Home Khutbah Khutbah Jum’at: Ujian Akhirat Sungguh Berat (Edisi 141, 19 Jumadil Awal 1448...

Khutbah Jum’at: Ujian Akhirat Sungguh Berat (Edisi 141, 19 Jumadil Awal 1448 H)

0
Sampul Khutbah
Sampul Khutbah Jum'at Edisi, 141

mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Ujian Akhirat Sungguh Berat’ (Edisi 141, 19 Jumadil Awal 1448 H).

Untuk selengkapnya:

‘UJIAN AKHIRAT SUNGGUH BERAT…’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ  تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Di antara pengalaman yang pernah kita rasakan dalam kehidupan adalah menghadapi ujian. Seorang pelajar menghadapi ujian untuk menentukan keberhasilannya dalam pendidikan.

Seorang mahasiswa menjalani ujian untuk membuktikan penguasaan ilmunya. Seorang pekerja menghadapi penilaian untuk mempertanggungjawabkan tugas dan amanahnya. Bahkan seseorang yang hendak memperoleh pekerjaan pun sering harus melewati serangkaian pertanyaan yang menentukan diterima atau tidaknya ia pada pekerjaan yang diharapkannya.

Ketika menghadapi ujian-ujian tersebut, manusia biasanya mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh. Seorang pelajar atau mahasiswa rela mengurangi waktu bermain untuk mengulang pelajaran.

Seorang calon pekerja mempelajari berbagai kemungkinan pertanyaan agar tidak kehilangan kesempatan yang telah lama dinantikannya. Semua itu dilakukan karena manusia memahami bahwa sebuah ujian dapat menentukan keadaan hidupnya pada masa yang akan datang.

Namun, saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita merenungkan bahwa sesungguhnya ada ujian yang jauh lebih besar daripada seluruh ujian kehidupan dunia?

Ada pertanyaan yang tidak akan dapat kita hindari, sekalipun kita telah meninggalkan bangku sekolah, menyelesaikan pendidikan, mencapai keberhasilan, bahkan telah berhenti dari seluruh aktivitas pekerjaan.

Pertanyaan itu bukan diajukan oleh seorang guru, bukan oleh seorang dosen, bukan pula oleh manusia yang memiliki jabatan dan kekuasaan. Pertanyaan itu berkaitan dengan pertanggungjawaban kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan yang menciptakan kita, memberikan kehidupan kepada kita, dan kelak akan membangkitkan kita setelah kematian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ۝ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS. Al-Hijr: 92–93).

Perhatikanlah, jamaah Jumat yang berbahagia. Allah bersumpah dengan diri-Nya sendiri bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada kehidupan yang berlangsung tanpa perhitungan. Tidak ada perbuatan yang sama sekali luput dari pengetahuan-Nya. Bahkan sesuatu yang telah kita lupakan selama bertahun-tahun tetap berada dalam ilmu Allah yang Mahasempurna.

Betapa banyak peristiwa dalam kehidupan yang sudah hilang dari ingatan kita. Kita mungkin lupa perkataan yang pernah melukai hati seseorang. Kita mungkin tidak lagi mengingat harta yang dahulu diperoleh dengan cara yang tidak benar. Kita mungkin sudah melupakan waktu-waktu yang terbuang dalam kelalaian. Akan tetapi, hilangnya sesuatu dari ingatan manusia tidak berarti hilangnya sesuatu itu dari catatan amalnya.

Allah berfirman:

أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ

“Allah mencatat semuanya, sedangkan mereka telah melupakannya.” (QS. Al-Mujadilah: 6).

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.

Dalam ujian dunia, sering kali manusia tidak mengetahui pertanyaan yang akan dihadapinya. Karena itulah ia harus mempelajari banyak hal sebagai persiapan. Akan tetapi, dalam perkara akhirat, Allah dan Rasul-Nya telah memberitahukan kepada kita berbagai pertanyaan-pertanyaan yang kelak akan ditanyakan dan dipertanggungjawabkan.

Kita telah diberitahu bahwa akan ada pertanyaan di alam kubur. Kita telah diberitahu bahwa umur dan masa muda akan dimintai pertanggungjawaban. Kita telah diberitahu bahwa harta akan ditanyakan dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Kita juga telah diberitahu bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban.

Dengan demikian, persoalan terbesar kita sebenarnya bukan karena tidak mengetahui apa yang akan ditanyakan. Persoalan terbesar kita adalah apakah kehidupan yang sedang kita jalani telah menjadi persiapan untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Marilah kita merenung sejenak…

Suatu hari nanti, akan datang saat ketika seluruh kesibukan dunia terhenti. Pekerjaan dan karir yang selama ini kita kejar akan kita ditinggalkan. Rumah yang kita bangun dengan susah payah akan ditempati orang lain. Harta yang kita kumpulkan akan berpindah tangan. Orang-orang yang mencintai kita akan mengantarkan jenazah kita menuju pemakaman, kemudian satu demi satu mereka kembali kepada kehidupan masing-masing.

Pada saat itulah manusia memasuki alam barzakh, suatu kehidupan yang selama ini hanya diketahuinya melalui berita Al-Qur’an dan Sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tentang pertanyaan yang akan dihadapi seorang hamba di alam kuburnya. Di antara pertanyaan tersebut adalah:

مَنْ رَبُّكَ؟ مَا دِينُكَ؟ مَنْ نَبِيُّكَ؟

“Siapakah Tuhanmu? Apakah agamamu? Siapakah nabimu?”

Sebagaimana disebutkan dalam hadis panjang Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu tentang keadaan manusia setelah kematian, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud.

Sekilas, pertanyaan tersebut terdengar sangat sederhana. Bahkan anak-anak kaum Muslimin telah diajari jawabannya sejak kecil. Kita mengetahui bahwa Tuhan kita adalah Allah, agama kita adalah Islam, dan nabi kita adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi, jamaah Jumat yang dirahmati Allah, kemampuan menjawab pertanyaan kubur bukan semata-mata persoalan hafalan. Seorang manusia dapat mengucapkan jawaban yang benar ketika hidup di dunia, tetapi keteguhan pada saat menghadapi fitnah kubur merupakan karunia Allah bagi orang-orang yang benar-benar beriman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27).

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan pula dengan keteguhan seorang mukmin ketika ditanya di dalam kuburnya.

Maka ketika kita mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan kita, pertanyaan yang patut kita renungkan sejak sekarang adalah sejauh mana kita telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang kita sembah dan kita taati. Apakah kita mendahulukan perintah-Nya daripada keinginan hawa nafsu?

Ketika kita mengatakan bahwa Islam adalah agama kita, hendaknya kita memeriksa kembali kehidupan kita. Apakah Islam hanya menjadi identitas yang tertulis pada dokumen kependudukan, atau telah menjadi tuntunan yang mengatur cara kita beribadah, mencari nafkah, membangun keluarga, dan memperlakukan sesama manusia?

Demikian pula ketika kita mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi kita. Apakah kita benar-benar berusaha mengenal Sunnah beliau? Apakah kita menjadikan beliau sebagai teladan dalam kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan ketaatan kepada Allah?

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.

Sesungguhnya tiga pertanyaan di alam kubur itu mengingatkan kita kepada tiga perkara yang sangat mendasar: kemurnian tauhid kepada Allah, keteguhan menjalankan agama, dan kesungguhan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, persiapan menghadapi pertanyaan kubur tidak cukup dengan menghafal jawabannya. Kita harus berusaha menjalani kehidupan di atas iman dan amal saleh, sambil terus memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan sampai akhir hayat.

Selanjutnya, setelah manusia dibangkitkan pada hari kiamat, terbentang pula pertanggungjawaban yang sangat besar. Salah satu perkara pertama yang akan diperiksa dari amal seorang hamba adalah salatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i, dengan riwayat yang dinilai sahih oleh sejumlah ulama).

Betapa pentingnya kedudukan salat dalam kehidupan seorang Muslim. Di tengah kesibukan mencari nafkah, mengurus keluarga, menjalankan usaha, atau mengejar berbagai cita-cita, Allah memberikan waktu-waktu tertentu agar manusia berhenti sejenak dari urusan dunia dan berdiri menghadap-Nya.

Namun, tidak sedikit manusia yang sanggup menghabiskan waktu berjam-jam untuk pekerjaan, hiburan, dan percakapan di dunia digital, tetapi merasakan berat ketika harus meluangkan beberapa menit untuk mendirikan salat.

Karena itu, sebelum datang hari ketika amal kita diperiksa, periksalah salat kita sejak sekarang. Apakah kita telah menjaganya pada waktunya? Apakah kita telah mempelajari tata caranya dengan benar? Apakah kita berusaha menghadirkan hati ketika berdiri, rukuk, dan bersujud di hadapan Allah?

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Di antara perkara yang akan ditanyakan pula pada hari kiamat adalah umur, masa muda, harta, dan ilmu yang dimiliki manusia. Dalam hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.

Renungkanlah pertanyaan tentang umur…

Umur adalah sesuatu yang kita gunakan setiap hari, tetapi tidak pernah kita ketahui berapa banyak sisanya. Kita dapat menghitung uang yang tersimpan dalam rekening, mengetahui jumlah barang yang kita miliki, bahkan memperkirakan keuntungan sebuah usaha. Akan tetapi, tidak seorang pun di antara kita mengetahui dengan pasti berapa hari lagi kehidupannya akan berlangsung.

Betapa banyak manusia yang membuat rencana panjang untuk masa depan, tetapi tidak pernah sampai kepada hari yang direncanakannya. Betapa banyak orang yang menunda taubat karena merasa masih muda, padahal kematian tidak pernah menjanjikan bahwa ia hanya akan datang kepada mereka yang telah lanjut usia.

Renungkan pula pertanyaan tentang masa muda…

Masa muda adalah masa ketika tenaga masih kuat, pikiran masih segar, dan kesempatan terbuka luas. Pada masa itulah banyak orang membangun cita-cita, mengembangkan kemampuan, dan menentukan arah kehidupannya. Akan tetapi, masa muda juga dapat menjadi masa kelalaian jika seseorang membiarkan dirinya dikuasai hawa nafsu.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…

Begitu pula pertanyaan tentang harta kita. Manusia tidak hanya akan ditanya berapa banyak yang dimilikinya, tetapi dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa digunakan.

Seorang pebisnis perlu merenungkan kejujurannya ketika berbisnis. Seorang pegawai perlu memeriksa amanah dalam pekerjaannya. Seorang pejabat perlu mengingat bahwa kewenangan bukan kesempatan memperkaya diri dengan melanggar hak orang lain. Seorang pengusaha perlu memastikan bahwa keuntungan tidak diperoleh melalui penipuan, pengkhianatan, atau kezaliman.

Dalam kehidupan modern, bentuk-bentuk penyimpangan harta semakin beragam. Penipuan dapat dilakukan melalui transaksi digital. Barang dapat dipasarkan dengan keterangan yang menyesatkan. Uang dapat diperoleh melalui manipulasi, perjudian daring, atau penyalahgunaan kepercayaan orang lain. Semua itu mungkin dapat disembunyikan dari pengawasan manusia, tetapi tidak pernah tersembunyi dari pengetahuan Allah.

Maka alangkah besarnya kerugian seseorang yang bersusah payah mengumpulkan harta sepanjang hidupnya, tetapi harta itu kelak justru menjadi sebab beratnya pertanggungjawaban.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah…

Pada akhirnya, Allah akan meminta pertanggungjawaban atas semua nikmat yang telah diberikan kepada kita.

Allah berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8).

Nikmat yang kita terima bukan hanya berupa kekayaan dan kemewahan. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, makanan yang mengenyangkan, kesehatan yang memungkinkan kita berjalan menuju masjid, dan keluarga yang menyambut kita ketika kembali ke rumah, semuanya adalah karunia Allah.

Marilah kita membayangkan sejenak, saudara-saudaraku.

Apabila hari ini kita mengetahui bahwa besok adalah hari terakhir kehidupan kita, apakah masih ada dosa yang ingin segera kita tinggalkan? Apakah masih ada salat yang ingin kita perbaiki? Apakah masih ada seseorang yang haknya belum kita tunaikan? Apakah masih ada permintaan maaf yang belum kita sampaikan?

Kita tidak mengetahui kapan hari terakhir itu akan datang. Namun, selama Allah masih memberikan kehidupan, pintu taubat masih terbuka bagi kita.

Jangan berputus asa karena banyaknya kesalahan masa lalu. Jangan pula merasa aman karena banyaknya amal yang telah dilakukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Hari esok yang dimaksud dalam ayat ini adalah kehidupan akhirat. Hari ketika dunia dengan segala kesibukannya telah berlalu, dan manusia mendapatkan balasan atas amal yang telah dikerjakannya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak sekadar mengetahui pertanyaan akhirat, tetapi juga bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Di antara perkara yang patut mendapatkan perhatian serius adalah bagaimana kita menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36).

Ayat ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita pada masa sekarang. Setiap hari, berbagai berita, gambar, rekaman, dan komentar datang silih berganti melalui layar telepon. Sebagian membawa ilmu dan manfaat, tetapi sebagian lainnya mengandung kebohongan, fitnah, tuduhan, dan perkara yang dapat merusak hati.

Karena itu, sebelum menyampaikan suatu perkataan, tanyakanlah kepada diri kita apakah perkataan tersebut benar dan bermanfaat. Sebelum menyebarkan suatu informasi, periksalah apakah kita memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kebenarannya. Sebelum menuliskan komentar yang menyakitkan, ingatlah bahwa orang yang kita bicarakan memiliki kehormatan yang wajib dijaga.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…

Kita juga akan dimintai pertanggungjawaban tentang janji dan amanah yang pernah kita terima. Allah berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 34).

Janji seorang suami untuk menunaikan tanggung jawab kepada keluarganya, amanah seorang ayah untuk mendidik anak-anaknya, tanggung jawab seorang pegawai dalam pekerjaannya, serta kepercayaan yang diberikan kepada seorang pemimpin merupakan perkara yang tidak boleh dianggap ringan.

Manusia mungkin dapat menghindari pertanyaan atas kelalaiannya di dunia dengan berbagai alasan. Akan tetapi, di hadapan Allah, tidak ada satu pun kenyataan yang dapat disembunyikan.

Jangan menunggu menjadi tua untuk bertaubat, sebab tidak semua manusia diberi kesempatan mencapai usia tua. Jangan menunggu memiliki harta yang banyak untuk bersedekah, sebab kebaikan dapat dimulai dari sesuatu yang sedikit. Jangan menunggu memiliki waktu luang untuk beribadah, sebab waktu luang sering kali tidak pernah datang kepada orang yang tidak berusaha menyediakannya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah…

Kelak akan tiba hari ketika manusia berdiri di hadapan Rabb-nya. Pada hari itu, gelar dan kedudukan dunia tidak lagi menjadi ukuran kemuliaan. Kekayaan tidak dapat membeli keselamatan. Popularitas tidak dapat menggantikan keimanan. Yang menjadi perhatian adalah tauhid, keimanan, ketakwaan, dan amal yang diterima oleh Allah.

Maka sebelum kita ditanya, marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita mengenal dan menyembah Allah dengan benar? Sudahkah kita berusaha mengikuti Rasulullah? Sudahkah waktu dan harta kita digunakan dalam kebaikan? Sudahkah nikmat yang Allah berikan membawa kita semakin dekat kepada-Nya?

Semoga ketika pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar datang, Allah memberikan keteguhan kepada kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Akhirnya, saudara-saudaraku, marilah kita menutup khutbah ini dengan harapan dan doa. Semoga Allah memperbaiki keadaan kita, membimbing para pemimpin kita, menolong saudara-saudara kita yang sedang tertimpa kesulitan, dan menjadikan negeri ini tempat tumbuhnya kejujuran, keadilan, serta kebaikan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ وَالْحَقِّ، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin kami. Bimbinglah mereka untuk menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan melindungi hak-hak rakyat. Karuniakanlah kepada mereka penasihat yang jujur dan hati yang takut kepada-Mu. Jauhkanlah mereka dari godaan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan segala keputusan yang menimbulkan penderitaan bagi masyarakat.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version