mim.or – Islam memandang manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan dua peran utama sekaligus, yaitu sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah di muka bumi.
Kedua, peran ini bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling melengkapi dan menjadi bekal utama manusia dalam menempuh perjalanan menuju akhirat.
Hakikat Penciptaan dan Tujuan Keberadaan Manusia
Banyak manusia menjalani hidup di tengah hiruk-pikuk dunia yang melalaikan tanpa benar-benar merenungkan mengapa mereka ada di bumi ini.
Padahal, Allahtelah menundukkan segala apa yang ada di langit dan di bumi sebagai nikmat lahir maupun batin bagi manusia. Sumber menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia hanyalah untuk beribadah dan menghambakan diri kepada Allah.
Baca Juga: Yakinlah, Ampunan Allah Seluas Rahmat-Nya
Kehidupan ini bukanlah sebuah kebetulan, permainan, atau sekadar senda gurau belaka. Kita tidak dibiarkan begitu saja tanpa aturan, perintah, larangan, atau rambu-ramu halal dan haram.
Setiap individu akan kembali kepada Sang Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dalam Surat An-Nur Ayat 42, Allah berfirman:
وَلِلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلْمَصِيرُ
Artinya: Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).
Urgensi Muhasabah di Tengah Singkatnya Umur
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara dengan jatah waktu yang sangat terbatas. Rasulullah menyebutkan bahwa umur umatnya rata-rata hanya berkisar antara 60 hingga 70 tahun.
Karena singkatnya waktu tersebut, melakukan Muhasabah atau introspeksi diri menjadi sangat krusial. Sebagaimana wasiat Umar bin Khattab, kita harus menghisab diri sendiri sebelum kelak dihisab di hadapan Allah, serta menimbang amalan kita sebelum ditimbang di hari kiamat.
Kelalaian adalah ancaman terbesar bagi manusia. Sumber menggambarkan orang yang memiliki hati, mata, dan telinga namun tidak digunakan untuk memahami kebesaran Allah sebagai golongan yang lebih sesat daripada binatang.
Baca Juga: Mungkin Kecil di Mata Manusia, Besar di Sisi Allah
Mereka adalah orang-orang yang berpaling dari peringatan meskipun hari perhitungan semakin dekat.
Kepastian Hari Kebangkitan dan Catatan Amal
Setiap apa yang terlontar dari mulut, pandangan mata, serta langkah kaki manusia senantiasa dicatat oleh malaikat.
Bagi mereka yang meragukan hari kebangkitan seperti permisalan seseorang yang membawa tulang belulang hancur di hadapan Nab iAllah menegaskan bahwa menghidupkan kembali sesuatu yang sudah ada jauh lebih mudah bagi-Nya daripada menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada.
Penyesalan seringkali datang terlambat, yaitu pada dua kondisi:
Pertama, Saat Kematian Menjemput: Ketika malaikat maut datang, manusia baru memohon dikembalikan ke dunia sesaat saja untuk bersedekah dan beramal saleh, namun pintu tobat telah tertutup.
Kedua, Saat di Dalam Neraka: Mereka yang tidak beriman akan berteriak memohon dikeluarkan dari azab untuk beramal saleh, tetapi kesempatan itu sudah hilang selamanya.
