mim.or.id – Kisah ini merupakan sebuah teladan luar biasa mengenai komitmen terhadap syariat dan bagaimana kebenaran bisa datang dari siapa saja, termasuk dari seorang murid kepada gurunya.
Perjalanan spiritual ini bermula dari pengalaman seorang guru wanita yang bekerja di Arab Saudi dan mengalami perubahan besar dalam hidupnya setelah sebuah pertemuan tak terduga di bandara.
Esensi Hijab Syar’i: Antara Identitas dan Perlindungan
Hijab syar’i yang sempurna bukanlah sekadar mengikuti tradisi atau tren mode yang justru sering kali menimbulkan fitnah.
Hijab yang dimaksud adalah pakaian yang memberikan penghormatan dan penghargaan bagi seorang wanita, bahwa hijab memudahkan wanita beriman untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu.
Baca Juga: Menyucikan Jiwa melalui Keikhlasan dan Ketaatan
Di tengah upaya berbagai pihak untuk membujuk kaum wanita melepaskan penutup wajah mereka. Kesadaran akan fungsi hijab sebagai pelindung dari pandangan yang bukan mahram tetap menjadi benteng utama kehormatan seorang muslimah.
Pertemuan di Bandara: Titik Balik Kesadaran Seorang Guru
Sang guru menceritakan bahwa di negeri asalnya, ia terbiasa keluar tanpa hijab dan selalu mengikuti model pakaian terbaru.
Namun, saat bekerja di Arab Saudi, ia mengikuti tradisi setempat dengan mengenakan jubah dan penutup kepala. Titik balik terjadi di bandara saat ia hendak pulang ke negaranya dan melepaskan hijabnya.
Ia bertemu dengan salah satu siswinya yang berusia 16 tahun yang merasa terkejut melihat sang guru tidak berhijab.
Ketika sang guru berdalih bahwa ia tetap menjaga shalat dan puasa, muridnya dengan kritis namun sopan bertanya,
“Bukankah apa yang Anda lakukan ini (tidak berhijab) jelas adalah sebuah kemungkaran?”. Ucapan ini seketika menyadarkan sang guru akan kekhilafannya.
Kekuatan Keteladanan dan Keikhlasan Menerima Kebenaran
Keberanian siswi berusia 16 tahun tersebut untuk memberikan nasihat adalah hal yang sangat mengagumkan dan patut dibanggakan oleh masyarakat.
Di sisi lain, kerendahan hati sang guru untuk menerima teguran dari orang yang lebih muda darinya merupakan kunci dari taubatnya. Ia merasa sangat malu kepada Allah Ta’ala hingga berandai-andai jika bumi menelannya saat itu juga.
Baca Juga: Pesantren Qur’an MIM Torehkan Prestasi pada ‘Archery Fun Tournament U15 Makassar’
Sejak peristiwa tersebut, ia memutuskan untuk berkomitmen mengenakan hijab demi menaati perintah Allah dan menjaga kehormatannya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa hidayah bisa datang melalui lisan seorang pemudi beriman yang berpegang teguh pada prinsip agamanya.
Kesimpulan Perjalanan ini mengajarkan kita bahwa istiqamah dalam berhijab adalah langkah awal dalam meniti jalan Islam yang benar.
Keikhlasan seorang guru untuk bertaubat setelah ditegur muridnya menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari statusnya, tetapi dari kesiapannya untuk kembali kepada jalan Allah saat diingatkan.
