mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at dengan tema ‘Bulatkan Keyakinan’ (Edisi 126, 2 Safar 1448 H).
Naskah selengkapnya:
‘BULATKAN KEYAKINANMU‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Hari ini banyak manusia hidup dengan tubuh yang berjalan, tetapi hati yang gemetar. Banyak wajah tampak tersenyum, tetapi batinnya menyimpan kecemasan. Ada yang cemas karena harga-harga naik, cicilan menumpuk, pekerjaan tidak pasti, usaha sepi, penghasilan tidak sebanding dengan kebutuhan, anak-anak butuh biaya, orang tua butuh perhatian, sementara masa depan terasa gelap.
Ada pula yang secara lahir terlihat cukup, tetapi batinnya rapuh. Ia sulit tidur. Mudah panik. Mudah marah. Mudah putus asa. Ia merasa hidupnya sempit, padahal langit Allah begitu luas. Ia merasa rezekinya tertutup, padahal perbendaharaan kekayaan Allah, tidak pernah habis. Ia merasa sendirian, padahal Allah lebih dekat kepada hamba-Nya daripada yang ia sangka.
Inilah salah satu penyakit hati yang besar di zaman kita: lemahnya yakin kepada Allah.
Bukan berarti orang beriman tidak boleh sedih. Bukan berarti orang bertauhid tidak boleh menangis. Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam menangis karena kehilangan Yusuf. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedih ketika ditinggal Khadijah dan Abu Thalib. Tetapi kesedihan orang beriman tidak boleh berubah menjadi suuzhan kepada Allah. Air mata boleh jatuh, tetapi keyakinan jangan runtuh. Dada boleh sesak, tetapi tauhid jangan retak. Ujian boleh berat, tetapi jangan sampai hati berkata, “Allah meninggalkanku.”
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,
Yakin kepada Allah adalah cahaya dalam hati. Dengan yakin, seorang mukmin melihat dunia dengan benar. Ia tahu bahwa rezeki bukan semata-mata dari gaji. Ia tahu bahwa keamanan bukan semata-mata dari tabungan. Ia tahu bahwa masa depan bukan di tangan manusia. Ia tahu bahwa sebab wajib ditempuh, tetapi hasil tetap di tangan Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan mereka yakin kepada ayat-ayat Kami.” QS. As-Sajdah: 24.
Perhatikanlah ayat ini. Allah menggabungkan dua perkara agung: sabar dan yakin. Dengan sabar, seorang hamba kuat menghadapi beratnya jalan. Dengan yakin, seorang hamba tahu bahwa jalan itu tidak sia-sia. Sabar tanpa yakin bisa melemah. Yakin tanpa sabar belum sempurna. Maka orang yang ingin selamat di zaman penuh tekanan harus membangun dua bekal: sabar menjalani proses, dan yakin kepada janji Allah.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa yakin bagi iman seperti ruh bagi jasad. Jika ruh pergi, jasad mati. Jika yakin melemah, iman menjadi lemah, ibadah terasa berat, hati mudah cemas, dunia tampak terlalu besar, dan masalah terasa seperti akhir segalanya.
Padahal dunia bukan akhir segalanya. Kerugian usaha bukan akhir segalanya. Turunnya pendapatan bukan akhir segalanya. Gagal seleksi kerja bukan akhir segalanya. Terlambat menikah bukan akhir segalanya. Sakit bukan akhir segalanya. Selama Allah masih memberi iman, pintu harapan belum tertutup.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Lemahnya yakin muncul karena beberapa sebab:
Pertama, lalai dari Allah.
Hati yang jauh dari zikir akan mudah dikuasai rasa takut. Hati yang jarang membaca Al-Qur’an akan lebih banyak mendengar bisikan kecemasan daripada janji Allah. Hati yang terlalu banyak menatap layar, berita buruk, komentar manusia, dan gaya hidup orang lain akan mudah merasa hidupnya kurang, sempit, dan tertinggal.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
“Betapa banyak tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan di bumi yang mereka lalui, sedangkan mereka berpaling darinya.” QS. Yusuf: 105.
Kita melihat matahari terbit setiap hari, tetapi sering lupa bahwa Allah yang menerbitkannya. Kita makan setiap hari, tetapi sering lupa siapa yang menumbuhkan rezeki dari tanah. Kita bernapas setiap saat, tetapi sering lupa bahwa napas itu bukan milik kita. Maka ketika masalah datang, kita panik seolah-olah kita hidup tanpa Rabb.
Padahal Allah yang mengurus langit dan bumi tidak akan kesulitan mengurus hidup kita. Allah yang memberi rezeki kepada burung di udara, ikan di laut, semut di tanah, dan janin dalam rahim, tidak akan lupa kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Kedua, dosa dan maksiat.
Dosa bukan hanya catatan buruk di buku amal. Dosa juga meninggalkan gelap dalam hati. Semakin banyak dosa yang diremehkan, semakin lemah cahaya yakin. Seseorang yang terus-menerus menipu, memakan yang haram, membuka aurat, meninggalkan shalat, berzina mata melalui layar gadget, menzalimi keluarga, atau meremehkan riba, jangan heran jika hatinya kehilangan ketenangan.
Allah Ta‘ala berfirman:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” QS. Al-Muthaffifin: 14.
Jika hati tertutup oleh dosa, nasihat tidak mudah masuk. Ayat dibaca, tetapi tidak menggetarkan. Kematian dilihat, tetapi tidak menyadarkan. Musibah datang, tetapi tidak membuat kembali kepada Allah. Maka obatnya adalah taubat. Pulanglah kepada Allah. Jangan tunggu hidup sempurna untuk bertaubat. Justru dengan taubat, hidup diperbaiki Allah.
Ketiga, terlalu tenggelam dalam dunia.
Di zaman krisis ekonomi, manusia memang harus bekerja. Islam tidak mengajarkan malas. Islam memerintahkan kita mencari nafkah yang halal, bekerja dengan profesional, menjaga amanah, dan menempuh sebab. Tetapi yang berbahaya adalah ketika dunia menjadi pusat hati. Ketika uang menjadi ukuran harga diri. Ketika pekerjaan menjadi sumber utama rasa aman. Ketika saldo rekening lebih dipercaya daripada janji Allah. Ketika manusia takut miskin lebih besar daripada takut dosa.
Allah Ta‘ala berfirman:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ * كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Sekiranya kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” QS. At-Takatsur: 1-5.
Ayat ini mengajarkan bahwa ketika manusia disibukkan oleh perlombaan dunia, keyakinannya kepada akhirat melemah. Ia lupa bahwa dunia hanya persinggahan. Ia lupa bahwa semua yang dikumpulkan akan ditinggalkan. Ia lupa bahwa yang paling ia butuhkan di kubur bukan nominal tabungan, tetapi iman, amal shalih, tauhid, shalat, sedekah, taubat, dan hati yang selamat.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!
Lemahnya yakin memiliki akibat yang pahit.
Di antaranya: hati penuh takut dan gelisah. Seseorang takut kepada masa depan seolah-olah masa depan tidak diatur Allah. Ia takut kehilangan rezeki seolah-olah rezeki berada di tangan manusia. Ia takut dibenci orang seolah-olah kemuliaan bukan dari Allah. Ia takut gagal seolah-olah kegagalan tidak bisa menjadi jalan menuju kebaikan.
Allah Ta‘ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah memberi petunjuk kepada hatinya.” QS. At-Taghabun: 11.
Sebagian salaf menjelaskan makna ayat ini: jika seseorang ditimpa musibah, lalu ia mengetahui bahwa musibah itu dari sisi Allah, maka ia hatinya ridha dan tunduk berserah pada Allah.
Inilah buah yakin. Ketika musibah datang, orang beriman tidak berkata, “Mengapa aku?” tetapi ia berkata, “Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku?” Ia tidak berkata, “Hidupku hancur,” tetapi ia berkata, “Hasbiyallahu wa ni‘mal wakil.” Ia tidak berkata, “Tidak ada jalan keluar,” tetapi ia mengingat firman Allah:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” QS. Ath-Thalaq: 2-3.
Akibat lain dari lemahnya yakin adalah malas beribadah. Ketika seseorang tidak yakin penuh kepada pahala Allah, shalat terasa berat. Sedekah terasa rugi. Menuntut ilmu terasa membosankan. Menjaga halal haram terasa tidak penting. Ia lebih mudah mengejar lembur daripada mengejar takbiratul ihram. Lebih takut kehilangan pelanggan daripada kehilangan keberkahan. Lebih serius mengatur strategi bisnis daripada memperbaiki shalat.
Padahal keberkahan hidup tidak hanya datang dari kecerdasan manusia. Keberkahan datang dari Allah. Berapa banyak orang yang penghasilannya besar tetapi hatinya sempit. Berapa banyak orang yang rumahnya luas tetapi jiwanya gelisah. Berapa banyak orang yang tampak sukses tetapi tidak sanggup berdamai dengan dirinya sendiri. Karena ketenangan bukan produk pasar. Ketenangan adalah karunia dari Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS. Ar-Ra‘d: 28.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam kondisi ekonomi yang sulit, sebagian orang tergoda mencari jalan pintas: korupsi, menipu timbangan, judi online, pinjaman riba, manipulasi laporan, suap, mencuri, atau menghalalkan segala cara. Alasannya: “Keadaan memaksa.” Padahal keadaan sulit tidak pernah serta-merta bisa mengubah yang haram menjadi halal.
Seorang mukmin harus yakin bahwa rezeki yang halal meskipun sedikit lebih berkah daripada rezeki haram meskipun tampak banyak. Rezeki haram mungkin menambah angka, tetapi mencabut berkah. Mungkin membuat dapur menyala, tetapi memadamkan cahaya hati. Mungkin bisa membeli rumah, tetapi menghancurkan keberkahan keluarga.
Maka bulatkan keyakinanmu…
Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang menjaga halal. Allah tidak akan menelantarkan orang yang bertakwa. Tugas kita adalah berusaha dengan cara yang diridhai, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ، لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ، لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Wahai anak muda, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat: jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk memberimu mudarat, mereka tidak akan mampu memberimu mudarat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.”
Hadits ini bukan ajakan untuk pasif. Ini ajakan untuk merdeka dari ketakutan kepada makhluk. Bekerjalah, tetapi jangan menyembah pekerjaan. Berobatlah, tetapi jangan menggantungkan hati kepada dokter. Menabunglah, tetapi jangan menjadikan tabungan sebagai tuhan kecil dalam dada. Berikhtiarlah, tetapi yakini bahwa penentu akhir adalah Allah.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Pada khutbah kedua ini, marilah kita bertanya: bagaimana cara menguatkan yakin kita pada Allah?
Pertama, kenalilah Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Orang yang mengenal Allah sebagai Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki, tidak akan putus asa dalam mencari nafkah. Orang yang mengenal Allah sebagai Al-Hakim, Maha Bijaksana, tidak akan menuduh Allah ketika doanya belum dikabulkan. Orang yang mengenal Allah sebagai Al-Lathif, Maha Lembut, akan yakin bahwa pertolongan Allah kadang datang melalui jalan yang sangat halus. Orang yang mengenal Allah sebagai Al-Wakil, Maha Mengurus segala urusan, akan lebih tenang ketika manusia mengecewakannya.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.” QS. Al-A‘raf: 180.
Kedua, bersahabatlah dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah obat kecemasan. Al-Qur’an mengembalikan hati kepada ukuran yang benar. Ketika dunia berkata, “Engkau akan hancur,” Al-Qur’an berkata:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” QS. Ath-Thalaq:3.
Ketika manusia berkata, “Tidak ada harapan,” Al-Qur’an berkata:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” QS. Az-Zumar: 53.
Ketiga, perbanyak taubat dan istighfar.
Bila dosa melemahkan yakin, maka taubat menghidupkannya kembali. Jangan malu kembali kepada Allah. Yang memalukan bukan orang berdosa yang bertaubat, tetapi orang berdosa yang merasa tidak perlu bertaubat.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” QS. An-Nur: 31.
Keempat, pilihlah teman yang menguatkan iman.
Di masa krisis, kita butuh orang yang mengingatkan kepada Allah, bukan orang yang menambah panik. Kita butuh majelis ilmu, bukan majelis keluhan tanpa ujung. Kita butuh teman yang berkata, “Mari shalat, mari sabar, mari cari yang halal,” bukan teman yang berkata, “Sudahlah, yang penting dapat uang meski haram.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.”
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Untuk saudara kita yang hari ini sedang sempit rezekinya: bulatkan keyakinanmu. Allah tahu letihmu.
Untuk saudara kita yang sedang kehilangan pekerjaan: bulatkan keyakinanmu. Allah tidak menutup satu pintu kecuali Dia mampu membuka pintu lain.
Untuk saudara kita yang sedang dililit utang: bulatkan keyakinanmu. Bertaubatlah dari yang haram, rapikan ikhtiar, minta pertolongan Allah, dan jangan putus asa.
Untuk saudara kita yang sedang depresi, cemas, sulit tidur, dan merasa hidup terlalu berat: bulatkan keyakinanmu. Engkau tidak hina karena sedang lemah. Engkau tidak buruk karena sedang menangis. Cari pertolongan yang benar. Dekatlah kepada Allah, bicaralah kepada orang yang amanah, mintalah bantuan keluarga, ulama, atau tenaga ahli bila dibutuhkan. Islam tidak menyuruh kita memendam luka sendirian. Tetapi jangan lepaskan tali yang paling kuat: tali iman kepada Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa yang luar biasa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dari beratnya utang dan penindasan manusia.”
Akhirnya, marilah kita pulang dari Jumat ini dengan hati yang lebih kuat.
Jangan katakan, “Aku punya masalah besar.” Tetapi katakanlah, “Aku punya Allah Yang Mahabesar.”
Jangan katakan, “Rezekiku sempit.” Tetapi katakanlah, “Allah Ar-Razzaq, dan Dia tidak pernah kehabisan karunia.”
Jangan katakan, “Aku tidak sanggup.” Tetapi katakanlah, “Hasbiyallahu la ilaha illa Huwa, ‘alaihi tawakkaltu.”
Bulatkan keyakinanmu. Karena siapa yang yakin kepada Allah, ia tidak akan dihancurkan oleh dunia. Siapa yang bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupinya. Siapa yang menjaga Allah, Allah akan menjaganya. Siapa yang menempuh jalan takwa, Allah akan bukakan jalan keluar baginya.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Marilah kita berdoa kepada Allah…
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dosa guru-guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, teguhkan kami di atas tauhid. Jauhkan kami dari syirik yang tampak maupun yang tersembunyi. Jadikan hati kami bergantung hanya kepada-Mu. Jadikan lisan kami basah dengan dzikir dan istighfar. Jadikan akhir hidup kami husnul khatimah.
Ya Allah, lapangkanlah rezeki kaum muslimin. Berkahilah usaha mereka. Jauhkan mereka dari riba, judi, penipuan, korupsi, dan jalan-jalan haram. Ya Allah, siapa pun di antara kami yang sedang terlilit utang, mudahkanlah ia melunasinya. Siapa yang sedang kehilangan pekerjaan, bukakanlah baginya pintu rezeki yang halal. Siapa yang sedang sakit, sembuhkanlah ia. Siapa yang sedang cemas dan depresi, tenangkanlah hatinya dengan iman dan pertolongan-Mu.
Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin. Bimbinglah para pemimpin kami kepada keadilan dan kebaikan. Anugerahkan kepada mereka rasa takut kepada-Mu dalam mengurus rakyat. Jagalah negeri kami dari kerusakan, perpecahan, kezaliman, bencana, dan fitnah yang tampak maupun tersembunyi.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Lapangkan kesulitan mereka, sembuhkan yang sakit, beri makan yang lapar, lindungi yang lemah, dan turunkan pertolongan-Mu kepada mereka.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
