Home Khutbah Khutbah Jum’at: Waktumu Terlalu Berharga (Edisi 125, 25 Muharram 1448 H)

Khutbah Jum’at: Waktumu Terlalu Berharga (Edisi 125, 25 Muharram 1448 H)

0
Sampul
Sampul Khutbah jum'at edisi, 125

mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at dengan tema ‘Waktumu Terlalu Berharga’ (Edisi 125, 25 Muharram 1448 H).

Naskah selengkapnya:

WAKTUMU TERLALU BERHARGA

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa yang bukan hanya terucap di lisan, tetapi hidup di dalam hati. Takwa yang membimbing langkah kita ketika sendiri maupun ketika bersama manusia.

Takwa yang membuat kita berhenti sebelum melangkah kepada maksiat, dan segera bergerak ketika ada pintu kebaikan yang terbuka.

Allah Ta’ala berfirman:

وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka; mereka tidak disentuh oleh keburukan dan tidak pula mereka bersedih.” (QS. Az-Zumar: 61).

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Salah satu tanda takwa adalah seseorang mulai berhati-hati terhadap umurnya. Ia sadar bahwa hidup ini tidak panjang. Ia tahu bahwa waktu bukan sekadar angka di jam dinding, bukan sekadar pergantian pagi dan sore, bukan sekadar hari-hari yang datang lalu pergi. Waktu adalah umur kita sendiri. Bila waktu berlalu, sesungguhnya sebagian dari diri kita ikut pergi.

Karena itu Allah bersumpah dengan waktu:

﴿ وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴾

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3).

Perhatikan ayat ini, jamaah sekalian. Allah tidak mengatakan sebagian manusia rugi. Allah menyebut manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang diselamatkan oleh empat perkara: iman, amal saleh, saling menasihati di atas kebenaran, dan saling menasihati di atas kesabaran.

Seakan-akan setiap manusia sedang berdagang. Modalnya adalah umur. Pasarnya adalah dunia. Keuntungannya adalah ridha Allah dan surga. Kerugiannya adalah kelalaian, dosa, dan penyesalan yang tidak lagi berguna.

Maka sungguh aneh bila ada orang yang sangat hati-hati menjaga uangnya, tetapi begitu mudah membuang waktunya. Ia marah kalau hartanya hilang, tetapi tenang saja ketika malamnya habis tanpa ibadah.

Ia sedih kalau barangnya rusak, tetapi tidak gelisah ketika shalatnya rusak karena lalai. Ia merasa rugi bila tertinggal peluang dunia, tetapi tidak merasa rugi ketika tertinggal takbiratul ihram, tertinggal majelis ilmu, tertinggal kesempatan membaca Al-Qur’an, tertinggal bakti kepada orang tua.

Padahal waktu yang telah lewat tidak bisa dibeli kembali.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Allah menciptakan manusia memiliki rasa cinta kepada sesuatu yang menyenangkan. Manusia menyukai kelapangan, kesenangan, keberhasilan, kemenangan, dan hiburan. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya manusia sangat kuat cintanya kepada kebaikan.” (QS. Al-‘Adiyat: 8).

Allah juga menjelaskan tabiat manusia ketika tidak dibimbing oleh iman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ۝ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ۝ وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ditimpa keburukan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21).

Begitulah manusia bila hatinya terlalu melekat kepada dunia. Ia ingin senang terus, tetapi dunia tidak pernah memberi kesenangan yang sempurna. Ia ingin menang terus, tetapi dunia selalu mempertemukan manusia dengan kekalahan.

Ia ingin sehat terus, tetapi tubuh pasti melemah. Ia ingin bersama orang yang dicintai selamanya, tetapi kematian memisahkan. Ia ingin tertawa sepanjang hidup, tetapi dunia memang diciptakan sebagai tempat ujian.

Karena itu, siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar, ia akan lelah. Ia mengejar satu kesenangan, lalu bosan. Ia mencari hiburan lain, lalu bosan lagi. Ia menonton ini, lalu mencari yang lain. Ia membuka satu layar, lalu berpindah ke layar berikutnya. Hari berlalu, malam habis, hati tetap kosong.

Di sinilah seorang mukmin perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya: “Untuk apa sebenarnya aku hidup? Ke mana umurku berjalan? Apa yang sedang aku kumpulkan untuk hari ketika aku berdiri di hadapan Allah?”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah pernah memberi nasihat yang indah. Beliau berkata bahwa sepantasnya manusia mengenal kemuliaan zamannya dan mengetahui nilai waktunya. Jangan ia sia-siakan satu saat pun kecuali dalam sesuatu yang mendekatkannya kepada Allah. Hendaklah ia mendahulukan yang paling utama dari ucapan dan perbuatan.

Beliau tidak mengatakan setiap orang harus melakukan ibadah yang sama sepanjang hari. Tidak. Seorang ayah bekerja mencari nafkah, itu ibadah bila niatnya benar. Seorang ibu mengurus rumah dan anak-anak, itu ibadah bila ia berharap pahala dari Allah. Seorang pelajar belajar dengan sungguh-sungguh, itu bisa menjadi ibadah bila ia ingin memberi manfaat.

Seorang pedagang jujur di pasar, itu ibadah. Seorang pemuda menahan pandangan dan menjaga dirinya, itu ibadah. Bahkan istirahat pun bisa bernilai ibadah bila diniatkan agar badan kuat menjalankan ketaatan.

Yang tercela adalah ketika waktu habis tanpa arah. Bukan untuk dunia yang bermanfaat, bukan untuk akhirat, bukan untuk keluarga, bukan untuk ilmu, bukan untuk memperbaiki diri. Hanya habis. Menguap begitu saja. Seperti air yang tumpah ke pasir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari).

Banyak manusia tertipu. Ketika sehat, ia merasa akan sehat selamanya. Ketika muda, ia merasa masa tua masih jauh. Ketika lapang, ia merasa kesibukan belum akan datang. Ketika malam masih panjang, ia menunda shalat. Ketika pagi masih segar, ia menunda tilawah. Ketika hidup masih terasa mudah, ia menunda taubat.

Nanti saja.

Besok saja.

Kalau sudah sempat.

Kalau sudah tua.

Kalau sudah tenang.

Padahal tidak ada seorang pun yang memegang jaminan bahwa ia masih hidup sampai besok pagi. Tidak ada yang tahu apakah ia masih sempat mengucapkan istighfar sebelum ajal datang. Tidak ada yang tahu, apakah shalat Jumat hari ini adalah Jumat terakhirnya atau masih ada shalat Jumat berikutnya.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Pada hari-hari ini, kita melihat satu fenomena yang ramai di tengah manusia: Piala Dunia. Banyak orang membicarakannya. Banyak yang menonton pertandingannya. Ada yang sekadar mengikuti berita, ada yang menikmati olahraga, ada pula yang sampai larut dalam euforia.

Islam tidak melarang olahraga pada asalnya. Islam tidak melarang seseorang memiliki hiburan yang mubah. Tubuh juga punya hak untuk beristirahat. Jiwa kadang perlu jeda. Namun seorang mukmin selalu punya batas. Ia tahu mana hiburan yang sekadar selingan, dan mana kelalaian yang mulai menguasai hati.

Yang menjadi masalah bukan sekadar menonton bola. Yang menjadi masalah adalah ketika bola membuat shalat Subuh kita terlewatkan. Ketika pertandingan lebih ditunggu daripada panggilan adzan.

Ketika komentator bola lebih mudah diikuti daripada ayat Al-Qur’an. Ketika seseorang sanggup begadang berjam-jam untuk menonton, tetapi tidak sanggup berdiri beberapa menit di hadapan Allah. Ketika nama pemain begitu akrab di lisan, tetapi nama sahabat Nabi ﷺ asing di telinga. Ketika jadwal pertandingan dihafalkan secara presisi, tetapi jadwal shalat diremehkan.

Marilah kita jujur kepada diri sendiri…

Setelah pertandingan selesai, apa yang tersisa bagi hati kita? Kalau tim yang kita dukung menang, kita hanya senang sebentar. Kalau kalah, kita kecewa sebentar. Setelah itu, hidup berjalan lagi.

Dosa kita tetap perlu diampuni. Shalat kita tetap perlu diperbaiki. Orang tua kita tetap perlu diperhatikan. Anak-anak kita tetap perlu dididik. Al-Qur’an tetap menunggu untuk dibaca. Dan kematian serta kehidupan alam kubur tetap semakin dekat.

Maka jangan sampai sesuatu yang mubah menjadi sebab kita melalaikan yang wajib. Jangan sampai hiburan berubah menjadi pintu melupakan Allah. Jangan sampai sesuatu yang hanya permainan membuat kita kalah dalam urusan yang sungguh-sungguh: urusan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang berpaling dari perkara sia-sia.” (QS. Al-Mu’minun: 1-3).

Allah menyebut dua sifat ini berdekatan: khusyuk dalam shalat dan berpaling dari perkara sia-sia. Ini pelajaran besar. Shalat yang benar seharusnya membuat seseorang lebih pandai menjaga waktu.

Shalat yang hidup seharusnya membuat seseorang lebih mudah meninggalkan yang tidak berguna. Shalat yang diterima seharusnya meninggalkan bekas dalam hidup: hati lebih lembut, lisan lebih terjaga, pandangan lebih tunduk, dan waktu lebih bernilai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadis ini seperti cermin untuk kita bisa melihat diri sendiri. Berapa banyak ucapan kita yang sebenarnya tidak perlu? Berapa banyak tontonan yang tidak menambah iman? Berapa banyak perdebatan yang tidak membuat kita lebih dekat kepada Allah? Berapa banyak malam habis hanya untuk mengetahui kabar gossip orang lain, tetapi kita tidak sempat mengetahui keadaan hati kita sendiri?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah juga mengingatkan bahwa orang yang berakal adalah orang yang mempersiapkan bekal untuk perjalanannya. Ia tidak tahu kapan perintah Allah datang. Ia tidak tahu kapan ia akan dipanggil. Beliau menyebutkan bahwa banyak manusia tertipu oleh masa muda, lupa kepada kematian teman-temannya, dan dilalaikan oleh panjang angan-angan.

Kita sering mengantar jenazah, tetapi merasa kematian itu milik orang lain. Kita mendengar kabar seseorang meninggal tiba-tiba, tetapi hati kita hanya tersentuh sebentar. Kita melihat orang sebaya kita dipanggil Allah, tetapi setelah itu kembali sibuk seakan-akan giliran kita masih sangat jauh.

Padahal kematian tidak menunggu usia tua. Kematian tidak meminta izin kepada badan yang sehat. Kematian tidak menunggu seseorang selesai menonton pertandingan, selesai membangun rumah, selesai menikahkan anak, selesai melunasi cicilan, selesai mengejar karier. Bila waktunya datang, ia datang.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak pula dapat meminta percepatan.” (QS. Al-A’raf: 34).

Maka, waktumu terlalu berharga untuk dihabiskan dalam kelalaian.

Waktumu terlalu mahal untuk dibakar oleh tontonan demi tontonan.

Waktumu terlalu mulia untuk habis dalam komentar, emosi, dan fanatisme yang tidak membawa manfaat di hadapan Allah.

Kita diciptakan bukan sekadar untuk menjadi penonton. Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Mari kita mulai memperbaiki waktu dengan melakukan hal-hal yang sederhana.

 Jangan tidur sebelum memastikan shalat tidak terlewat. Jangan biarkan satu hari berlalu tanpa Al-Qur’an, walau hanya beberapa ayat. Jangan biarkan lisan kering dari istighfar. Jangan menunda meminta maaf kepada orang tua, pasangan, saudara, atau teman yang pernah kita sakiti. Jangan menunggu tua untuk menjadi saleh. Jangan menunggu sakit untuk sadar. Jangan menunggu kehilangan baru menghargai.

Gunakan sehat sebelum sakit. Gunakan lapang sebelum sempit. Gunakan muda sebelum tua. Gunakan hidup sebelum mati.

Karena sungguh, waktu yang paling kita sesali nanti bukan waktu ketika kita kurang bersenang-senang. Yang paling kita sesali adalah waktu ketika kita mampu beramal, tetapi memilih lalai. Waktu ketika pintu taubat terbuka, tetapi kita menunda. Waktu ketika adzan memanggil, tetapi kita tetap sibuk dengan dunia.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sadar sebelum terlambat, yang bangun sebelum dipaksa bangun oleh kematian, yang memanfaatkan umur sebelum umur itu selesai.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sebagai wasiat penutup, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah pernah mengatakan:

“Ada sepuluh perkara yang bisa menjadi sia-sia:

Ilmu yang tidak diamalkan.

Amal yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.

Harta yang tidak dinikmati secara halal oleh pemiliknya dan tidak pula dikirimkan untuk akhiratnya.

Hati yang kosong dari cinta kepada Allah, rindu kepada-Nya, dan merasa tenteram bersama-Nya.

Badan yang tidak digunakan untuk taat kepada Allah.

Cinta yang tidak diikat dengan ridha Allah.

Waktu yang tidak dipakai untuk menebus kekurangan masa lalu atau meraih kebaikan baru.

Pikiran yang berkelana pada hal-hal yang tidak bermanfaat.

Kesibukan melayani sesuatu yang tidak mendekatkan kepada Allah dan tidak pula memperbaiki dunia kita.

Dan, terakhir, rasa takut serta harap kepada makhluk yang ubun-ubunnya berada di tangan Allah.”

Namun di antara semua yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah, ada satu yang sangat dekat dengan tema kita hari ini: waktu yang dibiarkan kosong dari kebaikan.

Waktu yang tidak digunakan untuk memperbaiki kekurangan masa lalu. Waktu yang tidak dipakai untuk menambah bekal menuju akhirat. Waktu yang habis hanya untuk melihat, mendengar, mengomentari, mengikuti, dan membicarakan sesuatu yang setelah selesai tidak meninggalkan pahala.

Semoga Allah menjaga hati kita dari kelalaian. Semoga Allah menjaga waktu kita dari kesia-siaan. Semoga sisa umur kita menjadi lebih baik daripada umur yang telah berlalu. Dan semoga ketika ajal datang, kita datang kepada Allah dengan hati yang bertaubat, waktu yang terisi kebaikan, dan amal yang diterima di sisi-Nya.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Marilah kita berdoa kepada Allah…

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dosa guru-guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin.

Ya Allah, teguhkan kami di atas tauhid. Jauhkan kami dari syirik yang tampak maupun yang tersembunyi. Jadikan hati kami bergantung hanya kepada-Mu. Jadikan lisan kami basah dengan dzikir dan istighfar. Jadikan akhir hidup kami husnul khatimah.

Ya Allah, karuniakan kepada kami cinta kepada-Mu, cinta kepada Nabi-Mu ﷺ, cinta kepada Ahlul Bait beliau, dan cinta kepada para sahabat beliau.

Ya Allah, perbaikilah keluarga kami. Jadikan rumah-rumah kami rumah yang mengenal shalat, Al-Qur’an, sunnah Nabi-Mu, dan akhlak yang mulia. Lindungi anak-anak kami dari fitnah syahwat dan syubhat, dari pergaulan buruk, dari tontonan yang merusak, dan dari jalan yang menjauhkan mereka dari-Mu.

Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin. Bimbinglah para pemimpin kami kepada keadilan dan kebaikan. Anugerahkan kepada mereka rasa takut kepada-Mu dalam mengurus rakyat. Jagalah negeri kami dari kerusakan, perpecahan, kezaliman, bencana, dan fitnah yang tampak maupun tersembunyi.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Lapangkan kesulitan mereka, sembuhkan yang sakit, beri makan yang lapar, lindungi yang lemah, dan turunkan pertolongan-Mu kepada mereka.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا 

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version