Home Uncategorized Khutbah Jum’at: Belajar dari Perang Badar (Edisi 107, 16 Ramadhan 1447 H)

Khutbah Jum’at: Belajar dari Perang Badar (Edisi 107, 16 Ramadhan 1447 H)

0

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Belajar dari Perang Badar’ (Edisi 107, 16 Ramadhan 1447 H).

Naskah selengkapnya:

BELAJAR DARI PERANG BADAR…

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Di antara keberkahan bulan Ramadhan ini, ada satu hari yang Allah abadikan sebagai “hari besar” bagi umat ini: Yaumul Furqan—hari pembeda antara hak dan batil, hari bertemunya dua pasukan; hari ketika Allah memuliakan tentara-Nya, menolong hamba-Nya, menghinakan musuh-Nya, dan menegakkan panji bagi orang-orang yang setia pada-Nya. Itulah hari terjadinya Perang Badar, perang yang bukan sekadar kisah sejarah untuk dibaca, bukan sekadar materi ceramah untuk didengar, tapi pelajaran hidup yang semestinya kita “hidupi” dengan iman dan amal.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah…

Badar adalah bukti nyata bahwa pertolongan Allah itu dekat bagi siapa pun yang benar-benar beriman kepada-Nya. Ketika para pejuang Badar datang kepada Allah dengan hati yang jujur, ikhlas, dan bersih dari ketergantungan pada dunia; ketika mereka menaruh satu tujuan di dalam jiwa: agar Kalimatullah menjadi yang paling tinggi, dan selainnya hina di bawahnya; maka turunlah firman Allah:

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [الأنفال: 17]

Artinya: “Bukan kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka. Dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. Dan agar Allah menguji orang-orang beriman dengan ujian yang baik dari sisi-Nya. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Perhatikan, jamaah sekalian. Allah mengajarkan akidah yang paling agung: kemenangan sejati bukan hasil otot, bukan semata strategi, bukan sekadar jumlah dan senjata. Sebab itu semua hanyalah sebab. Yang menentukan hasil adalah Allah. Namun Allah mengikat pertolongan-Nya dengan iman yang benar, tawakal yang lurus, dan ketaatan yang jujur.

Badar terjadi setelah Rasulullah ﷺ dan para sahabat menetap di Madinah. Mereka mulai merasakan ketenangan setelah hijrah; jiwa mereka lebih tenteram setelah luka-luka Makkah, setelah tekanan, boikot, siksaan, dan pengusiran. Tetapi justru itulah yang membuat musuh Allah semakin panas: mereka tidak rela Islam punya negeri, punya pemimpin, punya kekuatan, punya kehormatan.

Dan begitulah sunnatullah: kebatilan tidak pernah tenang ketika melihat kebenaran berdiri. Konflik antara hak dan batil akan terus ada sampai kiamat. Maka jangan heran jika di setiap zaman, ada saja orang yang benci ketika Islam dijalankan dengan benar, benci ketika sunnah ditegakkan, benci ketika seorang hamba ingin taat dan bersih dari maksiat.

Namun, jamaah yang dirahmati Allah…

Badar juga mengajarkan kepada kita: meski musuh membenci, seorang mukmin tidak boleh menjual agamanya demi diterima. Jalan keselamatan bukan mengikuti selera manusia, tapi mengikuti wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Lihatlah pasukan Badar: sekitar tiga ratus lebih sedikit.

Dari sisi jumlah dan perlengkapan, mereka kalah. Banyak yang tidak beralas kaki, pakaian mereka bertambal, perbekalan mereka minim.

Tetapi Allah muliakan mereka karena hati mereka penuh tauhid dan yakin. Di dalam hadits yang shahih, Nabi ﷺ menyebut keutamaan para Sahabat pejuang Badar, sampai-sampai Allah memandang mereka lalu berfirman:

اعْمَلُوا ما شِئْتُمْ فقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Beramallah kalian sesuka kalian, sungguh Aku telah mengampuni kalian.” (Muttafaq ‘alaih).

Bukan berarti mereka bebas bermaksiat, tetapi ini menunjukkan kedudukan mereka yang sangat tinggi karena kejujuran iman dan pengorbanan mereka.

Maka pelajaran pertama dari Badar adalah: luruskan tauhid, bersihkan niat, ikhlaskan amal. Kemenangan hakiki dimulai dari hati: apakah Allah yang paling kita cari, atau dunia yang paling kita kejar? Apakah ridha Allah yang paling kita takutkan hilang, atau pujian manusia yang paling kita banggakan?

Pelajaran kedua: sabar dan takwa adalah kunci pertolongan. Allah berfirman:

بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ [آل عمران: 125]

Artinya: “Ya, jika kalian bersabar dan bertakwa… niscaya Rabb kalian akan membantu kalian dengan lima ribu malaikat yang memiliki tanda.”

Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar adalah tetap taat ketika berat, tetap lurus ketika godaan datang, tetap di jalan Allah meski sendirian, dan tetap menjaga batasan syariat ketika dunia menawarkan jalan pintas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada sabar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

وجدنا ألذ عيشنا بالصبر

 “Kami dapati hidup yang paling nikmat itu dengan sabar.” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq).

Jamaah sekalian…

Berapa banyak yang hari ini sempit rezekinya?

Berapa banyak yang diuji dengan sakit, konflik rumah tangga, hutang, fitnah medsos, anak yang sulit diatur, pekerjaan yang menekan, atau hati yang gelisah?

Ambillah cahaya Badar: sabar dan takwa. Jangan jadikan ujian sebagai alasan untuk bermaksiat. Jangan jadikan kesulitan sebagai pembenar untuk melanggar syariat.

Pelajaran ketiga: Allah tidak menyia-nyiakan orang yang bertakwa dan bersabar. Dengarkan ucapan Yusuf ‘alaihissalam:

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ [يوسف: 90]

“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

Maka bersabarlah, karena jika bumi terasa sempit, ingat: pintu langit tidak sempit bagi doa orang yang ikhlas.

Jika malam terasa panjang, ingat: di balik malam ada fajar.

 Jika jalan terasa terjal, ingat: Surga itu mahal, dan jalannya tidak mungkin rata.

Pelajaran keempat: persatuan hati, kasih sayang, dan ukhuwah. Para sahabat di Badar sedikit jumlahnya, tetapi mereka satu aqidah, satu kiblat, satu tujuan. Tidak sibuk merobek barisan dengan fanatisme kelompok dan slogan. Mereka saling mencintai karena Allah, saling menolong dalam ketaatan. Maka Allah angkat derajat mereka.

Kalau kita melihat kaum muslimin saling mencela, saling memutus, saling menjatuhkan karena kepentingan dunia, karena urusan remeh, karena ego dan gengsi; maka takutlah: itu sebab terangkatnya keberkahan dan tertundanya pertolongan.

Pelajaran kelima: kekuatan iman adalah senjata paling tajam. Musuh mungkin tidak gentar dengan apa yang kita miliki secara materi, tetapi mereka gentar dengan iman yang melahirkan keberanian, kejujuran, dan keteguhan. Allah berfirman:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ [آل عمران: 160]

“Jika Allah menolong kalian, tak ada yang dapat mengalahkan kalian. Jika Allah meninggalkan kalian, siapa lagi yang bisa menolong kalian?”

Maka kita harus selalu bermuhasabah, jamaah sekalian:

Apakah iman kita mengokoh, atau melemah?

Apakah tauhid kita sudah lurus dan bersih, atau masih ternoda syirik?

Apakah shalat kita terjaga, atau bolong?

Apakah Al-Qur’an hidup di rumah kita, atau hanya jadi hiasan?

Apakah lisan kita basah dengan dzikir, atau basah dengan ghibah dan dusta?

Apakah mata kita dijaga dari haram, atau dibiarkan liar?

Dan di bulan Ramadhan ini, jamaah sekalian, khususnya menjelang sepuluh malam terakhir, Allah memberi kita kesempatan emas untuk mengisi ulang iman. Nabi ﷺ jika masuk sepuluh terakhir, beliau bersungguh-sungguh. “Beliau mengencangkan kesungguhan, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya.” (Muttafaq ‘alaih).

Inilah madrasah iman, agar kita keluar dari Ramadhan bukan hanya lapar dan haus, tetapi keluar sebagai hamba yang lebih bertakwa.

Maka, jamaah Jumat yang berbahagia…

Tetap hidupkan malam-malam itu dengan shalat, tilawah, istighfar, sedekah, dan doa. Jangan tertipu: kesempatan tidak selalu datang dua kali. Allah mengingatkan:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [لقمان: 34]

“Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Kita tidak tahu apa yang terjadi besok. Kita tidak tahu di mana kita wafat. Maka jangan tunda taubat, jangan tunda amal.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Kita telah mengingat pelajaran besar dari Badar: lurusnya tauhid, ikhlasnya niat, sabar dan takwa, kuatnya ukhuwah, dan tajamnya iman. Sekarang kita kuatkan satu pelajaran yang sangat agung: doa dan istighatsah kepada Allah.

Allah berfirman tentang Badar:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ [الأنفال: 9]

“Ingatlah ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu Dia mengabulkan: ‘Aku akan membantu kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jamaah sekalian: beliau telah menyusun barisan, mengambil sebab, memimpin pasukan; tetapi hati beliau bergantung penuh kepada Allah. Inilah tawakal yang benar: mengambil sebab dengan maksimal, lalu menyerahkan hasil kepada Rabb semesta alam.

Maka pelajaran untuk kita: jangan remehkan doa. Jangan merasa cukup dengan kepintaran dan harta. Jangan merasa aman hanya karena koneksi dan jabatan. Jika Allah tidak menolong, semua sebab runtuh. Dan jika Allah menolong, sebab kecil pun menjadi besar.

Karena itu, di penghujung Ramadhan ini, ketika sepuluh terakhir datang nanti, jangan biarkan ia berlalu tanpa tangisan taubat dan ketukan doa. Kita sedang mendekati malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul qadr.

Nabi ﷺ mengajarkan doa yang agung kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha saat mencari Lailatul Qadr:

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan banyak ulama).

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Betapa kita butuh ampunan Allah. Dosa kita banyak, kelalaian kita panjang, usia kita terbatas. Jangan pulang dari Ramadhan dengan tangan kosong. Jadikan sepuluh terakhir sebagai “Badar” pribadi kita: medan jihad melawan hawa nafsu, medan perang melawan malas, medan kemenangan melawan syahwat dan syubhat. Menang bukan dengan sorak-sorai, tetapi dengan sujud panjang dan hati yang tunduk.

Hidupkan rumah-rumah kita dengan shalat. Bangunkan keluarga untuk qiyam. Ajarkan anak-anak untuk mencintai masjid, mencintai Al-Qur’an, mencintai doa. Jangan biarkan generasi kita belajar keberanian dari film dan kebatilan, sementara keberanian Badar kita tinggalkan. Tanamkan pada mereka kehormatan iman, kemuliaan akhlak, dan kebanggaan menjadi hamba Allah.

Kemudian, wahai kaum muslimin…

Jagalah ukhuwah. Maafkan saudara. Putuskan rantai dengki. Hentikan ghibah dan fitnah. Jangan jadikan perbedaan yang kecil sebagai alasan untuk saling membenci. Kuatkan barisan di atas aqidah yang lurus dan sunnah Nabi ﷺ. Karena pertolongan Allah turun kepada hati yang bersih, bukan kepada hati yang penuh iri.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ  

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version