mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Meski Dosamu Setinggi Langit’ (Edisi 121, 26 Dzulhijjah 1447 H).
‘MESKI DOSAMU SETINGGI LANGIT…’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan hanya tampak dalam lisan, tetapi hidup dalam hati dan mewarnai hari-hari kita sepanjang hayat. Takwa yang membuat kita takut kepada dosa, tetapi tidak putus asa dari rahmat Allah. Takwa yang membuat kita malu ketika bermaksiat, namun tak pernah lelah untuk pulang bertaubat kepada-Nya.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Di antara hadits yang sangat agung, yang membuka pintu harapan bagi hati yang letih karena dosa, adalah hadits qudsi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:
“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي؛ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي؛ غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا؛ لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas apa pun yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosamu mencapai setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. at-Tirmidzi).
Allahu Akbar. Betapa luas rahmat Allah. Betapa lembut panggilan-Nya memanggil kita: “Wahai anak Adam…”
Seakan-akan Allah memanggil kita semua, yang sering lemah, sering lalai, sering kalah oleh hawa nafsu, sering menyesal setelah berbuat salah.
Allah tidak memanggil, “Wahai pendosa, pergilah…” Tetapi Allah memanggil, “Wahai anak Adam, datanglah, berdoalah, berharaplah, beristighfarlah, bertauhidlah.”
Namun, jamaah sekalian, hadits ini bukan izin untuk meremehkan dosa.
Hadits ini bukan pintu untuk berkata, “Tidak mengapa bermaksiat, nanti Allah mengampuni.”
Sama sekali bukan. Hati yang benar justru semakin malu kepada Allah ketika mengetahui betapa luas ampunan-Nya. Orang yang mengenal rahmat Allah tidak menjadikan rahmat itu sebagai alasan untuk terus bermaksiat, tetapi menjadikannya sebagai jalan untuk segera kembali.
Hadits ini menunjukkan kepada kita semua 3 sebab besar turunnya ampunan Allah kepada kita:
Pertama, doa yang disertai harapan kepada Allah. Allah berfirman dalam hadits tadi:
إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي؛ غَفَرْتُ لَكَ
“Selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu.”
Doa bukan sekadar ucapan. Doa adalah pengakuan bahwa kita lemah dan Allah Mahakuat. Doa adalah tanda bahwa kita masih punya hubungan dengan Rabb kita. Orang yang berhenti berdoa sering kali bukan karena dosanya terlalu besar, tetapi karena harapannya kepada Allah mulai padam. Padahal Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.’” QS. Ghafir: 60.
Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Maka jangan berinteraksi dengan Allah dengan hati yang putus asa. Jangan berkata, “Dosaku terlalu banyak, Allah tidak mungkin mengampuniku.”
Siapakah kita sehingga membatasi rahmat Allah? Dosa kita memang besar, tetapi ampunan Allah jauh lebih besar. Kesalahan kita memang banyak, tetapi rahmat Allah tidak pernah habis.
Marilah kita merenung sejenak…
Berapa banyak dosa yang kita lakukan lewat mata? Berapa banyak kata yang melukai orang lain? Berapa banyak waktu yang habis dalam kelalaian?
Di zaman ini, dosa bisa masuk melalui layar kecil di tangan kita. Ghibah, fitnah, komentar kasar, tontonan haram, riya, iri hati, membuka aib orang lain, semua bisa terjadi dalam hitungan detik. Tetapi dalam detik yang sama pula, seorang hamba bisa menundukkan kepala dan berkata: “Ya Allah, ampuni aku.”
Kedua, istighfar yang jujur. Allah berfirman:
لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي؛ غَفَرْتُ لَكَ
“…Seandainya dosamu mencapai setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu…”
Istighfar bukan hanya ucapan “astaghfirullah” di lisan, sementara hati masih mencintai dosa, tubuh masih mengejarnya, dan rencana masih disusun untuk mengulanginya.
Istighfar yang benar adalah istighfar yang disertai penyesalan, berhenti dari maksiat, bertekad tidak kembali, dan bila dosa itu berkaitan dengan hak manusia, maka hak itu dikembalikan atau dimohonkan maaf.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” QS. az-Zumar: 53.
Perhatikan dan renungkan pesan Allah dalam ayat ini…
Allah tidak mengatakan, “Wahai hamba-Ku yang suci.” Tetapi Allah memanggil, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri.” Seakan-akan ayat ini turun untuk orang yang merasa dirinya sudah terlalu jauh. Untuk orang yang menangis diam-diam karena masa lalunya. Untuk orang yang malu mengangkat tangan karena merasa kotor. Allah berkata: jangan putus asa.
Di antara doa istighfar yang paling agung adalah Sayyidul Istighfar atau raja dan penghulunya istighfar, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau.”
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Ketiga, tauhid. Inilah sebab terbesar ampunan. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا؛ لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi.”
Tauhid adalah fondasi agama. Tauhid adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah.
Kita berdoa hanya kepada Allah, berharap hanya kepada Allah, bertawakal hanya kepada Allah, menyembelih ibadah hanya untuk Allah, takut dengan takut ibadah hanya kepada Allah. Tidak meminta keselamatan kepada penghuni kubur, tidak menggantungkan nasib kepada benda-benda, tidak meyakini ada makhluk yang mampu memberi manfaat dan mudarat secara gaib tanpa izin Allah.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ، وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” QS. an-Nisa’: 48.
Maka jagalah tauhid, wahai kaum muslimin…
Ajarkan tauhid kepada anak-anak kita. Jangan hanya ajarkan mereka sukses dunia, tetapi ajarkan mereka mengenal Rabbnya. Jangan hanya takut anak kita miskin harta, tetapi takutlah jika hatinya miskin tauhid. Sebab dosa sebesar bumi masih berada di bawah kehendak Allah bagi seorang muwahhid. Tetapi syirik adalah kezaliman terbesar yang merusak pondasi ibadah.
Ringkasnya, hadits yang kita dengar tadi mengajarkan tiga jalan besar menuju ampunan: berdoa kepada Allah dengan penuh harap, memperbanyak istighfar dengan taubat yang jujur, dan menjaga tauhid sampai akhir hayat.
Marilah kita pulang kepada Allah dan bertaubat hari ini. Bukan besok. Bukan nanti ketika tua. Bukan setelah semua urusan dunia selesai. Karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan malaikat maut mengetuk pintunya. Jangan menunggu hati menjadi sempurna untuk bertaubat. Justru dengan taubat hati akan diperbaiki.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Jangan pernah meremehkan dosa. Dosa kecil yang terus-menerus dilakukan bisa membahayakan hati. Tetapi jangan pula berputus asa. Sebab putus asa dari rahmat Allah adalah perangkap setan.
Setan ingin kita jatuh dalam dosa, lalu setelah jatuh ia membisikkan: “Sudahlah, engkau tidak layak kembali.” Padahal Rabb kita memanggil: “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu.”
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Di antara tanda tauhid yang hidup adalah hati yang mudah kembali kepada Allah. Ketika tergelincir, ia tidak membela dosa. Ketika salah, ia tidak sibuk mencari alasan. Ia menangis, menyesal, memperbaiki diri, dan memohon ampun. Inilah hamba yang dicintai Allah. Nabi ﷺ bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang banyak bertaubat.”
Maka jangan jadikan masa lalu sebagai penjara. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran. Jangan jadikan dosa sebagai alasan menjauh dari masjid, menjauh dari Al-Qur’an, menjauh dari orang-orang saleh.
Justru ketika banyak dosa, kita lebih membutuhkan masjid. Kita lebih membutuhkan Al-Qur’an. Kita lebih membutuhkan sujud. Kita lebih membutuhkan istighfar di waktu sahur, air mata di malam hari, dan doa yang tulus.
Marilah kita berdoa kepada Allah…
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dosa guru-guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, teguhkan kami di atas tauhid. Jauhkan kami dari syirik yang tampak maupun yang tersembunyi. Jadikan hati kami bergantung hanya kepada-Mu. Jadikan lisan kami basah dengan dzikir dan istighfar. Jadikan akhir hidup kami husnul khatimah.
Ya Allah, perbaikilah keluarga kami. Jadikan rumah-rumah kami rumah yang mengenal shalat, Al-Qur’an, sunnah Nabi-Mu, dan akhlak yang mulia. Lindungi anak-anak kami dari fitnah syahwat dan syubhat, dari pergaulan buruk, dari tontonan yang merusak, dan dari jalan yang menjauhkan mereka dari-Mu.
Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin. Bimbinglah para pemimpin kami kepada keadilan dan kebaikan. Anugerahkan kepada mereka rasa takut kepada-Mu dalam mengurus rakyat. Jagalah negeri kami dari kerusakan, perpecahan, kezaliman, bencana, dan fitnah yang tampak maupun tersembunyi.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
