Home Khutbah Khutbah Jum’at: Satu Tahun Lagi Pergi (Edisi 097, 5 Rajab 1447)

Khutbah Jum’at: Satu Tahun Lagi Pergi (Edisi 097, 5 Rajab 1447)

0
Sampul Khutbah
Sampul Khutbah Jum'at Edisi 097

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Satu Tahun Lagi Pergi’ (Edisi 097, 5 Rajab 1447).

Naskah selengkapnya:

‘SATU TAHUN LAGI PERGI’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Bertakwalah kita kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya diucapkan di lisan, tetapi dibuktikan dalam pilihan hidup, sikap, dan arah perjalanan kita di dunia ini.

Hari ini, kita bersyukur sebesar-besarnya atas karunia kesempatan untuk kembali memenuhi panggilan Allah untuk bersujud dan membuktikan ketaatan serta penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

Hari-hari ini, kita berada di penghujung pergantian tahun. Sebuah momentum yang sering kali disikapi manusia hanya dengan euforia, pesta, dan perayaan. Padahal, bagi seorang mukmin, pergantian waktu bukanlah momentum hura-hura, tetapi momentum muhasabah—saat untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita berjalan menuju Allah?

Hari-hari dunia yang berganti adalah pertanda bahwa perjalanan kita semakin dekat pada penghujungnya. Penghujung yang akan menjadi awal dari fase baru kehidupan kita bernama Akhirat. Semakin bertambah umur dan usia kita, semakin berkuranglah jatah masa kita di dunia ini.

Allah Ta’ala berfirman:

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

“Allah mempergilirkan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki penglihatan (akal dan iman).”(QS. An-Nur: 44).

Pergantian siang dan malam, pergantian bulan dan tahun, bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah alarm iman bagi orang-orang yang berakal. Alarm yang mengingatkan bahwa umur kita terus berkurang, jatah hidup kita terus menyusut, dan kesempatan untuk beramal terus menyempit.

Kaum muslimin yang berbahagia,

Tidak terasa, setahun telah berlalu. Hari-hari yang dulu kita rencanakan, kini hanya tinggal kenangan. Banyak yang telah pergi meninggalkan dunia ini—tetangga kita, kerabat kita, sahabat kita—yang mungkin di awal tahun lalu masih bersama kita, kini telah berada di alam kubur, menunggu keputusan Rabb mereka.

Lalu kita bertanya kepada diri sendiri: mengapa bukan kita?. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Al-Bukhari).

Orang asing tidak akan sibuk menghias tempat singgahnya. Seorang musafir tidak akan terlena dengan keindahan tempat persinggahannya. Karena ia sadar, ada tujuan besar yang sedang ia kejar.

Namun yang menyedihkan, hari ini kebanyakan manusia justru sering lupa fakta dan kenyataan ini. Kita hidup seakan-akan dunia ini kampung halaman abadi kita. Kita mengejar tren yang silih berganti, kita ikut arus, kita larut dalam budaya yang bukan berasal dari iman dan wahyu.

Kita larut dalam perlombaan dunia yang tak ada habis-habisnya. Tak ada puas-puasnya, hingga kematian datang diam-diam tanpa peringatan.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

Hari-hari ini kita berada di penghujung tahun. Bagi orang beriman, ini bukan sekadar pergantian angka di kalender. Ini adalah peringatan keras dari Allah bahwa umur kita sedang dikurangi, jatah hidup kita sedang dipotong, dan kesempatan bertaubat kita sedang dipersempit.

Allah Ta’ala berfirman:

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ

“Bukankah Kami telah memanjangkan umur kalian sehingga cukup bagi orang yang mau mengambil pelajaran? Dan telah datang kepada kalian peringatan.” (QS. Fathir: 37).

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa peringatan dalam ayat ini mencakup bertambahnya usia, rambut yang memutih, tubuh yang melemah, dan wafatnya orang-orang di sekitar kita. Semua itu adalah alarm kematian.

Namun, jamaah sekalian,

Anehnya, semakin sering kita melihat kematian, justru semakin jarang kita mengingat mati. Kita mengantar jenazah, tapi lupa bahwa suatu hari kita sendiri yang akan diusung. Kita menyolatkan mayit, tapi lupa bahwa suatu hari orang lain yang akan berdiri menshalatkan kita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu Kematian).” (HR. al-Tirmidzi).

Disebut pemutus kenikmatan karena kematian memotong semua ambisi dunia. Jabatan berhenti. Harta ditinggal. Nama besar dilupakan. Yang tersisa hanya iman dan amal.

Kaum muslimin yang berbahagia,

Coba kita jujur bermuhasabah: Berapa banyak rencana dunia yang kita susun dengan serius, tetapi rencana untuk akhirat kita tunda-tunda? Berapa banyak waktu kita habiskan untuk hiburan, sementara Al-Qur’an jarang kita sentuh? Berapa banyak dosa yang kita anggap sepele, padahal bisa jadi itulah sebab buruknya akhir hidup kita?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan sangat menakutkan:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Al-Bukhari).

Bukan siapa kita di masa lalu yang paling menentukan, tetapi bagaimana kita mengakhiri hidup. Bukan seberapa lama kita shalih, tetapi apakah kita mati dalam ketaatan atau dalam kelalaian.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Setiap kita pasti akan masuk ke dalam kubur sendirian. Rumah yang gelap, sempit, dan sunyi. Tidak ada istri. Tidak ada anak. Tidak ada jabatan. Tidak ada media sosial. Yang menemani kita hanyalah amal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ

“Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali, dan satu yang tinggal: amalnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Di titik inilah, semua kepura-puraan runtuh. Semua topeng dilepas. Yang lulus hanyalah orang yang membawa bekal iman dan taubat.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Akhir tahun bukanlah penutup segalanya, tetapi awal dari pertanggungjawaban baru. Apa yang telah kita lakukan akan dimintai hisab. Apa yang kita sia-siakan akan ditanya. Dan setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Karena itu, mari kita tutup kehidupan kita di hari ini, di tahun ini dengan taubat yang jujur. Taubat dari dosa yang tampak maupun yang tersembunyi. Taubat dari kelalaian, dari ikut-ikutan dalam kemaksiatan, dan dari kebanggaan semu terhadap budaya yang menjauhkan kita dari Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sungguh aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim).

Maka, jamaah sekalian,

Jika kita masih berani bermaksiat, berarti kita belum sungguh-sungguh mengingat mati. Jika kita masih ringan meniru budaya yang menjauhkan dari Allah, berarti akhirat belum menjadi prioritas kita.

Orang yang yakin akan berdiri di hadapan Allah tidak akan mudah ikut-ikutan dalam kebatilan. Orang yang sadar kubur menantinya tidak akan berani meremehkan dosa.

Mari jadikan akhir tahun ini sebagai muhasabah terdalam dalam hidup kita. Jangan tunggu sakit. Jangan tunggu tua. Jangan tunggu ajal.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Salah satu penyakit besar umat di zaman ini adalah penyakit ikut-ikutan. Ikut-ikutan gaya hidup, ikut-ikutan perayaan, ikut-ikutan budaya, bahkan ikut-ikutan cara berpikir orang-orang kafir—tanpa disaring dengan iman dan ilmu.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dengan tegas:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ…

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta…”(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Islam tidak melarang kita berbuat baik, adil, dan santun kepada non-muslim. Namun Islam melarang keras tasyabbuh, menyerupai mereka dalam perkara yang menjadi ciri khas agama dan budaya mereka, terlebih dalam perayaan dan ritual yang tidak bersumber dari Islam.

Muhasabah akhir tahun seharusnya membuat kita bertanya: Apakah semakin bertambah umur kita, semakin kuat identitas Islam kita? Atau justru semakin kabur karena terlalu sering meniru?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud, hasan).

Kaum muslimin rahimakumullah,

Mari kita jadikan akhir tahun ini sebagai titik balik. Bukan sekadar mengganti kalender, tetapi mengganti arah hidup. Kita tinggalkan kebiasaan ikut-ikutan yang menjauhkan kita dari Allah. Kita perkuat identitas sebagai hamba Allah yang bangga dengan Islamnya.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Hari ini, marilah kita terus menjadi bagian mereka yang terus bekerja untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Sumatra. Siapkan semua bentuk dukungan yang bis akita berikan. Kita doakan agar Allah mengganti kesedihan mereka dengan ketenangan, kehilangan mereka dengan karunia, dan musibah mereka dengan ampunan dan rahmat.

Hari-hari ini, kita juga tidak bosan-bosannya terus mengingatkan untuk: Jangan pernah lupakan Gaza! Jangan lupakan saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi para Nabi dan Rasul, di bumi al-Quds, meskipun telah terjadi kesepakatan gencatan senjata, tapi perjuangan membebaskan bumi al-Aqsha sama sekali belum selesai! Karena penjajahan kaum Zionis Yahudi masih tetap eksis di sana entah sampai kapan.

Mintalah agar Allah menjaga iman kita, menjaga keluarga kita, menjaga ketenangan negeri kita, dan menjaga seluruh nikmat yang kita genggam hari ini.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version