal di dunia.

Dunia di Tangan, Akhirat di Hati

Seorang mukmin yang cerdas meletakkan harta dan kenikmatan dunia hanya di kedua tangannya, bukan di dalam hatinya.

Allah sebenarnya senang melihat pengaruh nikmat-Nya tampak pada hamba-Nya, seperti rumah yang megah atau kendaraan yang bagus, asalkan kewajiban seperti zakat telah ditunaikan dan nikmat tersebut digunakan sebagai sarana ibadah.

Harta yang dimiliki seharusnya menjadi jembatan untuk berbagi, berinfak, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Hal ini sejalan dengan nasihat untuk bekerja bagi duniamu seolah akan hidup selamanya, namun beramal untuk akhiratmu seolah akan mati esok hari.

Urgensi Berbekal Sebelum Datangnya Penyesalan

Kehidupan manusia di dunia sangatlah singkat, rata-rata hanya 60 hingga 70 tahun, jauh lebih pendek dibandingkan masa di alam barzakh atau hari akhirat yang satu harinya bisa setara dengan 50.000 tahun.

Rasulullah mengibaratkan manusia di dunia seperti orang asing (garib) atau pengembara yang hanya berteduh sejenak di bawah pohon sebelum melanjutkan perjalanan.

Baca Juga: Ilmu dan Hikmah: Karunia Utama bagi Hamba yang Bertakwa

Penting bagi setiap individu untuk menyiapkan amal jariyahnya sendiri tanpa terlalu bergantung pada ahli waris.

Sebuah kisah nyata menceritakan seorang pria yang langsung membangun masjid setelah menyadari bahwa keluarganya bisa saja melupakan dirinya bahkan saat ia masih hidup (hanya karena masalah sekeranjang anggur).

Penyesalan terbesar manusia saat sakaratul maut adalah ketika mereka melihat besarnya pahala sedekah dan memohon tambahan usia hanya untuk bisa berinfak, namun kesempatan itu telah hilang.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version