mim.or.id – Rasulullah memberikan wasiat yang sangat indah dan agung bagi umatnya, dan ini bisa jadi jalan bahagia ala Rasulullah tiga pesan penuntun hidup.
Pesan-pesan ini mencakup hubungan hamba dengan penciptanya, hubungan dengan dirinya sendiri melalui pertobatan, serta hubungan sosial dengan sesama manusia.
Bertakwa kepada Allah di Mana Pun Berada
Pesan pertama adalah “Ittaqillaha haituma kunta”, yang berarti bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Takwa secara bahasa berarti membangun wiqayah atau perisai pelindung antara diri kita dengan azab Allah melalui ketaatan penuh.
Menurut Ibnu Mas’ud, sebenar-benar takwa mencakup tiga hal: senantiasa mengingat Allah tanpa lalai, tunduk patuh tanpa kufur, dan selalu mensyukuri nikmat-Nya.
Penting bagi seorang Muslim untuk menghadirkan perasaan muraqabatullah, yaitu merasa senantiasa diawasi oleh Allah. Allah mengetahui segala sesuatu, mulai dari langkah semut hitam di kegelapan malam hingga bisikan paling rahasia dalam hati manusia.
Baca Juga: Hari yang Sangat Menakutkan: Antara Surga dan Neraka
Orang yang bertakwa dijanjikan jalan keluar dari setiap masalah, rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, serta kemudahan dalam segala urusan.
Menghapus Keburukan dengan Kebaikan
Sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, Rasulullah berpesan agar kita mengiringi setiap keburukan dengan kebaikan karena kebaikan tersebut akan menghapuskannya.
Hal ini diperkuat dengan firman Allah bahwa perbuatan baik dapat menggugurkan dosa-dosa yang telah dilakukan.Beberapa amalan yang dapat menghapus dosa antara lain:
Pertama, Shalat lima waktu, yang diibaratkan seperti mandi di sungai lima kali sehari sehingga tidak ada kotoran yang tersisa pada tubuh. Kedua, Sedekah, yang dapat memadamkan kemarahan Allah.
Ketiga, Berbakti kepada orang tua dan menyambung tali silaturahim. dan Keempat, Menyantuni anak yatim dan berlaku lemah lembut kepada mereka.
Berakhlak Mulia kepada Sesama Manusia
Wasiat terakhir adalah mempergauli manusia dengan akhlak yang baik. Dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang paling saya cintai dan paling dekat majelisnya denganku di antara kalian hari kiamat kelak (di surga) adalah yang paling baik akhlaknya..…“. (HR. Al-Tirmidzi dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani).
Baca Juga: Penerimaan Rapor, Momentum Evaluasi dan Monitoring Kemajuan Santri
Akhlak adalah hiasan bagi seorang hamba yang bahkan menjadi alasan Allah memuji Nabi Muhammad Kesalehan yang sempurna tidak hanya diukur dari ibadah ritual kepada Allah, tetapi juga hubungan baik dengan sesama manusia.
Rasulullah menegaskan bahwa seseorang bisa mencapai derajat orang yang rajin puasa dan shalat malam hanya karena akhlak mulianya. Bahkan, orang yang paling dekat tempat duduknya dengan Rasulullah di hari kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya.
Bentuk nyata akhlak ini meliputi memberikan bantuan, murah senyum, berkata-kata baik, hingga memaafkan hutang orang lain yang sedang kesulitan.
