mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Alam Kubur Kita’ (Edisi 120, 19 Dzulhijja 1447 H).
Naskah selengkapnya:
‘ALAM KUBUR KITA…‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya terucap di lisan, tetapi hidup di dalam hati, tampak dalam amal, terasa dalam akhlak, dan menemani kita sampai akhir hayat. Sebab tidak ada bekal yang lebih berharga ketika manusia meninggalkan dunia selain iman, tauhid, amal saleh, dan hati yang kembali kepada Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat: 56.
Ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar bekerja, makan, membangun rumah, menumpuk harta, mencari nama, atau mengejar pujian manusia. Semua itu akan kita tinggalkan. Yang akan ikut masuk bersama kita ke liang lahad hanyalah amal kita.
Allah Ta‘ala mengingatkan:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, pasti akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” QS. Al-Jumu‘ah: 8.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Di antara perkara besar yang sering dilupakan manusia adalah kehidupan setelah kematian. Kita mendengar berita kematian hampir setiap hari. Kadang dari keluarga, tetangga, teman kerja, atau orang-orang yang kita kenal. Kita mengantarkan jenazah ke kuburan. Kita melihat tanah ditimbunkan. Kita mendengar doa dipanjatkan. Namun, setelah itu, hati kita sering kembali sibuk dengan dunia, seakan-akan giliran kita masih sangat jauh.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita tentang beratnya permulaan perjalanan akhirat.
Disebutkan bahwa sahabat mulia ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu apabila berdiri di sisi kubur, beliau menangis sampai basah janggutnya. Lalu beliau ditanya, “Engkau mengingat surga dan neraka namun tidak menangis, tetapi engkau menangis karena kubur?” Maka beliau menjawab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْقَبْرُ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
“Kubur adalah tempat pertama dari tempat-tempat akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka setelahnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat darinya, maka setelahnya akan lebih berat.”
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Perhatikanlah hati ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang yang banyak berinfak, pemilik rasa malu yang agung, dan termasuk orang yang dijanjikan surga. Tetapi ketika berdiri di sisi kubur, beliau menangis.
Lalu bagaimana dengan kita? Kita yang amalnya sedikit, dosanya banyak, shalatnya kadang lalai, lisannya kadang tajam, hatinya kadang keras, dan dunianya sering lebih besar daripada akhiratnya.
Marilah kita merenung sejenak…
Kubur itu sempit, tetapi ia bisa diluaskan oleh Allah bagi hamba yang beriman. Kubur itu gelap, tetapi ia bisa diterangi oleh amal saleh. Kubur itu sunyi, tetapi ia bisa menjadi taman dari taman-taman surga bagi orang yang Allah rahmati. Sebaliknya, ia bisa menjadi awal kesempitan, ketakutan, dan azab bagi orang yang berpaling dari Allah.
Allah Ta‘ala berfirman tentang kehidupan barzakh:
وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” QS. Al-Mu’minun: 100.
Para ulama salaf menjelaskan bahwa barzakh adalah pembatas antara kehidupan dunia dan hari kebangkitan. Ia adalah alam gaib. Kita tidak mengetahui hakikatnya kecuali melalui wahyu: Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih. Karena itu, seorang mukmin tidak menimbang perkara kubur dengan akal semata, perasaan semata, atau dugaan manusia. Seorang mukmin tunduk kepada berita Allah dan Rasul-Nya.
Allah Ta‘ala mengabarkan tentang azab yang menimpa keluarga Fir‘aun:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat, dikatakan: Masukkanlah keluarga Fir‘aun ke dalam azab yang sangat keras.” QS. Ghafir: 46.
Ayat ini menunjukkan bahwa sebelum hari kiamat pun ada azab yang ditimpakan kepada mereka. Inilah di antara dalil yang disebutkan para ulama tentang adanya azab kubur atau azab barzakh. Demikian pula firman Allah tentang kaum Nuh:
مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا
“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan ke dalam neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain Allah.” QS. Nuh: 25.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Dalam hadits yang muttafaq ‘alaih dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya apabila salah seorang dari kalian meninggal, akan diperlihatkan kepadanya tempat duduknya pada pagi dan petang. Jika ia termasuk penghuni surga, maka diperlihatkan tempatnya di surga. Jika ia termasuk penghuni neraka, maka diperlihatkan tempatnya di neraka. Lalu dikatakan: Inilah tempatmu sampai Allah membangkitkanmu pada hari kiamat.”
Maka, janganlah kita tertipu oleh panjang angan-angan. Jangan sampai dunia yang sementara ini membuat kita lupa pada rumah pertama kita setelah kematian. Jangan sampai kesibukan mencari nafkah membuat kita meninggalkan shalat.
Jangan sampai dunia digital membuat kita mudah berdusta, menyebarkan aib, menyulut permusuhan, dan meremehkan dosa lisan. Di zaman ini, satu kalimat bisa menyebar ke ribuan orang. Satu fitnah bisa menghancurkan kehormatan seorang muslim. Satu berita palsu bisa menjadi dosa yang terus mengalir.
Ingatlah, kubur tidak bertanya berapa banyak pengikut kita. Kubur tidak bertanya seberapa tinggi jabatan kita. Kubur tidak bertanya seberapa mewah rumah kita. Kubur akan menjadi tempat pertama kita mempertanggungjawabkan iman dan amal.
Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah,
Sekarang marilah kita perhatikan beberapa sebab yang disebutkan dalam nash sebagai sebab azab kubur, agar kita menjauhinya sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi bermanfaat.
Di antara sebab azab kubur adalah meremehkan urusan thaharah atau bersuci, khususnya tidak menjaga diri dari najis air kencing. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kubur, lalu beliau bersabda:
إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan keduanya tidak diazab karena perkara yang mereka anggap besar. Adapun salah satunya, ia tidak menjaga diri dari air kencing. Adapun yang lain, ia berjalan menyebarkan namimah.”
Hadits ini mengajarkan dua perkara besar:
Pertama, hubungan kita dengan Allah harus dijaga dengan thaharah dan shalat yang benar. Jangan meremehkan najis. Jangan meremehkan wudhu. Jangan meremehkan shalat. Sebab shalat adalah tiang agama, dan thaharah adalah syarat sah shalat.
Kedua, hubungan kita dengan manusia harus dijaga dari namimah atau mengadu-domba: membawa ucapan seseorang kepada orang lain untuk merusak hubungan mereka. Namimah bisa terjadi di rumah, kantor, grup percakapan, media sosial, bahkan di tengah keluarga. Berapa banyak persaudaraan rusak karena ucapan yang dibawa-bawa. Berapa banyak hati terluka karena pesan yang disebar tanpa amanah. Berapa banyak permusuhan menyala karena lisan yang tidak takut kepada Allah.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Di antara sebab azab kubur yang lain adalah dusta, terutama dusta yang tersebar luas. Pada masa dahulu, dusta menyebar dari mulut ke mulut. Hari ini, dusta bisa menyebar dengan satu sentuhan jari.
Maka sebelum membagikan berita, takutlah kepada Allah. Sebelum menulis komentar, takutlah kepada Allah. Sebelum menuduh, takutlah kepada Allah. Jangan sampai sesuatu yang kita anggap ringan di layar, menjadi berat di hadapan Allah.
Di antara sebab azab kubur lainnya adalah memakan harta haram: riba, penipuan, korupsi, mengambil hak orang lain, mengurangi timbangan, memakan harta anak yatim, atau memakai amanah untuk kepentingan pribadi.
Harta haram mungkin tampak menambah rekening, tetapi ia mengurangi keberkahan. Ia bisa membuat doa tertahan, hati gelap, keluarga gelisah, dan kubur menjadi tempat yang menakutkan.
Di antara sebab azab kubur lainnya adalah zina dan jalan-jalan yang mendekatkannya. Allah Ta‘ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk.” QS. Al-Isra’: 32.
Perhatikanlah, Allah tidak hanya melarang zina, tetapi melarang mendekatinya. Maka jagalah pandangan, jagalah pergaulan, jagalah gawai kita, jagalah anak-anak kita, dan jagalah pintu-pintu rumah kita dari sebab-sebab kerusakan.
Di antara sebab lainnya adalah orang yang menyeru dan mengajak orang lain kepada kebaikan tetapi melupakan dirinya sendiri. Ini peringatan pertama untuk para khatib, dai, guru, orang tua, pemimpin, dan siapa pun yang menasihati manusia. Jangan sampai lisan kita mengajak orang menuju surga, tetapi amal kita justru menjauh dari jalan surga. Semoga Allah memperbaiki lahir dan batin kita.
Maka, jamaah sekalian, sekali lagi bertakwalah kepada Allah. Jagalah tauhid. Jagalah shalat. Jaga lisan. Jaga pandangan. Jaga makanan dari yang haram. Jaga keluarga dari kelalaian. Ajaklah anak-anak kita mengenal Allah sebelum mereka terlalu mengenal dunia. Ajarkan mereka shalat sebelum mereka mahir mengejar hiburan. Hidupkan rumah kita dengan Al-Qur’an, doa, dzikir, dan nasihat.
Semoga Allah menjadikan kubur kita kelak sebagai taman dari taman-taman surga, bukan lubang dari lubang-lubang neraka.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam khutbah pertama, kita telah membahas sedikit tentang betapa dahsyatnya kehidupan alam kubur yang pasti akan kita lalui.
Namun tentu saja khutbah ini bukan untuk membuat kita berputus asa. Pintu taubat masih terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.
Siapa yang pernah lalai, bertaubatlah.
Siapa yang pernah menyebar fitnah, hentikanlah dan perbaikilah.
Siapa yang pernah mengambil hak orang lain, kembalikanlah.
Siapa yang pernah meninggalkan shalat, mulailah hari ini.
Siapa yang jauh dari Al-Qur’an, dekatilah kembali.
Marilah kita gunakan kesempatan bernafas yang Allah berikan ini dengan sebaik-baiknya untuk bertaubat dan beribadah kepada Alah. Jangan tunggu tubuh kita kaku tak bernyawa. Jangan tunggu nama kita disebut dalam berita duka baru kita sadar bahwa dunia ini sementara. Hari ini kita masih bisa sujud. Hari ini kita masih bisa meminta ampun. Hari ini kita masih bisa memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, jadikanlah kubur kami kelak sebagai taman dari taman-taman surga. Lindungilah kami dari azab kubur, fitnah kubur, fitnah hidup dan mati, serta fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.
Ya Allah, perbaikilah hati kami, lisan kami, keluarga kami, dan amal-amal kami. Jauhkan kami dari dusta, namimah, ghibah, riba, zina, harta haram, dan seluruh jalan yang mendatangkan murka-Mu.
Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin kaum muslimin untuk berlaku adil, membela kebenaran, menjaga amanah, dan takut kepada-Mu. Jagalah negeri kami dan seluruh negeri kaum muslimin dari fitnah, perpecahan, kezaliman, dan bencana.
Ya Allah, muliakanlah para ulama Ahlus Sunnah yang membimbing umat di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Rahmatilah kaum muslimin yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah mereka pertolongan, keteguhan iman, kesabaran, dan jalan keluar yang dekat.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin yang tertindas di mana pun mereka berada. Ringankan penderitaan mereka. Beri makan yang lapar, sembuhkan yang sakit, lindungi yang lemah, tenangkan yang takut, dan angkatlah kezaliman dari mereka.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
