Home Artikel Aqidah Hari yang Sangat Menakutkan: Antara Surga dan Neraka

Hari yang Sangat Menakutkan: Antara Surga dan Neraka

0
Cahaya Alam
Ilustrasi suasana Cahaya Alam Semesta/Unplash

mim.or.id – Hari itu bukan sekadar akhir dari kehidupan dunia, hari yang sangat menakutkan ibarat antara surga dan neraka dan saat itu awal dari keputusan yang tak bisa ditawar. 

Hari ketika setiap manusia berdiri sendiri, tanpa pembelaan, tanpa topeng, tanpa alasan. Inilah hari yang sangat menakutkan hari penentuan antara surga dan neraka. Pada hari itu, waktu seakan berhenti. Dunia yang selama ini diperebutkan kehilangan nilainya.

Surat Al-Baqarah Ayat 148 Allah berfirman:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tiupan Sangkakala dan Kebangkitan Masal Seluruh Makhluk

Hari Kebangkitan dimulai dengan tiupan sangkakala oleh Malaikat Israfil. Terdapat beberapa jenis tiupan, yakni tiupan yang mengagetkan manusia, tiupan yang mematikan, dan tiupan yang membangkitkan mereka dari alam kubur. 

Baca Juga: Penerimaan Rapor, Momentum Evaluasi dan Monitoring Kemajuan Santri

Pada saat itu, kondisi bumi telah berubah total; tidak ada lagi gunung-gunung, melainkan bumi yang rata di mana seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir.

Dalam kondisi itu juuga turut serta seluruh binatang yang pernah menghuni bumi akan dikumpulkan dan digiring menuju Padang Mahsyar.

Terputusnya Hubungan Nasab dan Kekerabatan

Pada hari yang menakutkan tersebut, segala bentuk hubungan kekeluargaan dan pertemanan di dunia menjadi tidak berarti lagi. Al-Qur’an menggambarkan bahwa seseorang akan berlepas diri dan lari dari saudara, ibu, ayah, sahabat, hingga anak-anaknya. 

Tidak ada lagi orang yang saling bertanya kabar atau peduli terhadap nasib orang lain karena setiap individu benar-benar terpaku dan sibuk dengan urusan serta keselamatan dirinya sendiri.

Di hadapan perhitungan Allah, seorang ayah tidak akan mampu menyelamatkan anaknya, begitu pula sebaliknya.

Kondisi Manusia yang Hina dan Ketakutan yang Mencekam

Manusia akan dibangkitkan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan: telanjang kaki, telanjang bulat, dan belum dikhitan. 

Ketika Aisyah bertanya tentang kemungkinan manusia saling melihat aurat, Rasulullah menjelaskan bahwa suasana hari itu jauh lebih dahsyat sehingga tidak ada satu pun orang yang sempat berpikir untuk saling memandang. 

Baca Juga: Al-Qur’an sebagai Sumber Ketenteraman Jiwa

Ketakutan luar biasa menyelimuti semua makhluk; suara yang terdengar hanyalah bisik-bisik, bahkan para malaikat pun tidak kuasa untuk berbicara di hadapan Allah.

Segala kemewahan dunia seperti rumah dan kendaraan mewah tidak lagi berguna, dan manusia akan merasa sangat menyesal jika tidak mempersiapkan amal.

Dalam situasi hidup dan mati tersebut, seseorang tidak akan lagi memikirkan pakaian yang ia kenakan atau mencari tahu di mana anggota keluarganya berada; ia hanya akan berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. 

Fokusnya hanya satu: keselamatan dirinya dari bahaya yang ada di depan mata. Begitulah gambaran kesibukan dan ketakutan manusia saat menghadapi dahsyatnya Hari Kebangkitan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version