mim.or.id – Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan momen istimewa bagi umat Islam untuk membersihkan jiwa dan memperbaiki diri secara menyeluruh.
Selama satu bulan penuh, setiap Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, mengendalikan hawa nafsu, serta memperbanyak amal kebaikan.
Misi Kenabian dalam Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nufus)
Seperti dikethui, salah satu dari tiga misi utama diutusnya Rasulullah adalah untuk menyucikan umat manusia (wazakkihim).
Penyucian ini tidak hanya terbatas pada satu aspek, melainkan mencakup penyucian pemahaman, adat istiadat, perbuatan, hingga jiwa manusia itu sendiri.
Ramadan dipandang sebagai momentum yang sangat tepat untuk merealisasikan misi ini melalui berbagai amal ibadah yang ada di dalamnya.
Baca Juga: Ramadhan, Bukti Kasih dan Kemudahan-Nya
Dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syams Ayat 9, Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا
Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu
Hati (Al-Qalb) sebagai Pusat Kendali Manusia
Adapun kedudukan jiwa atau hati dalam diri manusia disebutkan bahwa hati adalah komandan, penggerak, atau raja bagi seluruh anggota tubuh.
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Indikator hati yang baik adalah sejauh mana hati tersebut selaras dengan syariat, seperti memiliki rasa ikhlas, cinta, dan ketergantungan hanya kepada Allah.
Baca Juga: Dua Santri Kuttab Qur’an MIM Raih Juara Lomba Tartil Juz 30
Peran Puasa dalam Menata Jiwa dan Menjernihkan Pikiran
Secara umum, ibadah puasa secara praktis dapat membantu penyucian jiwa. Dengan menahan lapar, haus, dan syahwat, seseorang sebenarnya sedang mengurangi motivasi untuk melakukan perbuatan negative.
Kondisi perut yang tidak penuh membantu seseorang untuk berpikir lebih jernih, lebih tenang, dan menjadikan jiwa lebih produktif serta selalu berprasangka baik (positive thinking).
Rasulullah mengingatkan terkait hal ini bahwa:
وَعَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “مَا مَلأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِ.” أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ.
Dari Al Miqdam bin Ma’di karib Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Tidaklah anak cucu Adam memenuhi suatu tempat yang lebih buruk daripada perutnya”. (HR. Tirmidzi, hadist hasan).
Sumber: Ustadz Aswanto Muhammad Takwi (Program MIM Talk Spesial Ramadan Episode 4)
